AMBON, MRNews.Id.- Ketua Forum Anak Maluku Manise, Aurelle Pentury, menegaskan bahwa pernyataan Suara Anak yang dibacakan dan diserahkan kepada Gubernur Maluku setiap peringatan Hari Anak Nasional selama ini belum pernah diikuti langkah konkret.
“Selama ini Suara Anak hanya dibacakan dan diserahkan, tetapi tidak ada tindak lanjut. Setelah ini kami berharap ada jawaban nyata dari pemerintah dan para pemangku kepentingan. Jangan sampai hanya berhenti sebagai seremonial tahunan,” kata Aurelle kepada wartawan di Ambon, Kamis (23/7/2026).
Menurutnya, suara yang disampaikan bukan sekadar rangkaian acara, melainkan curahan hati anak-anak Maluku mengenai berbagai persoalan yang mereka hadapi setiap hari.
Aurelle mengatakan, masih banyak kebutuhan dasar anak yang belum terpenuhi, mulai dari kepemilikan Kartu Identitas Anak (KIA) dan akta kelahiran, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), hingga minimnya ruang berekspresi dan berkreasi bagi anak.
“Kalau suara anak tidak didengar, maka semua upaya yang dilakukan akan sia-sia. Kita sering berbicara tentang isu besar, padahal kebutuhan dasar anak saja masih banyak yang belum terpenuhi,” ujarnya.
Forum Anak Maluku Manise, yang saat ini telah terbentuk di Kota Ambon, Kota Tual, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku Tenggara, dan Buru, berfungsi sebagai jembatan antara anak dan pemerintah dalam menyampaikan aspirasi.
Selain persoalan administrasi kependudukan, Forum Anak juga menyoroti tingginya angka pernikahan usia anak di Maluku.
Menurut Aurelle, praktik tersebut masih dipengaruhi berbagai faktor, seperti perjanjian keluarga, utang budi, hingga tradisi yang berlangsung turun-temurun, terutama di daerah 3T.
“Kami ingin menyampaikan kepada orang tua bahwa anak memiliki hak untuk dilindungi dan menentukan masa depannya,” tegasnya.
Tak hanya itu, Forum Anak juga meminta perhatian terhadap penyediaan fasilitas publik yang ramah anak, khususnya bagi penyandang disabilitas. Kerusakan trotoar dan minimnya aksesibilitas dinilai masih sering diabaikan, padahal berdampak langsung terhadap mobilitas anak-anak penyandang disabilitas.
Melalui momentum Hari Anak Nasional, Forum Anak Maluku Manise berharap pemerintah tidak sekadar mendengar suara anak sekali dalam setahun, tetapi menjadikannya sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan yang benar-benar berpihak pada kepentingan terbaik bagi anak. (**)







Comment