Oleh : Marianna Claartje Nussy
Seiring berjalannya waktu, cara menabung dengan menggunakan tabungan celengan ayam (cara tradisional) perlahan mulai ditinggalkan. Padahal versi tabungan ayam paling banyak diminati dari usia anak hingga usia dewasa di Indonesia. Menabung merupakan cara orang tua di era itu untuk mengajarkan anak tentang kedisiplinan menabung, baik itu uang kertas maupun uang koin.
Tabungan dengan melihat bentuk fisik uang sangat digemari terutama anak-anak. Puncak popularitas tabungan ayam ada di era 1980-an hingga Era 1990-an. Dimana sesuai data, sentra gerabah seperti Plered di Purwakarta mulai memproduksi celengan ayam jago dari tanah liat secara massal (data elektrik Geogle).
Pada era kejayaan celengan Ayam dari tanah liat, hampir setiap anak di desa maupun kota memiliki celengan ini di kamarnya. Di Maluku, momen memecahkan celengan ayam dengan batu menjelang masuk sekolah atau hari Natal maupun Idul Fitri menjadi tradisi yang tak pernah dilupakan anak-anak di era itu.
Di tahun 1990-an hingga tahun 2000-an celengan versi ayam jago dari tanah liat mulai mengalami perubahan ke aneka bentuk hewan atau karakter anak yang terbuat dari bahan plastik atau senk yang masih tetap digemari .
Memasuk Era 2000-an, celengan dengan melihat bentuk fisik uang mulai tergeser popularitasnya dan diganti dengan tabungan bank junior dan aplikasi finansial. Kendati demikian, celengan ayam tanah liat maupun celengan kreatif lainnya masih diproduksi hingga kini sebagai barang nostalgia, kerajinan tangan, atau alat menabung .
Dalam pandangan pakar ekonomi dan perencana keuangan, celengan ayam memiliki peran ganda sebagai alat edukasi keuangan dasar namun tidak efisien sebagai akumulasi psikologi keuangan dasar . Untuk perencanaan jangka pendek masih memiliki nilai positif tapi untuk jangka panjang tidak dianjurkan .
Walau tergerus waktu, namun celengan dengan menyimpan uang secara fisik masih tetap di gemari di semua usia. Walau begitu, sesuai zaman maka celengan dengan menggunakan kartu menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.
Dari kenyataan di lapangan, untuk setiap urusan diperlukan kartu elektrik untuk menggeser. Karena itu tabungan digital telah menjadi kebutuhan terutama yang tinggal diperkotaan.
Perbedaan Celengan Ayam & Digital
Menurut pakar ekonomi, uang tunai yang berdiam di celengan tidak menghasilkan bunga. Nilai riil uang tersebut pasti tergerus oleh inflasi dari tahun ke tahun.
Uang dalam celengan berstatus sebagai “uang mati” yang tidak produktif karena tidak ikut memutar roda perekonomian atau menghasilkan compounding interest (bunga berbunga) seperti pada investasi. Metode ini beresiko jika celengan pecah atau rusak, ada risiko fisik seperti uang robek, lembap, atau termakan rayap.
Bahkan menurut pandangan Pakar Keuangan & CEO Zapfinance, Prita Hapsari Ghozie sebagai salah satu perencana keuangan paling terkemuka di Indonesia, ia sering mengedukasi masyarakat di semua umur tentang pentingnya migrasi dari cara menyimpan uang kuno/tradisional (seperti celengan atau di bawah kasur) ke pos-pos keuangan digital terfragmentasi demi keamanan dan efisiensi.
Demikian pula pandangan Founder & CEO Joska/QM Financial, Ligwana Hananto yang aktif menyuarakan pentingnya literasi keuangan digital dan sering membandingkan perilaku menabung konvensional masyarakat Indonesia jaman dulu dengan kepraktisan fitur features budgeting di era bank digital saat ini.
Baik tabungan celengan ayam (tradisional) maupun tabungan digital (modern) merupakan sarana penyimpanan uang yang diminati masyarakat. Untuk perkotaan tabungan digital menjadi pilihan meski begitu masih ada juga yang merasa nyaman dengan tabungan tradiosional. Kalau di pedesaan yang jauh dari akses Internet maka tabungan celengan menjadi pilihan untuk menabung .
OJK Memegang Peran Penting
Pilihan masyarakat untuk menggunakan tabungan digital menjadi perhatian Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Karena itu OJK mengeluarkan rekomendasi agar nasabah tidak dirugikan ketika memilih menabung di Bank.
Pertama, pastikan legalitas bank sebelum membuka rekening. Pastikan bank digital terdaftar resmi dan diawasi oleh OJK.
Kedua, jaga rahasia data pribadi dan tidak memberikan datanya kepada orang lain termasuk pihak bank.
Karena sesuai perkembangan zaman dimana semuanya serba digital maka Otoritas Jasa Keuangan memainkan perannya secara konsisten mengampanyekan gerakan nasional, ‘Ayo Menabung di Bank’ . Cara ini sebagai bentuk mengedukasi masyarakat agar beralih dari menabung secara tradisional ke kartu pintar digital.
Di Maluku, Otoritas Jasa Keuangan menggandeng pemerintah daerah mengkampanyekan menabung digital disambut dengan baik. Bahkan Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku secara aktif menggelar kampanye dan edukasi menabung di berbagai sekolah untuk memperkuat budaya finansial sejak dini. Cara ini menjadi kekuatan bagi OJK untuk mengajak pemerintah, sekolah bahkan orang tua untuk terlibat langsung sebagai tangan-tangan yang turut bekerja mendorong budaya menabung dan meningkatkan literasi serta inklusi keuangan di kalangan pelajar.
Dari berbagai data ditemukan sepanjang tahun 2026, OJK Maluku gencar melakukan kampanye gemar menabung dengan menyasar sekolah-sekolah bahkan perguruan tinggi dengan mengajarkan tiga kebiasaan keuangan sehat, yakni, rutin menabung, menggunakan rekening Simpanan Pelajar (SimPel) dan bijak mengelola uang saku.
Kepala Kepala OJK Provinsi Maluku, Haramain Billady, menargetkan pembukaan sekitar 5.000 rekening baru bagi pelajar melalui koordinasi dengan Pemprov Maluku, pemerintah kabupaten/kota, serta lembaga jasa keuangan.
Bahkan OJK Maluku menyelenggarakan puncak peringatan Hari Indonesia Menabung di Auditorium Universitas Pattimura untuk mendorong inklusi keuangan generasi muda dimana Maluku meraih penghargaan Finacial literasi keuangan 2026 di september lalu.
Aksi OJK didukung penuh oleh Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena dengan menyerukan orang tua untuk membiasakan anak menyisahkan uang saku untuk menabung . Bahkan Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Maluku bersama Pemerintah Kota Ambon meluncurkan Modul Ajar Literasi Keuangan yang diintegrasikan ke dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) untuk jenjang SMP dan MTs pada Mei 2026 dengan menyasar 53 SMP dan 10 MTs dengan tema, ‘Tunas Bangsa Bijak Mengelola Keuangan,Finansial Kuat,Negara Berdaulat.
Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa secara langsung menghadiri Puncak Hari Indonesia Menabung dan Bulan Literasi Keuangan dan mengajak para pelajar di Maluku untuk membangun kebiasaan menabung sejak dini di era digitalisasi sebagai peringatan untuk waspada terhadap ancaman pinjaman online ilegal, judi online, dan investasi bodong.
Ketua DPRD Maluku, Benhur George Watubun turut memberi support kepada OJK yang giat mengkampanyekan menabung digital sebagai upaya agar belajar disiplin mengatur keuangan diri sendiri .
Tabungan Digital Jadi Pilihan
Di era serba digital semua kebutuhan menggunakan kartu digital atau yang disebut kartu pintar menjadi kebutuhan. Sebab itu, masyarakat perkotaan mulai dari anak hingga dewasa sudah memiliki tabungan.
Kendati begitu, tidak semua orang memiliki tabungan di bank. Menurut pernyataan Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena yang disampaikan pada kegiatan Salam Fest X Moluccas Digifest, (April 2026) tingkat digitalisasi keuangan dan transaksi nontunai di Kota Ambon berada di angka lebih dari 60 persen, yang merupakan capaian tertinggi di antara seluruh daerah di Provinsi Maluku.
Maluku dengan 11 kabupaten/kota yang mempunyai luas lautan lebih besar dari daratan menjadi tugas berat OJK Maluku untuk mengkampanyekan tabungan digital.
Kepala OJK Provinsi Maluku, Haramain Billady terus meluaskan edukasi terkait tabungan digital dengan tetap berfokus pada perlindungan konsumen.
OJK gencar mengajak anak-anak dan generasi muda di Maluku untuk mulai membangun kebiasaan menabung secara rutin hingga di pelosok Maluku.






Comment