AMBON,MRNews.com,- Hawaiian harus jadi jati diri musik di Ambon. Pasalnya, lewat musik Hawaiian lahir maestro-maestro musik asal kota berjuluk manise ini, seperti Bing Leiwakabessy(om Bing) dan lainnya. Hal tersebut diungkapkan Walikota Ambon, Richard Louhenapessy saat membuka festival musik Hawaiian 2018 dengan tema semarak musik Hawaian wujudkan Ambon kota musik dunia, yang digagas Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Maluku di Baileo Oikumene, Rabu (7/11/18) malam.
Pasalnya dalam perkembangan musik Hawaiian kata Louhenapessy, yang biasanya dimainkan oleh orang tua, tetapi saat ini telah mengalami peningkatan dengan banyaknya anak muda dan remaja yang sudah terjun merasakan alunan indah alat musik itu. Apalagi, telah diatur untuk menata Amahusu sebagai teater, panggun terbuka di pinggir pantai untuk ada musik Hawaiian setiap waktu dan festival lainnya, termasuk juga nantinya di Air Salobar.
“Musik harus jadi jati diri kita dan harus kita berbangga, khususnya dengan Hawaiian. Musik harus jadi keuntungan ekonomi kreatif, tidak saja sekedar hobi. Maka mulai tahun depan tepatnya hari Kamis-Sabtu, akan ada live musik, genre pop hingga Hawaiian di Bandara Pattimura untuk menyambut tamu. Wajib pula terlaksana saat ada dan tidak event,” terang Walikota.
Bahkan, tak hanya bandara, tetapi kata Walikota, seluruh hotel, restoran di Kota Ambon wajib ada live musiknya, genre apapun. Tak cukup disitu, akan didesak pula dinas lingkungan hidup dan persampahan (DLHP) Kota Ambon ada terobosan baru sosialisasi larangan membuang sampah sembarangan dengan cara bermusik dan publish di medsos. Serta pekan depan, akan hadir di Ambon musisi internasional asal Suriname, Oscar Harris untuk perform pada Amboina Bamboo Music Festival. Semua itu dengan tujuan, mempertegas kesiapan Ambon sebagai kota musik dunia.
“Festival Hawaiian yang digagas BPNB kerjasama dengan Kemendikbud, BeKraf, AMO ini upaya menopang hasrat dan harapan pemerintah serta masyarakat Ambon menuju kota musik dunia. Kita harus terus dorong pengakuan luar terhadap Ambon sebagai kota musik dunia. Event seperti ini harus diapresiasi dan support. Kita harus berkorban untuk sesuatu yang besar, karena bukan soal hari ini. Tapi 5-10 tahun nanti akan lihat hasilnya,” tegasnya.
Sedangkan, Kepala BPNB Maluku, Rusli Manorek menyatakan, festival musik Hawaiian diikuti 17 kelompok, termasuk didalamnya ada anak-anak sekolah yang merupakan binaan maestro pada program BPNB, belajar dengan maestro. Disediakannya wadah bagi musik Hawaiian lewat festival karena Hawaiian adalah asset bersama untuk menunjang dan menghadirkan Ambon sebagai kota musik dunia 2019. Manakala, mereka perlu diberi ruang untuk berkreasi dan berkarya sehingga akan muncul Bing Leiwakabessy lainnya.
“Ini juga sebagai spirit bagi musisi Hawaiian. Ruang karya dan ekspresi semacam ini harus diciptakan terus. Maka kedepan kita akan kemas kelompok Hawaian dalam bincang dan ruang-ruang khusus pengembangan musik Hawaiian. Festival ini rangkaian bersama pameran yang telah jalan di Lapangan Merdeka. Puncaknya pada 15 November akan digelar karnaval budaya dan seni untuk mengenalkan Ambon sebagai kota musik dunia,” tutupnya. (MR-02)











Comment