AMBON,MRNews.Id.- Sebuah pertunjukan yang memadukan musik tradisional, tari, narasi, drama, animasi, dan nilai kebangsaan hadir dalam pembukaan General Staff Meeting (GSM) 2nd Quarter 2026 Hotel Santika Premiere Ambon pada Jumat, 14 Agustus 2026 di The Ballroom Santika, Lantai 5 Hotel Santika Premiere Ambon.
Mengusung tema “Back to Root”, Mini Pagelaran ini dipersembahkan oleh kolaborasi Sales & Marketing Department dan Food & Beverage Service Department sebagai sebuah perjalanan untuk kembali menyadari dari mana manusia berasal, nilai apa yang diwariskan, serta bagaimana akar budaya dapat menjadi kekuatan untuk melangkah menuju masa depan.
Pertunjukan dikonsep bukan sekadar sebagai hiburan pembuka GSM, tetapi sebagai sebuah perjalanan emosional dan reflektif yang membawa penonton dari kekayaan identitas Maluku menuju semangat persatuan Indonesia, kemudian kembali pada nilai persaudaraan yang sangat kuat dalam budaya Maluku: Gandong.
Dari Maluku: Menyapa Akar yang Hidup. Pertunjukan diawali dengan segmen “The Mystical of Maluku”, menghadirkan bunyi Tahuri, Totobuang, dan Hio-Hio yang membawa suasana penonton memasuki atmosfer Maluku yang kuat dan penuh simbol. Bunyi Tahuri menjadi salah satu pintu masuk untuk mengenalkan identitas budaya Maluku. Diikuti narasi mengenai konsep Back to Root, penonton diajak untuk tidak hanya melihat budaya sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai bagian dari identitas yang tetap hidup dan relevan hingga hari ini. Nuansa budaya kemudian semakin kuat melalui penampilan Kapata Henamasawaya, Cakalele, dan Tari Pata Cengkeh. Gerak para penari, irama musik, serta penggunaan elemen visual membawa penonton pada kekayaan sejarah dan budaya Maluku sebagai bagian penting dari perjalanan Nusantara.
Dari Akar Lokal Menuju Jiwa Indonesia. Perjalanan kemudian bergerak dari Maluku menuju Indonesia melalui segmen “The Wonderland Indonesia”.
Video visual Indonesia, tarian, narasi tentang Indonesia, hingga kehadiran Bendera Merah Putih membawa pertunjukan pada pesan yang lebih besar: bahwa keberagaman budaya bukanlah alasan untuk terpisah, melainkan kekuatan yang menyatukan. Adegan pengibaran Merah Putih, pembacaan Proklamasi, hingga momen seluruh penampil menundukkan kepala dalam suasana hening menjadi salah satu titik emosional dalam pertunjukan. Momen tersebut kemudian ditutup dengan seruan bersama “Indonesia Merdeka!” yang disambut antusias oleh seluruh audiens. Pesan tersebut menjadi semakin relevan dengan momentum bulan Agustus, ketika bangsa Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan.
Back to Root mengingatkan bahwa kemerdekaan yang dirayakan hari ini tidak terlepas dari perjalanan panjang, identitas, perjuangan, dan keberagaman yang membentuk Indonesia.
Kembali pada Gandong: Berbeda, Tetapi Bersaudara. Perjalanan pertunjukan mencapai puncaknya melalui segmen “Harmony in Gandong”. Para penampil membentuk lingkaran besar bersama audiens.
Doa Islam dan Kristen kemudian menjadi simbol keberagaman sekaligus keharmonisan yang hidup dalam masyarakat Maluku. Pertunjukan ditutup dengan bernyanyi bersama antara seluruh penampil dan audiens dalam suasana penuh kehangatan. Nilai Gandong—yang menggambarkan ikatan persaudaraan dan rasa memiliki sebagai satu keluarga—menjadi pesan terakhir yang ingin ditinggalkan kepada seluruh penonton. Bukan kebetulan bahwa pertunjukan berakhir dalam sebuah lingkaran.
Lingkaran menjadi simbol bahwa perjalanan kembali ke akar pada akhirnya membawa manusia kembali kepada satu hal yang paling mendasar: kebersamaan.
Sebuah Karya Kolaboratif. Mini Pagelaran Back to Root merupakan hasil kolaborasi lintas talenta dari Sales & Marketing serta Food & Beverage Service Department. Pertunjukan ini dikembangkan oleh tim kreatif yang terdiri dari: Audra Pattiasina — Konseptor & Art Director, Cindy Sabarlele — Co-Director, Prima Lulu — Music Arranger, Jean Manuputty — Multimedia, Clara Leleury — Videographer. Kolaborasi tersebut memadukan berbagai elemen seni pertunjukan, mulai dari musik tradisional Maluku, koreografi, narasi, tata cahaya, multimedia, hingga visual storytelling untuk menciptakan pengalaman pertunjukan yang utuh.
Audra Pattiasina, selaku Konseptor dan Art Director Mini Pagelaran “Back to Root”, menjelaskan bahwa konsep tersebut lahir dari keinginan untuk mengangkat budaya bukan hanya sebagai tontonan, tetapi sebagai sesuatu yang memiliki hubungan emosional dengan kehidupan setiap orang, “Back to Root bagi saya adalah sebuah perjalanan untuk kembali mengingat siapa kita, dari mana kita berasal, dan nilai apa yang membuat kita tetap menjadi satu.
Kita boleh tumbuh, berkembang, dan bergerak jauh ke depan, tetapi jangan pernah kehilangan akar yang membentuk identitas kita. Karena akar bukan sesuatu yang menahan kita untuk maju, justru akar yang kuat membuat kita mampu berdiri lebih kokoh.”
Audra menambahkan bahwa Maluku memiliki kekayaan budaya dan nilai persaudaraan yang sangat kuat untuk disampaikan kepada generasi masa kini.
“Kami ingin membawa penonton merasakan perjalanan dari Maluku, melihat keberagaman Indonesia, kemudian kembali kepada Gandong. Karena pada akhirnya, setelah semua perbedaan budaya, agama, dan latar belakang yang kita miliki, kita tetap memiliki satu kebutuhan yang sama—untuk hidup berdampingan, saling menghargai, dan menjadi satu keluarga. Itulah pesan yang ingin kami tinggalkan melalui Back to Root.”
Konsep pertunjukan yang dibangun secara bertahap berhasil menciptakan suasana yang dinamis. Audiens diajak berpindah dari suasana misterius dan sakral pada awal pertunjukan, menikmati energi tarian tradisional, merasakan semangat kebangsaan saat Merah Putih dikibarkan, hingga akhirnya masuk dalam suasana reflektif dan penuh kehangatan pada bagian Harmony in Gandong. Antusiasme audiens semakin terasa ketika seluruh penampil mengajak mereka untuk terlibat langsung dalam bagian akhir pertunjukan. Suasana Ballroom berubah menjadi ruang kebersamaan ketika penampil dan audiens bernyanyi bersama. Bagi seluruh tim, respons tersebut menjadi bagian paling bermakna dari pertunjukan—ketika batas antara penampil dan penonton seolah menghilang, dan seluruh orang di dalam ruangan menjadi bagian dari cerita yang sama.
Melalui Mini Pagelaran “Back to Root”, Hotel Santika Premiere Ambon menunjukkan bahwa sebuah kegiatan internal perusahaan juga dapat menjadi ruang untuk merawat budaya, memperkuat identitas, serta membangun rasa bangga terhadap warisan Maluku dan Indonesia. Lebih dari sebuah pertunjukan, Back to Root menjadi sebuah pengingat bahwa untuk melangkah lebih jauh, terkadang kita perlu kembali sejenak kepada akar—kepada budaya, kepada nilai, kepada persaudaraan, dan kepada rumah yang membentuk siapa kita hari ini. (**)









Comment