AMBON,MRNews.com,- Kesuksesan menurunkan kasus malaria dalam 10 tahun terakhir di Kota Ambon, Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon pun “diganjar” dengan apresiasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia.
Arena Sirkuit Mandalika di Nusa Tenggara Barat (NTB) pun jadi “saksi” penghargaan sertifikat eliminasi Malaria diberikan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, Maxi Rein Rondonuwu mewakili Menkes, yang diterima Sekretaris Kota (Sekkot) Ambon Agus Ririmasse, Selasa (31/5).
Sekkot tak sendiri saat terima penghargaan tersebut yang bertepatan dengan peringatan hari Malaria Sedunia. Dia didampingi Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Ambon Wendy Pelupessy, Kabid P2P Dinkes Ambon Remes Talle.
Kepada media ini via seluler, Sekkot mengaku bersyukur atas diterimanya penghargaan tersebut. Sebab menunjukkan apa yang dilakukan selama ini oleh Pemkot Ambon, dengan leading sektor di Dinkes untuk menurunkan kasus Malaria tidak sia-sia.
“Pemkot Ambon bersyukur atas apresiasi itu. Namun sesungguhnya penghargaan ini mesti dipersembahkan untuk semua warga kota Ambon dan jajaran Dinkes, dokter dan tenaga medis yang bekerja keras,” tandas Ririmasse.
Penghargaan dari Kemenkes itu menurut Ririmasse, sesungguhnya bukan untuk dibangga-banggakan. Namun harus menjadi spirit dan motivasi bagi seluruh ASN Pemkot Ambon untuk terus bekerja lebih baik mempertahankan apa yang telah dicapai.
“Pemkot tidak bisa kerja sendiri tanpa ada dukungan Forkopimda, DPRD, tokoh agama, tokoh masyarakat dan stakeholder lainnya terutama masyarakat. Oleh karena kerja bersama dan sinergi itulah, apresiasi datang,” jelasnya.

Apalagi sambung dia, jika semua yang dikerjakan pakai hati yang bersih dan penuh ketulusan bagi kemajuan daerah dan kepentingan masyarakat. Tentu bukan mustahil penghargaan lain pun akan datang di tahun ini dan seterusnya.
“Sesuai prinsip yang selalu kita pegang, kerja sama, kerja keras dan kerja cerdas untuk kota Ambon lebih baik, pasti apresiasi akan datang dengan sendirinya baik dari pemerintah pusat, maupun pihak lain yang merasa dampak positif kinerja Pemkot,” kunci mantan Kadis Dukcapil Kota Kupang itu.
Sementara, Kadinkes Ambon Wendy Pelupessy mengaku, kasus malaria di Kota Ambon dalam 10 tahun terakhir terus menunjukan penurunan.
Penurunan itu sejalan dengan pencapaian positif 3 indikator utama dalam pengendalian malaria yaitu : menurunnya Annual Parasite Incidence (API) dan PR (Positivity Rate), serta meningkatnya Annual Blood Examination Rate (ABER)
“3 Syarat Utama Eliminasi Malaria :
Tidak ada penularan setempat (kasus indigenous) selama tiga tahun berturut-turut, Positivity Rate < 5% dan
API < 1 PER 1.000 penduduk” akunya via seluler, Selasa.
Jika melihat 3 syarat utama tersebut maka situasi di Kota Ambon disimpulkan bahwa
kasus Indigenous sudah 3 tahun ini tidak ada. Kasus indigenous terakhir di Ambon terkonfirmasi pada 8 April 2019.
Sementara tahun 2019 Positivity Rate (PR) Kota Ambon 0,86%, tahun 2020 menjadi 0,78%, tahun 2021 naik 1,47%. Walau sudah mencapai target syarat eliminasi (Positivity Rate < 5%), kenaikan pada tahun 2021 terjadi karena penurunan jumlah tes malaria sebagai imbas dari pendemi Covid-19.
Sedangkan untuk Annual Parasite Incidence (API), tahun 2019 API Kota Ambon 0,28, tahun 2020 menjadi 0,12 dan 2021 turun menjadi 0,08 per 1.000 penduduk (API <1 per 1000 penduduk).
“Pencapaian atau hasil positif diatas merupakan hasil kerjasama tim dari para petugas di Puskesmas,” pungkasnya. (MR-02)











Comment