by

Pemprov Beri Perhatian Serius Bagi Suku Mausu Ane

-Maluku-1,519 views

AMBON,MRNews.com,- Bencana yang dialami Komunitas Adat Terpencil (KAT) Suku Mausu Ane, Negeri Maneo Rendah, Kecamatan Seram Utara Timur Kobi, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) akibatkan empat korban jiwa, terus mendapat perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov). Koordinasi terus dilakukan baik dari pemerintah Kabupaten Malteng maupun TNI/Polri.

Saat memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) antara Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Maluku, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku, Dinas Pertanian Provinsi Maluku, Dinas Kesehatan, yang langsung menangani bencana tergolong Kejadian Luar Biasa (KLB) serta Biro Humas dan Protokol Setda Maluku, Kepala Biro (Karo) Hukum dan HAM Setda Maluku, Hendry Far-far mengatakan sejak awal Pemprov telah melakukan koordinasi dan aksi langsung dengan mendistribusikan bantuan.

“Sejak awal, Pemprov Maluku sudah mengambil langkah koordinasi dengan Pemkab Malteng, lalu atas koordinasi itu telah diturunkan bantuan tanggap darurat disana baik dari Pemprov Maluku maupun Kabupaten Malteng. Pemerintah tetap menjaga keutuhan dan keberadaan kehidupan komunitas ini, dengan memberikan bantuan baik bahan pangan maupun obat-obatan,” katanya saat rapat yang berlangsung di ruang kerja Asisten I Setda Maluku, Rabu (1/8/18).

Berkaitan merebaknya informasi terkait relokasi suku Mausu Ane, Far-Far menyebutkan tentunya harus atas persetujuan dan kesepakatan masyarakat adat itu sendiri. “Kalau soal relokasi, itu tidak pernah direncanakan Pemprov Maluku maupun Pemkab Malteng, karena relokasi harus berdasarkan kesepakatan masyarakat adat itu sendiri,” tegasnya.

Sementara, Sekretaris Dinsos Maluku, Frangky Taniwel menjelaskan, pihaknya sejak mengetahui adanya bencana ini, langsung berkoordinasi dengan Dinsos Malteng dan mendistribusikan bantuan berupa beras, matras, selimut dan paket anak-anak serta paket buat warga lanjut usia (Lansia). Adapun Dinsos Malteng memberikan bantuan berupa peralatan masak juga tenda gulung dan selimut. Selain itu, telah dipasang 10 tenda sebagai tempat penampungan sementara yang disepakati bersama.

“Kita juga membentuk tim gabungan yang melibatkan Kemensos dan Dinsos Malteng. Pendampingan psikososial juga dilakukan tim gabungan selama dua hari di lokasi penampungan sementara. Masyarakat umumnya tidak dapat berbahasa Indonesia dan lokasi pemukiman juga sangat jauh dari perkampungan warga lainnya. Jarak tempuh dari lokasi penampungan sementara hanya dapat dilakukan dengan berjalan kaki selama lebih kurang dua hari,” jelas Taniwel.

Menanggulangi bencana oleh komunitas adat, lanjut Taniwel, tentu ditemui permasalahan, antara lain pemukimannya tidak layak dari semua aspek serta tidak dimilikinya sarana lain seperti rumah singgah, balai sosial maupun balai kesehatan. Permasalahan lainnya, perkebunan warga tidak lagi memberi hasil yang dapat menyambung kehidupan mereka termasuk bahan pangan yang telah diberikan pemerintah hanya untuk kurun waktu tertentu.

“Kita telah mengusulkan kepada Kemensos agar pemberian santunan bagi ahli waris korban meninggal serta bantuan jaminan hidup termasuk beras, pakaian dan bahan kebersihan. Juga bantuan keserasian sosial termasuk pembuatan rumah singgah, balai pertemuan, setidaknya ada tempat alternatif yang mudah di akses oleh semua kepentingan,” tuturnya.

Selain pihak Dinsos Maluku, bantuan juga diberikan BPBD Maluku. Bantuan didistribusikan seteleh berkoordinasi dengan berbagai pihak yang langsung turun ke lokasi bencana. BPBD telah melakukan langkah tanggap darurat dalam bentuk penugasan tim pendistribusian bantuan logistik ke lokasi di maksud.“Bantuan logistik yang telah didistribusikn antara lain selimut, sandang, matras, lauk-pauk, makanan siap saji dan tambahan gizi,” ujar Kepala BPBD Maluku, Farida Salampessy.

Sekretaris Dinas Kesehatan Maluku, Doni Rerung, menegaskan bencana itu bukan terkait gizi buruk. Namun pihaknya telah melakukan penanganan cepat setelah ada laporan dengan membentuk tim melibatkan Kemenkes dan Dinkes Malteng. “Tidak benar ada kasus gizi buruk dan bukan karena kelaparan berkepanjangan, tetapi akibat kehabisaan bahan makanan. Setelah petugas lapangan lakukan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan terhadap anggota masyarakat, ada juga yang menderita muntaber akibat minum air sungai yang belum dimasak. Ini juga telah tertangani. Kami menurunkan tim kesehatan dari provinsi, Puskesmas Pasahary B dan Puskesmas Morokay Kabupaten Malteng dan berkoordinasi dengan Dokes Kepolisian dan TNI,” tandas Rerung.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed