by

Siapa Suksesor Murad Ismail ?

-Opini-1,267 views

Oleh : Hariman A. Pattianakotta *

AMBON,MRNews.com,- Sejujurnya, saya tidak terlalu suka untuk langsung menulis topik ini. Mengapa? Pertama, karena dalam konteks Maluku, suasana politik terlalu partisan dan pragmatis.

Saya tidak ingin terjebak di situ. Kedua, saya tidak ingin dipandang sebagai tim sukses dari figur tertentu.

Setelah menulis mengenai sosok pemimpin yang dibutuhkan oleh Maluku, sekarang saya ingin memasuki topik ini. Tujuannya adalah supaya masyarakat Maluku dapat melihat dengan cermat figur-figur yang bermunculan.

Lalu, masyarakat dapat menelusuri rekam jejak, dan memperhitungkan kompetensi dan karakter calon-calon pemimpin baru Maluku.

Maluku membutuhkan pemimpin yang tepat, yang mampu membawa transformasi guna mewujudkan kesejahteraan dan keadilan. masyarakat. Tidak patut, daerah yang kaya seperti Maluku terus hidup sebagai provinsi yang miskin dan tertinggal.

Murad Ismail (MI): Cukup Satu Periode!

Terlepas dari gonjang-ganjing politik di tubuh PDIP, realitasnya MI telah dicopot dari ketua DPD PDIP Maluku. Ia dinilai gagal melakukan konsolidasi parpol di daerah. Istrinya pun telah menyeberang ke partai lain. Itu berarti MI di PDIP sudah tamat.

Apakah peluangnya untuk maju kembali dalam Pemilu untuk menjadi orang nomor satu Maluku juga tamat? Seharusnya begitu!

Menurut saya, MI tidak memiliki prestasi dalam memimpin Maluku selama periode pertama. Tak ada karya monumental. Tidak ada prestasi yang membanggakan.

Lumbung ikan nasional tinggal sebagai slogan. Ikan melimpah di Maluku, tetapi tak ada produk ikan yang bisa dibanggakan seperti Pempek Palembang. Tidak ada industri hilirisasi ikan kaleng yang bagus seperti di Bitung. Perusahaan besar penangkap ikan jaya, tetapi nelayan-nelayan tradisional tetap hidup melarat.

Pemindahan ibukota provinsi ke Makariki, Masohi, hanya pemanis bibir. Padahal, itu sebuah terobosan penting yang sudah digariskan untuk mendorong pemerataan dan kemajuan di Maluku. MI tidak mampu meneruskannya.

Pariwisata mati. Benar-benar mati. Ini realitas yang pilu di daerah gugusan pulau dengan pantai dan gunung-gunung yang indah.

Gas alam terbesar di sana pun tidak bergerak untuk memberikan dampak yang signifikan bagi kemajuan daerah. Anak-anak yang oleh gubernur sebelumnya di sekolahkan untuk pulang berkontribusi bagi pengembangan blok Masela tidak jelas masa depannya.

MI memang terlihat sukses sebagai seorang pensiunan perwira tinggi polisi yang bisa menjadi gubernur. Garasinya penuh mobil yang bagus dan mewah.

Ia pun bisa tampak necis dengan jam tangan mahal. Namun, sayang dimasanya banyak konflik lokal di masyarakat Maluku yang tidak terselesaikan dengan baik dan tuntas.

Di masa MI, pemakai narkoba justru makin semarak di Maluku. Artinya, peredaran narkoba terus bertambah. Narkoba adalah pembunuh masa depan di tengah situasi miskin yang menjerat masyarakat. Dengan situasi itu, hemat saya, MI gagal mengatasi penyakit sosial di Maluku.

Jadi, cukuplah satu periode untuk MI. Suksesornya harus dicari, sebab Maluku butuh pemimpin baru.

Menimbang Beberapa Figur

Siapa suksesor MI? Tanpa bermaksud menggiring opini, beberapa nama ini patut disebut. Saya mengajak pembaca juga untuk turut mengusulkan nama yang dipandang memiliki kompetensi, karakter, dan rekam jejak yang baik.

Pertama, Febri Calvin Tetelepta (FCT). FCT tumbuh dari bawah. Sejak mahasiswa ia sudah menjadi seorang aktivis. Dari GMKI Cabang Ambon, ia kemudian dipercaya menjadi Pengurus Pusat GMKI di Jakarta. Kesempatan ini membawanya berjumpa dan berelasi dengan aktivis lain yang mentas secara nasional di kelompok Cipayung.

FCT saat ini dipercaya sebagai Deputi Satu di Kantor Staf Kepresidenan (KSP). Berada di lingkaran istana adalah sebuah capaian profesional karena kerja militan dari seorang FCT. Ia membidangi infrastruktur, energi, dan investasi.

Sebelum menjadi Deputi Satu, FCT merupakan tenaga ahli utama KSP sejak 2015. Mantan Kepala Biro Pemuda Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia ini memperlihatkan ketekunan dan prestasi yang baik sehingga dipercaya sebagai Deputi Satu.

Pengalaman FCT di KSP ini tentu sangat penting dan berharga. Ia tahu persis peta pembangunan infrastruktur, energi, dan investasi. Sebagai orang yang memberikan pertimbangan dan data bagi pemerintah Jokowi, FCT dengan pengalaman ini tentu memiliki relasi-relasi nasional dan internasional yang bisa dimanfaatkan untuk mendorong pembangunan dan kemajuan di Maluku.

Bahkan, sependek pengetahuan saya, dengan jabatan FCT saat ini, anggota Partai PDIP ini sudah turut menunaikan tanggungjawabnya untuk mendorong pemerintah daerah melakukan pembangunan infrastruktur dan investasi di Maluku. Jadi, nama ini patut ditelusuri lebih lanjut oleh warga Maluku.

Nama kedua, Jeffry Apoly Rahawarin (JAR). Balihonya sudah cukup lama beredar di Maluku sebagai orang digadang-gadang sebagai suksesor MI. JAR adalah salah satu putra Maluku yang berhasil berkiprah di TNI.
[31/5 23.51] My Phone Oppo: JAR mendapat anugerah bintang dua untuk menjabat sebagai Panglima Kodam Pattimura. Tak lama ia menduduki jabatan itu, lulusan Akmil 1988 ini kemudian diberikan bintang tiga dan menjabat sebagai Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III.

Purnawirawan bintang tiga ini kini menjadi Deputi BNPP Kemendagri yang mengurusi daerah perbatasan. Pengalaman di militer bisa menjadi bahan pertimbangan masyarakat, meski ada yang mengatakan bahwa memimpin di Militer berbeda dengan memimpin masyarakat sipil.

Akan tetapi, masyarakat Maluku dapat mempertimbangkan satu nama ini. Telusuri jejak-jejaknya, agar masyarakat Maluku lebih mengenal JAR dan tahu pikiran-pikirannya.

Satu nama lagi yang patut diperhitungkan adalah Hendrik Izaak Lewerissa (HIL). Politisi dari Partai Gerindra ini sedang berkiprah di Senayan. Ia memiliki perjalanan akademik yang baik. Alumni dari Temple University, USA, pernah bekerja di salah satu perusahaan milik negara, sebelum akhirnya berkiprah di dunia politik praktis.

Ia terpilih sebagai anggota DPR RI mewakili dari Dapil Maluku. Latar belakang ilmu hukum yang dimiliki membuat HIL terlihat cocok dan fasih di Senayan. Dalam beberapa video yang viral, HIL terlihat sangat serius memperjuangkan kepentingan Maluku dalam penyusunan peraturan dan anggaran.

Ia pun terbilang aktif turun ke Dapil untuk memotret realitas yang dialami masyarakat Maluku. Pengalaman sebagai legislator tentu sedikit berbeda dengan pengalaman di eksekutif, tetapi pengalaman dan jejaring yang sudah ia rawat tentu akan memiliki pengaruh yang signifikan.

Masyarakat Maluku perlu mengikuti rekam jejaknya dan mengenalnya lebih jauh.

Bagi saya, tiga nama ini patut diperhitungkan. Secara pribadi, saya ingin mendalami kiprah dan pemikiran mereka. Perlu ada ruang khusus untuk itu. Kepentingannya satu, supaya masyarakat Maluku tidak memilih pemimpin seperti memilih kucing di dalam karung.

Masyarakat Maluku berhak memilih figur yang tepat, yang dengan kompetensi dan karakter yang baik mampu membawa Maluku maju!

(* Pendeta Universitas Kristen Maranatha, Bandung; Pemerhati Masalah Sosial dan Pembangunan Maluku).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed