AMBON,MRNews.com,- Festival seni dan budaya kecamatan Leitimur Selatan (Leitisel) yang baru pertama kali digelar tahun 2018 tepatnya Sabtu, (8/12/18) di pantai Tihulessy Hukurila, dipandang sebagai upaya menjaga dan melestarikan nilai seni budaya kota Ambon serta menunjukkan masyarakat Leitisel sebagai orang asli Ambon yang kaya seni budaya, sebagaimana orang betawi di Jakarta. 
Oleh sebab itu kegiatan-kegiatan budaya dan seni yang tumbuh dari masyarakat di Leitisel ini harus betul-betul mendapat perhatian karena merupakan sebuah wujud daripada gaya hidup, perilaku, budaya masyarakat kota Ambon.
“Selaku Walikota Ambon, beta bersukacita karena masyarakat di Leitisel melalui Camat melaksanakan suatu kegiatan budaya yang penting untuk kepentingan Ambon kedepan. Karenanya, kita harus sampaikan rasa hormat dan terima kasih bagi Camat dan perangkatnya, serta kepala desa/negeri dan masyarakat. Festival hari ini penting sekali buat masyarakat di Leitisel karena ini masyarakat asli Ambon. Di Jakarta, aslinya orang Betawi sedangkan di Leitisel orang asli Ambon yang punya Ambon secara khusus,” ujar Walikota Ambon, Richard Louhenapessy saat membuka festival seni dan budaya kecamatan Leitisel di pantai Tihulessy Hukurila, Sabtu (8/12/18).
Hukurila kata Walikota, sebagai desa wisata bahari berkelanjutan (Dewi Bulan) yang beberapa waktu lalu dicanangkan pemerintah provinsi (Pemprov) dan pemerintah kota (Pemkot) Ambon, harus dapat terwujud dengan laut atau pantai sebagai basisnya. Sehingga harapannya supaya kegiatan ini tidak berhenti tahun ini tetapi harus terus berlangsung pada 2019, 2020, 2021 dengan terus meningkatkan kualitas dan penampilan yang lebih baik lagi.
Dirinya mencontohkan, kalau hari ini dari Kilang menari bagus dengan tari lenso tetapi tahun depan tidak boleh pakai peluit untuk pandu menari. Meski sudah bagus tapi cuma pakai peluit salah. Demikian juga Hawaiian bagus sekali dari bambu dan mainnya, hanya tempatnya harus ditata ulang, tidak boleh dekat panggung sehingga orang tidak bisa melihat dan menikmatinya. Karena itu harus ditata sedemikian rupa supaya itu bagian dari semua proses acara yang bisa dinikmati.
“Tahun 2020 kita bertekad Kota Ambon ini untuk terbuka dikunjungi para wisatawan dari daerah lain maupun negara lain, dimana Ambon sebagai kota tujuan wisata. Maka tahun 2019, dinas pariwisata akan persiapkan seluruh kalendernya mulai dari Januari sampai Oktober seluruh kegiatan budaya bakal terlaksana sehingga tahun 2020 Ambon bisa menerima para wisatawan. Saya sadar banyak hal harus dibenahi. Hukurila ini pantainya tapi kalau sapi kaki pendek (babi) berkeliaran itu juga repot. Ini harus disupport oleh masyarakat demikian juga kebersihan pantai,” tegasnya.
Sementara itu, Camat Leitisel, Rickiy Sopacua mengatakan, festival seni budaya kecamatan Leitisel ini baru pertama kali dilaksanakan. Tentu dengan tujuan mengenalkan dan melestarikan seni budaya masing-masing desa atau negeri di kecamatan Leitisel. Serta harapannya akan terus berlangsung setiap tahun.
“Kita bertujuan seni dan budaya di desa atau negeri yang ada di Leitisel tetap dijaga dan dilestarikan agar menjadi pegangan, nilai dan perilaku penting bagi anak cucu hingga akhir hayat. Tetapi juga kita mengenalkan lebih luas desa Hukurila dengan pantainya sebagai Dewi Bulan,” tutup Sopacua. Desa atau negeri di Leitisel, dari Hatalai hingga ke Hutumuri menampilkan ciri khas masing-masing seni-budaya yaitu tari lenso, tari perisai, totobuang, hawaiian, katreji, orlapei-sahureka reka, tahuri. (MR-02)











Comment