AMBON,MRNews.com,- Walikota Ambon, Richard Louhenapessy menepis tudingan sejumlah pihak yang menilai dirinya meminta passing grade seleksi kompetensi dasar (SKD) CPNS tahun 2018 diturunkan khusus untuk Kota Ambon. Namun sebenarnya yang diinginkan adalah penentuan tingkat kelulusan CPNS harus akumulatif atau tidak lantas mengacu pada tiga komponen utama SKD yaitu tes kompetensi pribadi (TKP), tes intelegensia umum (TIU) dan tes wawasan kebangsaan (TWK), yang penting memenuhi angka passing grade nasional 298.
“Saya tidak minta passing grade turun khusus untuk kota Ambon, tapi bagi semua karena menjunjung persatuan dan kesatuan. Yang dipertegas yakni kelulusan ditentukan harus akumulatif, tidak mengacu pada tiga komponen utama tapi terpenting memenuhi passing grade lah. Soal nanti diterima dan tidaknya akan melihat dari formasi yang tersedia dan peringkat,” jelas Walikota dalam keterangan kepada awak media di ruang kerjanya, Sabtu (10/11/18).
Pasalnya, diakui Louhenapessy, dari 2.259 peserta tes CPNS kota Ambon, cukup banyak peserta yang nilainya telah melewati passing grade tapi dinyatakan tidak lulus karena nilai tiga komponen utama, TKP, TIU dan TWK kurang memenuhi ambang batas. Karenanya, bukan saja untuk Kota Ambon tapi Kabupaten/Kota lain di Maluku juga mengalami permasalahan serupa bahkan ada yang lebih memprihatinkan.
“Hal inilah yang akan kita disuarakan ke pusat. Setelah saya bersama pemerintah provinsi, bupati/walikota dan pimpinan DPRD serta kepala BKPSDM se-Maluku rapat kemarin untuk mendapatkan titik temu dan kesepahaman tentang tes CPNS. Hasilnya, semua bertekad akan sama-sama ke Jakarta sampaikan aspirasi tersebut ke Presiden, Ketua DPR-RI, MenPAN-RB dan komisi DPR-RI terkait,” tegas politisi partai Golkar itu yang didampingi Sekkot Ambon, A.G Latuheru, Kepala BKPSDM Benny Selanno, Kepala Inspektorat Piet Ohman dan pengawas dari KEMENPAN-RB dan Panselnas CPNS 2018 dari BKN.
Meskipun demikian diakui Louhenapessy, dirinya bersyukur karena Kota Ambon peserta yang lulus tes 30 orang, terbanyak dibandingkan Provinsi Maluku 28 orang, Kabupaten Maluku Tengah 18 orang, kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) 12 orang dan Kabupaten SBT 0. Sehingga semua proses yang terjadi sekarang ini dalam tes CPNS bisa menjadi pelajaran bagi Kabupaten/Kota lain yang akan tes dalam waktu dekat. Dalam posisi ini, tidak dapat saling menuduh siapa salah karena semua tanggungjawab bersama.
“Ambon, 2259 orang tes, 231 formasi dari pusat, 45 formasi tidak ada pelamar artinya 186 formasi tersedia dan 30 orang lulus. Namun dari 30 itu, hanya 21 formasi yang tersedia bagi mereka dan 9 orang sisanya kemungkinan tidak diakomodasi/peluang lolos tipis. Kebanyakan tenaga kesehatan (dokter dan analis kesehatan). Mereka juga yang coba kita perjuangkan ke pusat agar diterima jadi PNS, tidak untuk diakomodir jadi pegawai kontrak atau apapun. Mereka sudah berjuang jadi PNS. Kalau ada orang menanggapi keprihatinan atas hasil tes CPNS dan menangis itu cengeng, silahkan. Itu airmata politisi bukan birokrat. Yang penting ide dan tujuan kita sampai,” beber Louhenapessy. (MR-02)











Comment