AMBON,MRNews.com,- Dari total 52 sekolah menengah pertama (SMP) sederajat di Kota Ambon, 50 sekolah sudah kembali aktifkan Belajar Tatap Muka Terbatas (BTM-T) sejak 2 Maret 2022. Artinya, hanya tersisa 2 sekolah yang belum.
Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Ambon Ferdinand Tasso menjelaskan, dua sekolah yang belum jalankan BTM-T yakni SMP Kristen Oikumene Bentas dan SMP Laboratorium Unpatti. Keduanya pun sudah dilayangkan peringatan agar lakukan penyesuaian.
“Semua sekolah yang SMP sudah kita wajibkan pakai QRcode aplikasi PeduliLindungi saat BTM-T. Sampai sekarang ada 50 SMP jalan lagi, kurang dua sekolah saja,” tandas Tasso kepada awak media di Balaikota, Jum’at (4/3/22).
Khusus di SMP Oikumene kata Tasso, belum jalan karena kepala sekolah tidak ada serta siswa hanya dua orang. Sementara SMP Laboratorium Unpatti, memang nama sekolah telah ada tapi proses belajar mengajar belum aktif seperti sekolah pada umumnya.
“BTM-T di 50 sekolah dengan 50 persen. Kita bersyukur bisa normal lagi BTM dan Ambon sudah sama dengan 10 Kabupaten/Kota lain di Maluku. Apalagi zonasi Ambon terakhir sudah ada dizona kuning, semula Oranye. Harapan kita bisa hijau seperti sebelumnya,” tegasnya.
Evaluasi dua hari ini untuk SMP kata Tasso, sudah berjalan baik sesuai yang diharapkan bahwa protokol kesehatan (Prokes) wajib dijalankan sebelum belajar hingga selesai, serta tetap memberlakukan belajar shift.
Dikatakan, pekan depan giliran tingkat SD jalan BTM-T. Dari 192 SD, baru kurang lebih 50 yang benar-benar siap kembali jalani BTM-T ditahap pertama. Sisanya akan menyusul ditahap kedua dan seterusnya.
“Yang lain memang sudah (siap). Tapi 50 ini tahap pertama. Kita buka bertahap untuk SD. Sisanya susul setelah 50 itu. Sebagian besar sudah siap semua. Sebenarnya SD sudah siap lama, waktu SKB tiga menteri, terakhir kan SKB empat menteri,” jelasnya.
Bagi tingkat SD tambah Tasso, tetap berlaku penerapan QRcode aplikasi PeduliLindungi yang adalah bagian dari skrining. Tapi jika anak-anak tidak punya aplikasi atau aplikasinya tidak berfungsi, bisa menunjukkan kartu vaksin.
“Atau jika memang tidak ada, bisa pakai NIK untuk petugas cek. Dengan empat kategori sesuai SKB empat menteri yakni warna hijau, kuning, merah dan hitam. Kecuali hitam saja yang tidak bisa masuk sekolah, tiga warna lain boleh plus wajib pakai faceshild dan Prokes 3M,” bebernya.
Dengan kembalinya belajar tatap muka ini, Tasso berharap, kualitas pendidikan di Kota Ambon naik lebih baik dari mekanisme pembelajaran jarak jauh (PJJ). Sebab tak saja anak-anak dan orang tua, dinas pun sedih kalau PJJ terlalu lama. Pasalnya, efek negatif PJJ lebih banyak dibanding BTM-T.
“Beta juga rasa sangat sedih skali kalau PJJ. Diharapkan BTMT yang sudah jalan lagi bisa didukung kita semua karena ini demi anak-anak kita semua, generasi muda. Sangat disayangkan kalau mereka buta huruf karena PJJ, rugi,” pungkasnya. (MR-02)











Comment