AMBON,MRNews.com,- Walikota Ambon Richard Louhenapessy sayangkan, pelaksanaan kegiatan festival musik dan budaya tahun 2019 yang jadi bagian rangkaian HUT ke-444 kota Ambon minim publikasi. Akibatnya masyarakat Maluku khususnya kota Ambon tidak tahu tentang event ini yang berdampak pada partisipasi, juga akhirnya pesan event ini agar sampai ke nasional bahkan internasional “mandek”.
Padahal Ambon saat ini lagi gencar mensosialisasikan diri dengan brand sebagai kota musik dunia yang nantinya ditetapkan oleh UNESCO dalam sidangnya pada tahun ini. Jelas, penegasan walikota itu menjadi catatan penting dan serius bagi dinas pariwisata dan kebudayaan (Disparbud) yang harus bersinergi dengan stakeholder terkait untuk meningkatkan publikasi secara masif. Sebab tak hanya dalam kepentingan kota musik dunia tetapi menuju visit Ambon 2020.
“Festival musik dan budaya ini merupakan salah satu ajang yang dapat mewujudkan Ambon sebagai City of Music (kota musik dunia). Tapi kekurangan kita ada satu yakni kita kurang memberikan market. Pelaksanaan kegiatan banyak tetapi publikasinya kurang, kenapa sampai HUT kemarin orang banyak berikan apresiasi, karena kita seting perencanaan. Karena itu, kedepan kegiatan ini kita harus maksimalkan lewat publikasi. Sangat disayangkan,” tandas walikota saat membuka festival musik dan budaya tahun 2019 di Taman Budaya Provinsi Maluku, Selasa (17/9/19).
Sebabnya diakui walikota, tantangan yang dihadapi pemerintah kota (Pemkot) selama ini yakni masyarakat kota Ambon yang malas untuk menonton event-event seperti festival saat ini. Sebab orang Ambon semua tahu menyanyi, sehingga kemalasan muncul. Namun untuk mewujudkan Ambon sebagai City of Music, Pemkot selalu berupaya dan terus mendorong dengan berbagai kegiatan agar dapat Kota ini brand sebagai City Of Music.
“Kita selalu berupaya untuk menjadikan Ambon sebagi kota musik. Oleh karena itu, dalam seluruh strategis Pemkot kedepan ini, kita harus dorong untuk memiliki sebuah rebrands dan brands baru, karena sudah kita sepakat untuk brand baru kita ini kita dorong sektor musik sebagai tagline kita,” ujar Louhenapessy.
Louhenapessy menjelaskan, kenapa musik? karena Pemkot Ambon sepakat untuk membangun kota ini salah satunya adalah dengan mengedepankan musik dan wisata, sebab musik adalah DNA-nya orang Ambon. “Kita lagi berupaya semaksimal mungkin untuk City Of Music mendapatkan sebuah pengakuan secara global melalui unesco karena dengan diakuinya Ambon sebagai sebuah kota musik dunia, tentunya akan berdampak secara ekonomis. Oleh karena itu, kegiatan ini dapat mendorong Ambon sebagai kota musik,” beber dia.
Kepala Disparbud kota Ambon Rico Hayat tambahkan, adapun peserta yang mengikuti festival musik dan budaya yang terdiri dari beberapa kegiatan diantaranya lomba nyanyi solo yakni 106 peserta terbagi atas 66 peserta wanita dan 40 peserta pria, vocal grup 15 peserta, tarian daerah 27 peserta. Akhir festival ini akan diakhiri dengan pelaksanaan pemilihan jojaro dan mongare. (MR-02)











Comment