AMBON,MRNews.com,- Keberadaan jaringan retail waralaba, Indomaret di Kota Ambon, mulai mendapat keluhan dari warga Kebun Cengkeh, Negeri Batumerah, Kecamatan Sirimau, yang dijadikan sebagai salah satu lokasi berdirinya Indomaret. Meski baru dua gerai yang beroperasi dan kabarnya tiga gerai lagi menyusul masih di daerah Kebun Cengkeh dan STAIN, tetapi warga telah gerah sebab dianggap bakal mematikan usaha kecilnya yang sudah ada sejak lama.
La Ade (39), salah satu warga Kebun Cengkeh sesalkan hadirnya beberapa Indomaret yang menjamur khususnya di daerah Kebun Cengkeh dan STAIN. Ini menunjukkan, pemerintah kota dalam hal dinas terkait tidak serius dalam pemberdayaan usaha kecil masyarakat. Karena ada kios atau toko didekat Indomaret yang sudah operasi sejak lama mengeluh ada pinjaman di koperasi, bank untuk usaha. Namun dengan keadaan itu, omset mereka tiap hari menurun dan beberapa terancam ditutup, karena minat warga belanja berkurang.
Pasalnya, diakui Ade, sebagian besar masyarakat di Kebun Cengkeh dan STAIN, jika ingin belanja, tidak lagi ke kios atau toko kecil tapi Indomaret. Padahal dari awal mereka sudah langganan belanja di kios atau toko kecil. Tentu ini menjadi perhatian juga, terutama mengingatkan pemerintah agar dalam memberikan ijin harus ada klasifikasi, pemetaan. Misalkan Indomaret bisa dibangun atau diijinkan tetapi radius berapa meter atau kilometer, tidak boleh terlalu dekat dengan kios atau toko milik masyarakat.
“Bisa di jalan raya, tapi harus perhatikan posisinya. Ini juga sudah awal dipertegas DPRD. Kekesalan kami dan mungkin semua warga, jangan sampai pemerintah kejar setoran pajak, retribusi tapi sisi lain abaikan kepentingan masyarakat kecil. Istilahnya, menumbuhkan satu, mematikan yang lain. Ini jadi catatan, kalau bisa Disperindag atau dinas terkait yang mengeluarkan ijin harus survey, bukan saja melihat lokasi tapi tahu respons warga sekitar yang punya kios kecil. Kalau masyarakat rugi, kios tutup jika terjadi begitu, siapa yang bertanggungjawab,” bebernya kepada media ini, Kamis (25/7).
Sebab menurut dia, hal ini akan jadi beban buat pemerintah dan DPRD juga yang punya mitra. Maka dimintakan pula perhatian DPRD khususnya komisi II dan III, apalagi anggota DPRD dapil Sirimau II agar melihat persoalan ini secepatnya, karena Indomaret yang ada di daerah Kebun Cengkeh baru dibangun dua dan menurut informasi dari karyawan Indomaret disitu, akan dibangun lagi tiga. Sehingga diminta pengawasan DPRD agar kondisi itu tidak mematikan ekonomi masyarakat kecil, untungkan pedagang besar.
Belum lagi, diakui Ade, kalaupun dibuka juga tenaga kerja tidak boleh diambil dari orang luar, sebab kebanyakan sekarang di Indomaret Kebun Cengkeh dari Jawa. Padahal, mesti diberdayakan atau dipakai orang lokal, bahwa ada yang membantu tidak selesaikan persoalan. Maka harus diperhatikan serius DPRD dan pemerintah, jangan sampai program pemberdayaan ekonomi keluarga dan masyarakat yang dilakukan pemerintah selama ini gagal.
“Harusnya masyarakat kecil lebih diperhatikan. Kita tidak larang pemerintah memberikan ruang investasi bagi investor masuk, malah lebih bagus tapi harus ada perimbangan dan memperhatikan masyarakat. Kami minta DPRD lewat komisi terkait memperhatikannya, bisa undang dinas terkait dan pihak Indomaret untuk evaluasi. Bahwa kalau memberi ijin harus survey dan pemetaan secara benar, bukan saja lihat lokasi pembangunan tapi sosiologis masyarakat, jarak dengan usaha kecil warga dan perekrutan tenaga lokal,” pungkasnya.
Sementara Ibu Tati, salah satu pemilik kios juga mengaku, kehadiran Indomeret yang berada tepat depan kiosnya sangat mengganggu, karena banyak pelanggan tidak lagi berminat belanja, tapi ke Indomaret. “Indomaret didepan beta pung kios ini sangat mengganggu beta usaha kios, banyak pelanggan memilih bali (belanjag) di Indomeret,” keluhnya sedih. (MR-02)










Comment