NUSALAUT, MRNews.Id.- Potensi pengembangan dan implementasi manajemen strategi UKM homestay di Kecamatan Nusalaut, Maluku Tengah, saat ini belum optimal. Sebuah penelitian kualitatif terbaru yang dilakukan peneliti Politeknik Negeri Ambon yang fokus pada empat negeri (desa) dengan bisnis akomodasi homestay di kecamatan tersebut mengidentifikasi tiga kelemahan mendasar dalam strategi manajemen lokal.
Penelitian yang didalangi oleh Abdul haris Tamalene ini menunjukkan bahwa tanpa intervensi strategis, pertumbuhan bisnis homestay yang diharapkan dapat menopang ekonomi masyarakat akan terus terhambat.
Hasil wawancara peneliti dengan beberapa informan kunci yakni bapa raja Nusalaut dan pelaku bisnis UKM Homestay menunjukan beberapa fakta terkait merosotnya bisnis Homestay di Nusalaut yakni di desa Akoon, Ameth, Sila dan Leinitu antara lain menyoroti isu :
Kelemahan Strategi Manajemen
Penelitian tersebut menemukan bahwa meskipun minat wisatawan terhadap pengalaman otentik tinggi, manajemen homestay di Nusalaut menghadapi tantangan serius:
1. Minimnya Promosi Terpadu: Upaya promosi yang dilakukan selama ini bersifat sporadis dan individual. Belum ada narasi atau platform promosi tunggal yang mampu mengangkat seluruh potensi wisata Nusalaut secara kolektif, membuat Nusalaut sulit bersaing dengan destinasi lain.
2. Kurangnya Kompetensi SDM: Sumber Daya Manusia (SDM) lokal, khususnya pemilik dan pengelola homestay, masih minim dalam kompetensi pelayanan hospitality. Hal ini meliputi etika pelayanan, standar kebersihan, dan komunikasi yang memadai, berakibat pada inkonsistensi kualitas pengalaman tamu.
3. Ketiadaan SOP Formal dan Pokdarwis: Ini disebut sebagai masalah paling krusial. Belum adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) formal menyebabkan tidak ada patokan baku dalam n pelayanan. Bersamaan dengan itu, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang seharusnya menjadi koordinator kunci belum terbentuk, melumpuhkan upaya koordinasi dan standarisasi.
Strategi Manajemen yang Diusulkan
Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan ini dan mendorong pariwisata berbasis masyarakat yang berkelanjutan, penelitian mengusulkan tiga pilar strategi manajemen:
1. Standarisasi Berbasis Kearifan Lokal
Peneliti menekankan perlunya SOP yang tidak hanya mengatur kebersihan dan administrasi, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai dan kearifan lokal. Ini penting agar homestay Nusalaut memiliki kualitas terjamin sekaligus menawarkan pengalaman unik yang autentik, membedakannya dari akomodasi massal.
2. Peningkatan Kapasitas SDM
Diperlukan program pelatihan intensif yang berfokus pada peningkatan kemampuan praktis pemilik homestay. Pelatihan harus mencakup aspek pelayanan tamu (guest service), kebersihan dan tata graha, serta dasar-dasar digitalisasi dan pengelolaan keuangan UKM sederhana.
3. Pembentukan Koordinasi Terpusat
Solusi fundamental adalah segera membentuk dan mengaktifkan Pokdarwis. Pokdarwis harus mengambil peran sentral sebagai koordinator promosi wisata terpadu, mengelola branding kolektif Nusalaut, dan memastikan semua homestay mematuhi SOP yang telah ditetapkan.
Implementasi strategi ini, menurut penelitian Abdul haris dan rekan, sangat penting untuk mendorong pariwisata berbasis masyarakat (CBT) yang tidak hanya meningkatkan kunjungan, tetapi juga memastikan manfaat ekonomi dirasakan merata oleh seluruh masyarakat di Kecamatan Nusalaut. (**)











Comment