AMBON,MRNews.com,- Sebagai daerah yang memiliki sejarah kelam akibat terjadinya konflik di Tahun 1999 silam, kini Maluku tidak dilihat sebagai daerah konflik lagi, tetapi menjadi laboratorium perdamaian.
Dengan itu, Maluku sudah cukup matang, dalam mengdapai dalam proses-proses berdemokrasi 2024 mendatang.
“Saya optimis, 2024 nanti, akan kita jalani dengan penuh kedamaian. Sembari berharap aparat Pemilu, seperti KPU dan Bawaslu serta jajaran dibawahnya bisa jalankan tanggungjawab mereka, dengan netral, agar tercipta Maluku yang damai,” tandas tokoh agama GPM, Pdt. Chr Jhon Ruhulessin di Ambon, Sabtu (24/9).
Dikatakan Ruhulessin, 2024 merupakan tahun politik karena ada Pemilu serentak yaitu Pileg, Pilpres dan Pilkada. Dan biasanya, tahun-tahun politik menyita banyak energi, sehingga pertarungan politik secara nasional, juga bisa terjadi di daerah.
Oleh sebab itu sebagai pimpinan umat, dirinya selalu ingatkan, baik umat, maupun masyarakat masing-masing, untuk melihat, bahwa Pemilu atau proses-proses politik ini bukan segala-galanya, tapi sementara.
“Oleh karena itu, mari kita mengembangkan sebuah iklim demokrasi yang betul-betul substansial,” tukas mantan Ketua Umum MPH Sinode GPM itu.
Dalam proses itu, Ruhulessin juga mengajak semua pihak agar membangun kesadaran berdemokrasi pendidikan politik terutama oleh partai-partai politik, kepada para kadernya, dan pimpinan umat ke masyarakat.
“Mari kita bangun tatanan kehidupan berdemokrasi. Karena indeks demokrasi Indonesia ini harus kita pulihkan. Saya optimis, sejak konflik 1999 sampai sekarang, meski ada kerikil-kerikil kecil, tapi tidak ada Pemilu yang gagal. Itu menunjukan Maluku cukup matang,” tandasnya.
Selain itu, menurutnya, untuk membangun Maluku yang damai, maka diperlukan perjumpaan maupun silaturahmi antar sesama baik tokoh-tokoh agama maupun yang lainnya.
“Ini harus kita bangun, tanpa itu kita tidak
mungkin membangun Maluku yang damai. Namun kita pun juga harus terus berdoa, agar pembangunan bangsa ini terus berjalan, agar keadilan terus kita wujudkan demi Indonesia yang dicintai,” tuturnya.
Dengan ini, maka ketika Maluku didatangi orang-orang dari luar, mereka tidak lagi melihat konflik ada di tanah ini, tetapi untuk melihat perdamaian dengan proses kehidupan bersama.
Karena itu, walau dengan pengalaman konflik, tetapi bicara Kamtibmas, tentang kehidupan bersama, maka harus diakui Maluku sudah damai. Dan perdamaian untuk kehidupan bersama itu, harus terus dirawat.
“Ketika tidak kita rawat, maka saat ada hal-hal kecil saja, itu bisa mengganggu kenyamanan. Yang terjadi di Maluku ini, semua pimpinan umat, tokoh agama, tokoh adat, itu betul-betul punya komitmen kuat untuk merawat perdamaian,” urainya.
Sebab tambah Ruhulessin, tidak akan pernah mungkin, Maluku dapat dibangun dalam kondisi tidak damai. Maka, menjaga, merawat dan memelihara kehidupan bersama, itu menjadi penting. Karena Maluku juga menjadi “Indonesia mini”. (MR-02)








Comment