Oleh : Pdt. Sandra Irene Pesiwarissa, MTh (Pendeta Gereja Protestan Maluku)
Edisi Sambungan
AMBON,MRNews.com,- Pola dagang yang dilakukan oleh mama-mama papalele pada ruang publik yakni pasar atau kantor telah memperkenalkan gayang rebus sebagai pangan lokal Maluku secara lebih luas dalam masyarakat, sekalipun mereka tidak menyampaikannya secara verbal. Saya menemukan hal tersebut dalam suatu percakapan antara dua orang pembeli di pasar yang saat itu berada di dekat saya dan Mama Opi.
Kata seorang perempuan kepada temannya yang lebih muda “eh itu gayang”. Temannya pun menjawab : “apa itu? Beta blom pernah makan. Kalo mau beli, beli saja” (artinya : apakah itu? Saya belum pernah memakannya. Kalau ingin membeli, silahkan beli). Balas temannya, “gayang itu enak, nanti ale rasa baru ale tau”. (artinya : gayang itu enak, nanti kamu bisa merasakannya dan kamu akan tahu kalau gayang itu rasanya enak).
Kedua perempuan tersebut kemudian mendekati Mama Opi, dan dengan senyum ramah Mama Opi menyapa mereka “bli gayang rabus nona” (artinya beli gayang rebus nona). Tangan yang sudah mulai berkeriput itu kemudian menuangkan gayang rebus satu piring kecil yang terdiri dari 10 biji gayang dan 2 potong kelapa mengkal ke dalam kantong plastik dan memberikan kepada mereka. Mama-mama papalele menjual satu piring gayang rebus seharga lima ribu rupiah.
Suatu ketika saya membeli gayang rebus dalam jumlah banyak dari mama papalele dan mengajak teman-teman di kantor untuk bersama-sama menikmati gayang tersebut. Sambil terus bekerja kami makan gayang rebus dan seorang teman senior berketurunan Cina terlihat sangat menyukainya. Menurut saya, situasi tersebut membuktikan bahwa gayang rebus sebagai pangan lokal Maluku dapat diminati oleh semua orang tanpa ada perbedaan. Adanya anggapan bahwa gayang rebus hanya merupakan makanan orang kampung atau orang-orang kecil ternyata tidak dapat dibenarkan.
Dalam suatu kegiatan pelatihan, gayang tone disajikan sebagai salah satu kudapan pagi khas Maluku. Gayang tone merupakan penganan berbahan dasar gayang rebus. Gayang tone diolah dengan cara mencampur gayang rebus yang sudah diparut kasar dengan kelapa mengkal dan gula merah. Kudapan yang enak ini kemudian menjadi pilihan banyak orang sehingga lebih dulu habis dibandingkan dengan jenis kudapan lainnya. Peserta kegiatan yang berasal dari berbagai latar belakang budaya, asal, pendidikan dll, sangat menikmati kudapan lokal tersebut, sekalipun ada diantara mereka yang baru mengetahui tentang gayang.
Realitas ini memperlihatkan bahwa ruang publik menjadi sangat strategis untuk memperkenalkan gayang rebus sebagai salah satu diversifikasi pangan lokal Maluku. Kehadiran gayang rebus di ruang publik juga dapat menjadi penganan khas Maluku yang memiliki nilai kearifan lokal untuk mempererat persaudaraan dan melibas sekat-sekat yang membedakan agama, etnis dan budaya.
Gayang atau yang disebut juga gayam (inocarpus fagifer) merupakan tumbuhan berbentuk pohon dengan ketinggian mencapai 20 m. Bila tanaman ini berhasil tumbuh, usianya bisa berumur sebad lebih. Tanaman ini hidup pada ketinggian 500 m diatas permukaan laut. Gayang biasanya hidup di rawa-rawa atau kawasan lingkungan yang terdapat sumber air yang melimpah.
Umumnya di Maluku, gayang tumbuh sendiri tanpa dibudidayakan. Akarnya kokoh sehingga mampu mencegah longsor, erosi serta menampung cadangan air tanah dari kawasan sekitarnya. Buah gayang berjenis polong dan berbentuk ginjal serta tidak pecah karena memiliki kulit buah yang keras. Buah gayang mempunyai 1 biji gayang yang berbentuk gepeng. Saat buah gayang sudah matang atau berwarna kuning, buah gayang dapat dibelah dan biji yang ada di dalamnya dapat dikeluarkan. Selanjutnya biji gayang tersebut di cuci bersih dan direbus dengan menambahkan daun pandan serta garam.
Proses perebusan hingga mendapatkan gayang yang lunak dan enak dimakan membutuhkan lamanya waktu 3-4 jam. Mama-mama papalele selalu merebus gayang dengan menggunakan api tungku. Perebusan gayang dilakukan dengan mengganti air rebusan sebanyak dua atau tiga kali dan hal tersebut sangat tergantung pada warna air yang dihasilkan saat perebusan. Pergantian air rebusan dilakukan supaya hasil biji gayang rebus memiliki warna kecoklatan yang terlihat lebih bersih. Biji gayang rebus yang sudah matang dan siap dimakan memiliki tekstur daging yang lunak, halus, empuk, dan tidak bergetah seperti biji buah nangka atau cempedak. Gayang rebus memiliki cita rasa tersendiri dan semakin bertambah cita rasa tersebut ketika dimakan bersama kelapa mengkal.
Gayang rebus bukanlah makanan pokok orang Maluku seperti nasi, ubi dan sagu. Namun gayang rebus telah menjadi salah satu diversifikasi pangan lokal yang secara turun temurun dikonsumsi orang Maluku. Fakta sejarah ini saya temukan dari pengalaman sendiri. Saya mengetahui dan menyukai gayang rebus dari ibu saya.
Saat musim gayang, ibu membeli dan merebusnya di rumah, kemudian disajikan saat minum teh sore dalam keluarga kami. Kesukaan ibu pada gayang rebus sangat dipengaruhi oleh orang tuanya terutama ayahnya yang berasal dari Latuhalat. Pohon gayang memang banyak tumbuh di Latuhalat bahkan sudah ada di tempat tersebut pada masa orang tua zaman dulu sebelum kakek saya. Hampir seluruh bagian yang bermanfaat dari pohon gayang dikonsumsi keluarga kakek. Gayang rebus pun menjadi penganan khas yang diwariskan dalam keluarga kakek.
Umumnya, orang Maluku menjadikan gayang rebus sebagai teman minum teh atau kopi di waktu pagi dan sore hari dalam keluarga. Ayah, ibu dan anak-anak serta anggota keluarga lainnya menyatu dalam kebersamaan keluarga disertai dengan menikmati kudapan khas Maluku tersebut. Tradisi seperti ini sudah sulit ditemukan pada masa sekarang. Gayang tidak lagi ditemukan di meja keluarga orang Maluku. Kehadiran mama papalele yang menawarkan dagangan gayang rebus dari rumah ke rumah seperti mama nona semakin mendorong dikembalikannya tradisi tersebut dalam keluarga orang Maluku.
Dalam biji gayang terkandung banyak vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Fenol, steroid, karbohidrat, protein dan lemak merupakan senyawa-senyawa yang tersebar pada seluruh bagian tanaman gayang, termasuk biji gayang. Senyawa-senyawa tersebut bermanfaat untuk menjaga usus, mengatasi diare, menjaga kekebalan tubuh, dan mengandung vitamin c guna mencegah sariawan termasuk penyakit lainnya akibat kekurangan vitamin tersebut. Kandungan vitamin yang begitu banyak terdapat dalam biji gayang tentunya membuat gayang rebus tidak dapat dipandang hanya sebatas sejenis cemilan yang enak, tapi juga menjadi pilihan cemilan yang tepat untuk tubuh karena menyehatkan.
Di era sekarang ini ketika beraneka ragam penganan atau cemilan yang diproduksi dengan menggunakan berbagai bahan penyedap, pewarna dan pengawet yang tidak sehat bagi tubuh, maka sudah seharusnya diversifikasi pangan lokal yakni gayang rebus menjadi pilihan yang tepat untuk tubuh.
Pilihan terhadap gayang rebus sebagai cemilan keluarga yang menyehatkan telah dilakukan oleh seorang perempuan yang bekerja sebagai salah satu pemimpin gereja di Gereja Protestan Maluku. Ibu Dana sangat menyukai gayang rebus karena rasanya yang enak dan memiliki manfaat yang besar. Perempuan asli seram ini selalu berusaha mengolah gayang rebus menjadi makanan yang lezat dan disukai oleh suami dan anak-anaknya. Ibu Dana memperoleh gayang tersebut dari mama-mama papalele, terkadang juga membeli gayang mentah lalu direbus.
Hobby masak dari perempuan 47 tahun ini telah berhasil mengolah gayang rebus secara bervarisi sehingga mempengaruhi suami dan anak-anaknya untuk juga memilih gayang sebagai salah satu jenis makanan ringan yang enak dan sehat. Di tangannya yang trampil, gayang rebus diolah menjadi beberapa jenis makanan lainnya, misalnya perkedel, kroket, semur, rendang, tart gayang, nasi goreng gayang, soup, dll. Tindakan positif dan kreatifitas Ibu Dana turut memperkuat peran mama-mama papalele sebagai pelestari diversifikasi pangan lokal.
Tindakan bersama dalam pelestarian gayang rebus sebagai diversifikasi pangan lokal dapat juga menolong memperlambat produksi pangan yang berskala industri dan distribusi jarak jauh yang mana telah menjadi faktor terbesar ketiga dalam tren kenaikan emisi gas rumah kaca. Efek rumah kaca merupakan suatu keadaan naiknya suhu bumi akibat adanya perubahan komposisi yang terdapat pada atmosfer. Kontribusi terbesar perubahan kondisi bumi seperti ini dari manusia yang menggunakan berbagai alat atau bahan penghasil CO2 atau karbondioksida.
Oleh sebab itu dengan memilih pangan yang tumbuh sesuai musim seperti gayang, secara tidak langsung kita pun menjadi perawat bumi dari efek rumah kaca yang berdampak pada climate chance. Luasnya manfaat gayang tentunya menjadikan peran mama-mama papalele semakin lebih penting. Mereka menjadi pelestari diversifikasi pangan lokal sekaligus memberi kontribusi untuk melindungi bumi dari efek rumah kaca. Jadi, ketika kita mau dan terus membeli gayang rebus dari mama-mama papalele, kita pun ikut mendukung pelestarian diversifikasi pangan lokal tersebut dan menjaga rumah kita, bumi ini.
Ikan cakalang ikan gabus, Paleng sadap kalau bikin abon
Kalo mau cari gayang rabus, Cuma ada di mama papalele Ambon. (***)








Comment