AMBON,MRNews.com,- Sebanyak 151 personil TNI/Polri masing-masing 60 personil anggota TNI dan 91 personil anggota Polri daerah (Polda) Maluku melaksanakan kerja bakti bersama di kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN), Kebun Cengkeh, Ambon, yang rusak akibat tanah bergerak sehingga mengakibatkan tiga (3) bangunan rusak berat yakni gedung auditorium, gedung perpustakaan dan gedung laboratorium MIPA.
Untuk anggota Polri yang berjumlah 91 personil, terdiri dari 30 personil Brimob, 30 personil Ditsamapta dan Res Ambon 31 personil.
“Kerja bakti bersama ini merupakan sinergitas diantara TNI/Polri dalam membantu dan melayani masyarakat terutama lembaga perguruan tinggi. Dengan begitu, kehadiran TNI/Polri betul-betul nyata sebagai pengayom masyarakat. Tentu tak saja IAIN yang menarik perhatian publik termasuk TNI/Polri bahkan pusat, tetapi lembaga pendidikan lain dan pusat pelayanan publik termasuk masyarakat pun akan mendapat perhatian sama dari TNI/Polri ketika terjadi musibah,” tandas Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol Roem Ohoirat kepada awak media, Rabu (19/6/19).
Diketahui, tiga gedung IAIN rusak parah akibat tanah bergerak setelah hujan deras mengguyur kota Ambon beberapa waktu terakhir. Hal tersebut menarik perhatian publik termasuk pemerintah pusat. Sebab saat ini tiga gedung tersebut untuk sementara tidak lagi difungsikan oleh mahasiswa dan para dosen.
Bahkan Rektor IAIN Ambon, Hasbollah Toisutta pada kesempatan kepada wartawan menyebut jika pihaknya berencana untuk merobohkan ketiga gedung tersebut akibat kondisinya yang sangat parah. Langkah merobohkan ketiga gedung tersebut selain untuk menghindari korban jiwa juga untuk menghindari kerusakan pada bangunan lainnya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku, Farida Salampessy mengatakan, dari hasil penelitian sementara yang dilakukan oleh tim dari Bandung, dan Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PURP) mengindikasikan jika untuk jangka panjang tiga gedung itu tidak bisa lagi digunakan.
“Harus pindah. Jangka pendek saja tidak boleh, apalagi jangka panjang. Karena dari hasil penelitian sementara saja ada pergeseran tanah terus. Dari hasil penelitian yang dilakukan tim gabungan itu, potensi tanah bergerak masih akan terjadi. Sebab, selain kondisi tanah labil, musim penghujan di Maluku dan Ambon masih akan berpotensi terjadi hingga Juli-Agustus. Ini baru awal musim penghujan, puncaknya sesuai prediksi BMKG pada Juli-Agustus berarti ada tambah keretakan, jadi harus pengamanan,” kata Farida kepada wartawan, di Kantor Gubernur Maluku, sebagaimana dikutip dari laman Kompas.com, Senin (17/6/2019). (MR-02/net)











Comment