AMBON,MRNews.com.-Terpuruknya kualitas pendidikan Maluku di tingkat nasional disebabkan rendahnya kemampuan guru sebagai tenaga professional meneliti, menulis dan menghasilkan karya tulis ilmiah tingkat nasional hingga internasional. Sejauh ini, guru-guru di Kota Ambon dan hampir di seluruh wilayah Maluku lebih monoton mengajar sampai akhir hayat, padahal guru sebagai pengajar dituntut dapat melakukan penelitian dan publikasi hasil penelitiannya agar diketahui khalayak sebagai motivasi pembelajaran sekaligus merangsang siswa membiasakan diri menulis.
Sadar akan keterpurukan yang menerpa dunia pendidikan Maluku, pihak Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon menggelar pelatihan penulisan artikel ilmiah nasional dan internasional di Sekolah Dasar Kristen 1 Waimahu, Desa Latuhalat, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, Provinsi Maluku, Sabtu pekan kemarin. Kegiatan sehari itu, melibatkan 32 mahasiswa semester V PGSD FKIP Unpatti.
Panitia Pelaksana John Rafafy Batlolona, M.Pd menyatakan, kegiatan itu mengangkat topik:’’Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah Nasional dan Internasional Dalam Membangun Pendidikan Dasar Yang Berkualitas Berbasis Laut Pulau untuk Menjawab Tantangan Era Kekinian’’.
Tujuan pelatihan itu, terang Batlolona, mendorong mahasiswa untuk meningkatkan kapasitas sebagai kader-kader guru berkualitas dan produktif di masa depan, dan mendorong guru meningkatkan profesionalisme mereka menjawab tantangan perkembangan zaman ini. ’’Tujuan khusus pelatihan ini adalah mendorong sekolah-sekolah Kristen agar lebih maju, inovatif, kreatif dan produktif,’’ timpal lulusan Universitas Negeri Malang, Jawa Timur, ini.
Pada saat pelatihan itu digelar ditampilkan sumber daya laut pulau di Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku Barat Daya, Seram Bagian Barat, Kepulauan Aru, dan kabupaten-kabupaten lain di wilayah ini yang dunia pendidikannya masih terpuruk di samping kurangnya tenaga guru bertitel strata satu (S1).
’’Setelah pelatihan mahasiswa melakukan praktik Ilmu Pengetahuan Alam dan pembelajaran. Misalnya kalau tingkat SD lebih banyak teori, padahal kita bisa mendorong praktik secara kontekstual dengan menjadikan lingkungan sebagai laboratorium alam. Jadi pada saat praktik kita memberikan beberapa topik dan selanjutnya dari masalah-masalah yang ada kemudian kita bikin tulisan ilmiah,’’ urai pria Tanimbar itu.
PGSD merupakan pemegang jurnal ilmiah terbanyak di FKIP Unpatti. Kegiatan itu juga disaksikan Kepala SDK 1 Waimahu, Naomi Lessil, S.Pd. (MR-03).











Comment