by

Membangun Demokrasi Ala Golkar Baru

-Gagasan-1,681 views

Oleh: Fagi Fakaubun

AMBON,MRNews.com,- Demokrasi sebagai suatu konsep dan pemikiran pada dasarnya berkembang di Yunani Kuno, yaitu dengan pencetusan gagasan (idea) pada Tahun 431 SM oleh filosof besarnya Pericies. Beberapa filosof lain setelahnya baik di Yunani sendiri maupun di Romawi seperti “ Plato (429-347 SM), Aristoteles (384-322 SM), Polybius (204-122 SM), dan Cicero (106-43 SM) turut pula menyempurnakan konsep ini. Meskipun sedemikian tuannya konsep dan pemikiran ini dalam prakteknya selama ratusan tahun, tidak terlalu menarik perhatian untuk dipraktikkan dalam pemerintahan dan kenegaraan.

Sejarah dan perkembangan demokrasi berikutnya ditandai dengan munculnya Aufkalrung dan renaisans di dunia barat pada abad pertengahan setelah sedemikian lama berada dalam masa masa kegelapan dalam kekuasaan mutlak gereja dan kerajaan. Lahirnya para filosof seperti Niccolo Marchiaveli (1467-1527), Thomas Hobbes (1588-1679), Jhon Locke (1632-1704) dan lain sebagainya yang mengusung pemikiran demokrasi sebagai reaksi atas kesewenang wenangan raja turut pula memunculkan kembalinya tentang pentingnya penerapan demokrasi beserta prinsip-prinsipnya dalam berbagai sisi kehidupan, terutama dalam bernegara.

Meskipun masing-masing filosof memiliki Style dalam mengekspresikan demokrasi secara teknis menurut konsepnya masing masing, seperti Marchiaveli dengan politik kekerasannya. Sampai pada era revolusi Prancis adalah awal dari praktek demokrasi ini karena Prancis telah memasukkan demokrasi kedalam Undang undang dasarnya dibawah judul atau bab tentang hak hak asasi manusia pasal 3, “rakyat adalah gudang dan sumber kekuasaan”.

Setiap lembaga atau individu yang memegang kekuasaan, tidak lain adalah mengambil kekuasaannya dari rakyat. Berikutnya ketentuan pasal tersebut dimuat kembali pada perubahan Undang undang Dasar Tahun 1791, dimana disebutkan bahwa segala kepemimpinan adalah milik rakyat. Ekspresi Kebangsaan kita saat ini adalah gambaran semakin matangnya bangsa kita menyelami konsep berdemokrasi. Demokrasi memang sebuah sarana yang elegan dalam menghantarkan bangsa kita kepada cita cita luhur pendiri bangsa yang Indonesia-nya adalah tanah air yang adil, makmur dan sejahtera.

Dibalik itu semua tentu masih ada plus mines nya piranti demokrasi kita yang belum berkontribusi secara baik dalam mencapai tujuan besar bangsa yang adil makmur dan sejahtera. Kenapa demikian, karena dalam prakteknya dasar pijakan bermokrasi kita masih diekpresikan dengan semangat kapitalisme. Stakeholder demokrasi kita terutama partai politik lebih nyaman dalam mempraktekkan paham bahwa politik adalah kepentingan dan kapital, bukan Mensejahterakan.

Oleh karenanya demorasi kita memang lahir dari peran dan dinamika partai politik. Sehingga sewarna apapun politik kita itulah model demokrasi kita. Partai Golkar sebagai salah satu unsur penting penggerak dinamika demokrasi di Negeri ini, memang harus diakui telah memiliki pengalaman yang cukup mempuni mewarnai segala proses demokrasi yang ada. Resources yang dimiliki Partai Golkar baik dari sisi kematangan organisasinya maupun kualitas Sumberdaya Manusianya cukup memberikan andil yang besar dalam kemajuan bangsa kita, dan itulah fakta politik Golkar dalam mewarnai sistem demokrasi kita.

Tentunya perbedaan zaman dan masa dari setiap perkembangan partai Golkar dari periode ke periode memiliki tantangan yang semakin hari semakin tinggi tingkat chalangingnya! Sebagai partai politik, tentunya selain fungsi utamanya adalah menjadi jembatan bagi kepentingan rakyat melalui wakilnya yang duduk di parlemen, tantangan terberat adalah bagaimana menaklukkan kompetitornya dalam setiap moment politik yang berlangsung.  Bukan cuman partai Golkar yang hanya ingin survive dan memenangi setiap pertarungan politik, akan tetapi semua partai pun menginginkan hal yang sama, dan disinilah tantangan partai Golkar untuk keluar sebagai Champion.

Dan fakta pula yang membuktikan bahwa Golkar selalu diperhitungkan dan sulit dikalahkan disetiap kompetisi politik. Persoalannya sekarang dalam era milenial ini apakah Golkar masih mampu menjadi Steam engine dinamika demokrasi itu? Cermatan saya, dinamika yang dipahami banyak kader Golkar saat ini adalah konsep dinamika yang keluar dari konsep dan kerangka berpikir yang sesungguhnya. Kita melihat memang banyak persoalan yang mampu diatasi dan disolusikan ketika partai menghadapi persoalan melalui dinamika internal yang ada. Namun apakah itu dinamika yang diharapkan? bagiku tidak.

Karena kondisi ini bagaikan kita membuat sejumlah pertanyaan kepada orang tertentu tetapi lalu kemudian kita menjawabnya sendiri pertanyaan tersebut. “Semestinya dinamika itu muncul karena kemampuan menerapkan strategi dan taktik terhadap bacaan kondisi kompetitor kita, bukan sebatas persoalan internal saja”. Kalau cuman persoalan internal tidak perlu ada dinamika yang kental dalam mewarnai proses penyelesaiannya, karena masalah internal biasanya lebih pada persoalan yang sudah baku cara penyelesainnya dalam AD/ART.

Hanya butuh sedikit kecakapan kepemimpinan bagi seorang untuk menyelesaikan persoalan, bagaimana dia mampu memanage persoalan atau bagaimana menjalankan manajemen konflik bagi seorang pemimpin. Karena Kader Golkar itu disiapkan tuk menjadi pemimpin, maka kecakapan, integritas dan loyalitas harus menjadi modal dasar setiap kader Golkar. Sedikit melihat fenomena lokalistik kita di Maluku, intensitas persoalan hampir setiap saat selalu mewarnai kepengurusan Golkar di 11 Kabupaten Kota.

Umumnya selalu terbelit dengan persoalan persoalan klasik, ketidak efektifan kepemimpinan dan lemahnya integritas berpartai. Dampak dari itu semua, munculnya persoalan penonaktifan beberapa DPD II yang kemudian berdampak pada friksi friksi antar pengurus di semua level kepengurusan baik provinsi maupun kabupaten/kota. Meskipun persoalannya dapat terselesaikan dengan baik karena kematangan organisasi Golkar, namun paling tidak cukup memberikan dampak terhadap psikologi kepengurusan dan kinerja organisasi.

Akhir tulisan ini, ada hal penting yang perlu direnungkan bagi semua kader Golkar terbaik Maluku bahwa : 0. Melahirkan kondisi berpartai yang harus mengedepankan kualitas dan profesional. 0. Mengelolah partai dengan pola manajemen yang baik, jangan selalu di campurkan manajemen dengan pendekatan politik. 0. Harus melakukan evaluasi secara intens terhadap kinerja partai secara berkala. Jika Golkar dikelola secara profesional dengan minimal mengikuti konstruk berpikir demikian maka dipastikan Golkar kedepan semakin bersinar secara politik maupun secara kelembagaannya. Semoga bermanfaat, terima kasih!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed