AMBON,MRNews.com,- Fenomena alam gerhana bulan yang jarang terjadi di dunia termasuk di Indonesia, nampaknya kali ini bisa dinikmati warga Kota Ambon-Maluku, Selasa (8/11) malam.
Walaupun tidak terlihat total karena tertutup awan, namun gerhana bulan menjadi karunia tersendiri bagi setiap daerah.
Kepala Stasiun Geofisika Ambon Djati Kuncoro katakan, puncak gerhana bulan total bisa dinikmati walau sedikit tertutup awan selama satu jam lebih. Dimana awal puncak gerhana bulan total ada di Maluku baru kemudian diikuti daerah lain.
“Jadi mulai totalitas gerhana bulan itu pada jam 19.16.39 WIT atau 1 jam 25 menit nikmati. Dengan totalitas puncak gerhana bulan total pada jam 19.59.11 WIT,” jelas Djati di kawasan Pattimura Park, lokasi pantauan.
Untuk memantau gerhana bulan total kata Djati, bukan saja BMKG, tetapi juga ada melibatkan BOSCA, ITB dan beberapa komunitas yang lakukan live streaming sejak pukul 18.12.05 WIT atau bulan terbit hingga gerhana bulan berakhir.
Meski tertutup awan menurutnya, gerhana bulan total terlihat tampak kemerahan, dengan seluruh piringan bulan tertutup oleh bayangan bumi.
“Hampir semua daerah di Maluku pada jam yang sama terlihat gerhana bulan yakni di Ambon, Namrole, Namlea, Tiakur, Piru, Masohi, Bula, Saumlaki, Langgur, Tual dan Dobo. Tapi kita tidak tahu apakah mendung atau berawan, tidak full,” tegasnya.
Sesuai data yang pihaknya miliki kata Djati, akhir gerhana penumbra di Ambon pada jam 22.57.43 WIT, dengan kondisi cahaya bulan seperti bulan purnama atau mata manusia sulit untuk melihat keredupannya.
“Insya Allah nanti tahun 2023, itu juga ada fenomena alam berupa gerhana matahari total (GMT),” pungkasnya.
Diketahui, puncak gerhana bulan total di Ambon turut diisi dengan penampilan 20 kelompok musik Ukulele dari anak-anak di Kota Ambon dan Kabupaten Maluku Tengah. (MR-02)











Comment