Oleh : Pdt. Sandra Irene Pesiwarissa, MTh (Pendeta Gereja Protestan Maluku)
AMBON,MRNews.com,- “Ma Sus, gayang su abis ka blom? (artinya : Ibu Sus, gayangnya sudah habis atau belum?)”, seru mama Opi kepada temannya yang duduk agak jauh. Hiruk pikuk pasar tidak mengganggu kedua mama papalele dari Latuhalat ini untuk saling mengetahui kondisi hasil penjualan gayang rebus. Mama Sus terlihat serius menjual gayangnya, sekali-kali matanya mengarah pada saya dan Mama Opi yang sementara bercerita.
Tiga hari sebelumnya, saya telah membeli gayang yang dijual oleh Mama Sus. Wanita berusia 60 tahun tersebut telah melakoni pekerjaannya sebagai mama papalele sejak dulu, bahkan sebelum konflik Ambon 1999. “Waktu kerusuhan Ambon, Ma Sus tetap bajual. Pasar Batu Meja jadi tampa Ma Sus bajual. Ma Sus jual gayang kalo lagi musim. Tapi kalo seng musim, Ma Sus jual buah” (artinya : sekalipun terjadi kerusuhan Ambon, Mama Sus tetap berjualan. Pasar Batu Meja merupakan tempat berjualan saat itu. Mama Sus menjual gayang saat lagi musimnya. Tapi jika tidak ada musim gayang, Mama Sus menjual buah-buahan), cerita Mama Sus waktu itu.
Seperti Mama Sus, begitu pula Mama Opi dan Mama Boya menjual gayang rebus setiap hari. Pada subuh pagi jam 5, mama-mama papalele ini sudah keluar dari rumah mereka di Latuhalat dan datang ke Pasar Mardika dengan menggunakan angkutan umum. “Sekitar jam 6 pagi Mama Opi su di pasar sini. Mama Opi bawa gayang rebus satu ember ini. Ada sekitar 500 buah yang Mama Opi bawa. Su mau abis ni” (artinya : sekitar jam 6 pagi Mama Opi sudah di pasar. Mama Opi membawa gayang rebus satu ember. Jumlah gayang yang Mama Opi bawa kira-kira 500 buah gayang rebus. Sekarang sudah hampir habis 500 buah gayang rebus tersebut), ungkap Mama Opi. 
Saat itu, jam menunjukkan pukul 11.30 siang dan sudah hampir 7 jam Mama Opi berjualan gayang rebus di pasar. Waktu berdagang dari Mama Opi dan teman-temannya sebagai papalele di pasar ternyata tidak sehari penuh. Mama-mama papalele tersebut sepertinya sudah mengatur kebutuhan waktu mereka berdagang di pasar, karena itu jumlah gayang rebus yang mereka sediakan untuk dijual tidak lebih dari satu ember berukuran 30 liter setiap hari.
Tidak seperti ketiga mama papalele dari kampung di ujung barat Jazirah Leitimor yang menjual gayang rebus di pasar. Mama nona merupakan mama papalele dari Tuni di wilayah pegunungan Kota Ambon, yang menjual gayang rebus dengan berkeliling kota atau di lingkungan pemukiman. Setiap hari Mama Nona harus bangun jam 5 subuh pagi dan berjalan kaki dari tempat tinggalnya di Kayu Putih yang berada di wilayah pegunungan menuju rumah-rumah pelanggannya hingga ke pusat kota. Mama Nona menawarkan penganan yang ia buat dari satu rumah ke rumah berikutnya.
Saat Mama Nona tiba di rumah saya, ia langsung menawarkan wajik jagung dan gayang rebus yang ia jual pagi itu. Saya memang telah menjadi pelanggan mama Nona selama ini. Hampir setiap pagi kami bertemu namun saya menemukan sesuatu yang luar biasa dari Mama Nona di pagi itu. Di usianya yang tidak lagi muda, perempuan 64 tahun yang selalu menggunakan kebaya ini membawa sekaligus dua jenis jajanan pagi dalam jumlah yang banyak. Gayang rebus yang berjumlah 100 buah tentunya bukanlah sesuatu yang ringan untuk terus dibawa.
Namun, minat sebagian masyarakat terhadap gayang rebus dan besarnya keuntungan yang dapat ia peroleh telah menyemangatinya untuk meng-keku kedua penganan lokal tersebut di atas kepalanya. “Mama Nona lebe suka bajual bagini, makanan ni bisa capat abis” (artinya : Mama Nona lebih suka berjualan dengan cara seperti ini, penganan yang dijual bisa cepat laku terjual), ungkap Mama Nona. Penganannya sudah habis terjual sebelum jam 10 pagi, sehingga ia masih memiliki waktu untuk beristirahat dan dapat menyiapkan penganan untuk dijual hari esok.
Aktivitas dagang yang dilakukan oleh mama-mama papalele ini menunjuk pada suatu pola tertentu dan pola-pola tersebut memiliki perbedaan. Dr. Pieter Soegijono menyebutkan pola dimaksud sangat terkait dengan proses menjual barang yang dilakukan oleh papalele. Ada dua pola yang telah dilakukan oleh mama-mama papalele penjual gayang rebus dimaksud, yakni :
Pertama, papalele yang biasanya setiap hari berkeliling kota atau lingkungan pemukiman untuk menjumpai pembeli atau pelanggannya. Transaksi atau pun tidak transaksi, papalele berkewajiban untuk menjumpai konsumen.
Kedua, papalele yang sejak pagi hingga barang dagangannya laku tetap menempati lokasi tertentu yakni pasar.
Pola pertama dapat dilihat pada aktivitas papalele dari Mama Nona, dan pola kedua ada pada Mama Opi, Mama Sus dan Mama Boya. Menurut saya, pola khusus dari mama-mama papalele ini tidak hanya menunjuk pada suatu aktivitas dagang tradisional dan manfaat ekonomi yang mereka peroleh. Pola khusus yang mereka gunakan disertai dengan pilihan barang dagangan yang sesuai dengan kebutuhan atau minat masyarakat telah memposisikan mama-mama papalele pada peran lainnya yang sangat strategis yakni sebagai pelestari diversifikasi pangan lokal Maluku.
Menurut mama-mama papalele bahwa gayang rebus menjadi pilihan barang dagang yang lebih baik untuk dijual daripada buah gayang mentah karena gayang rebus memiliki daya tarik dan cita rasa tersendiri bagi pembeli atau pengkonsumsinya. Gayang rebus yang hanya dapat dimakan jika diolah dengan baik dan sabar karena membutuhkan waktu yang cukup lama, tidak lagi menjadi suatu pekerjaan yang menyulitkan dan merepotkan bagi orang yang menyukainya karena mereka dapat memperolehnya dari mama-mama papalele sebagai penganan siap saji. (bersambung)








Comment