by

Usai Paripurna APBD 2024, DPRD Sikapi Proyek Pengaspalan Terminal Mardika

AMBON,MRNews.com,- Proyek pekerjaan pengaspalan terminal A1 dan A2 Mardika Kota Ambon hingga kini masih berjalan walau diduga semrawut karena tanpa adanya Patching di awal.

Bahkan Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon dalam hal ini Dinas Perhubungan (Dishub) belum juga mendengar desakan publik agar pekerjaan dihentikan sementara dan pihak ketiga, PT Ralmida Jaya dipanggil guna dievaluasi.

Demikian pula Penjabat Walikota Ambon Bodewin Wattimena sebagai pimpinan tertinggi dan pengambil kebijakan di kota ini belum juga bersikap atas proyek yang menelan anggaran 1,7 Miliar dari APBD Kota Ambon tahun 2023 itu.

Terkait hal itu, wakil rakyat DPRD kota Ambon yang pekan lalu berjanji bakal turun melihat proyek tersebut, kini kembali berucap akan sidak di lapangan proyek yang telah dikerjakan sejak 15 November lalu atau dua pekan itu.

“Janji pekan lalu. Tapi kan kita masih sibuk secara marathon dengan pembahasan Ranperda APBD Kota Ambon tahun 2024. Setelah sidang paripurna kita lihat,” tandas Ketua Komisi III DPRD Kota Ambon Margareth Siahay kepada awak media di DPRD, Rabu (29/11).

Politisi Golkar tu berjanji akan tindaklanjuti melalui rapat komisi untuk membahas lebih dulu sebelum nantinya turun kapan untuk melihat proyek itu.

“Nanti setelah paripurna besok saya akan coba himpun teman-teman komisi untuk rapat komisi terkait itu. Kita turun kapan nanti disampaikan,” urai Siahay.

Dia memastikan ketika turun dan kemudian kedapatan hasil pekerjaan di lapangan sesuai apa yang jadi dugaan publik, maka Pemkot dalam hal ini Dishub dan pihak ketiga harus dipanggil.

“Tentu kalau hasil di lapangan memang tidak sesuai akan kita panggil untuk evaluasi karena ini kan proyek yang memakan anggaran miliaran dan diperuntukkan bagi masyarakat banyak. Nanti kita lihat pada waktunya,” jelas Siahay.

Diberitakan sebelumnya, Proyek pengaspalan terminal A1 dan A2 Mardika Kota Ambon yang diduga Semrawut karena tanpa Patching diawal pekerjaan namun langsung diaspal, telah disoroti DPRD Kota Ambon.

Tak saja wakil rakyat, namun civil society juga angkat suara yang kali ini keras meminta pekerjaan pengaspalan terminal dihentikan sementara oleh pihak ketiga melalui pemerintah kota (Pemkot) Ambon sambil pihak ketiga dipanggil dan hasil laboratorium keluar.

Ketua DPD GMNI Maluku, Rony Pormes mengapresiasi upaya baik Pemkot untuk mengaspal terminal A1 dan A2 Mardika, yang merupakan itikad baik pemerintah terhadap kebutuhan rakyat kota Ambon khususnya di pasar Mardika. Sebab pasar merupakan pusat ekonomi yang utama di kota Ambon.

“Tapi saya minta proses pekerjaan pengaspalan yang sesuai pemberitaan media diduga tidak sesuai dengan mekanisme yang ada agar dihentikan sementara,” tandas Pormes kepada media ini di Ambon, Kamis (23/11).

Pihak ketiga menurut Pormes, harus bekerja secara profesional dan pemerintah Kota dalam hal ini dinas perhubungan (Dishub) harus ketat awasi, tidak boleh lemah. Karena proyek pengaspalan terminal menggunakan dana yang besar dari APBD kota senilai Rp 1,7 Miliar.

Karena tentunya akan berdampak pada kebutuhan rakyat kota Ambon yang bisa saja nanti menyusahakan rakyat sendiri, jika pengaspalan hasilnya tidak berkualitas.

“DPRD juga harus menjalankan fungsi untuk mengawasi seluruh program dan proyek pembangunan di kota Ambon ini agar bisa berjalan sebagaimana mestinya. DPRD harus beri atensi khusus pada proyek pengaspalan karena peruntukan bagi orang banyak,” tegasnya.

Penjabat Walikota Ambon tambah Pormes, harus juga memberi atensi terhadap proyek pengaspalan terminal Mardika dengan memanggil dinas perhubungan atau dinas teknis lainnya untuk meminta pertanggungjawaban atas proyek yang sudah berjalan sepekan itu terkait dugaan asal-asalan karena tanpa Patching tapi langsung diaspal.

“Tentu nanti kalau jadi kan rakyat kota Ambon khususnya dan Maluku pada umumnya akan nikmati hasilnya. Bapak Penjabat Walikota dan DPRD harus seriusi masalah ini agar proyek tersebut berjalan sebagaimana mestinya,” tegasnya lagi.

Lebih lanjut, bahwa bukan soal cepat selesai tanpa mengabaikan kualitas. Karena itu diharapkan proyek pengaspalan tersebut ada baiknya dihentikan sementara, sembari pemerintah kota (Pemkot) membicarakan dengan pihak ketiga untuk kedepankan kualitas pekerjaan agar hasilnya bisa dirasakan masyarakat dalam jangka waktu lama.

Senada, Koordinator Wilayah (Korwil) XI PP GMKI, Miraldo Andries juga berharap, proyek pekerjaan pengaspalan terminal Mardika A1 dan A2 bisa berjalan dengan cepat. Namun perlu menjadi catatan bahwa yang lebih dibutuhkan adalah soal kualitas.

“Sebab jalan ini kan punya manfaat tidak hanya sementara lalu rusak. Tapi harus jangka panjang, bertahan lama dan rakyat merasakan dampaknya. Maka Pemkot dan DPRD harus memberi atensi khusus atas proyek ini,” pintanya.

Atensi tersebut sambungnya, bila dimungkinkan pihak ketiga dan konsultan pengawas proyek agar dipanggil guna dievaluasi secara bersama, guna mengetahui sebab proyek pengaspalan jalan tidak didahului proses Patching lebih dulu.

“Jangan hanya ingin kejar waktu pekerjaan yang cepat tanpa pedulikan kualitas pekerjaan. Padahal kualitas sangat penting, karena kita bisa mendapat manfaat yang panjang, berkelanjutan bukan sementara,” terangnya.

“Jangan sampai satu dua bulan kedepan jalan sudah rusak lagi dan kembali dilakukan perbaikan. Itu kan kerja dua kali yang hanya untuk buang-buang anggaran. Maka diharapkan proses pekerjaan pengaspalan terminal dihentikan sementara sambil evaluasi berjalan terhadap pihak ketiga dan konsultan oleh Penjabat Walikota dan DPRD,” pinta advokat muda itu.

Sebelumnya, Ketua Komisi III DPRD Kota Ambon, Margaretha Siahay menegaskan, pihaknya sudah mendengar pengaspalan terminal Mardika telah dilakukan Pemkot melalui Dishub. Namun tinjauan ke lokasi baru masuk dalam rencana pasca seluruh agenda komisi dituntaskan.

“Setelah semua agenda di DPRD Kota Ambon selesai, kita akan jadwalkan untuk melakukan tinjauan ke Terminal Mardika. Mungkin pekan depan,” kata politisi Golkar ini di DPRD, Selasa (21/11).

Diakuinya, jika pekerjaan pengaspalan
dilakukan yang diduga Semrawut karena tanpa adanya proses Patching terlebih dulu, otomatis jalan yang dihasilkan pasti diragukan dalam segi kualitas.

“Tapi semua itu kan masih dugaan. DPRD Kota khususnya Komisi III akan cek langsung ke lapangan nanti. Sebab harapan kita semua, jalan yang dikerjakan ini harus berkualitas dan tahan lama, tidak boleh asal-asalan,” tegas legislator dua periode itu.

Diketahui, Terminal A1 dan A2 Mardika, Kota Ambon, Provinsi Maluku telah mulai dilakukan pekerjaan pengaspalan sejak pekan lalu hingga saat ini.

Proyek senilai Rp 1,7 Miliar bersumber dari APBD Kota Ambon 2023 itu, diduga mulai dikerjakan CV Ralmida Jaya, sejak tanggal 15 November 2023, diawali dengan pengaspalan di Terminal A2.

Proyek pengasapalan di Terminal A1 dan A2 Mardika itu merupakan program Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon melalui Dinas Perhubungan (Dishub).

Proses pengaspalan di dalam kawasan Terminal A2 dari 15 November 2023 hingga saat ini terbilang cukup cepat, atau dapat dikatakan telah mencapai kurang lebih 50 persen.

Namun, proses pengaspalan yang dilakukan sejak awal diduga “asal-asalan”. Bagaimana tidak, kondisi jalan yang berlubang dan tidak rata, enggan di-Patching terlebih dulu, melainkan langsung diaspal.

Sekedar tahu, Patching Aspal adalah metode perbaikan kerusakan–kerusakan pada badan jalan, terutama pada lapisan perkerasan dengan penutup aspal.

Metode pelaksaanaan pekerjaan Patching Jalan (Penambalan) bertujuan untuk memperbaiki berbagai kerusakan yang terjadi pada badan jalan, khususnya pada lapisan pekerasan dengan penutup aspal.

Sementara itu, dari hasil pantauan di Terminal A2, saat pengaspalan pertama kali dilakukan tanggal 15 November 2023 sekitar pukul 21.06 WIT, tidak nampak proses Patching dilakukan, melainkan langsung di-aspal.

Padahal, jika melihat kondisi jalan didalam Terminal A2 yang begitu parah, proses Patching sangatlah diperlukan sebelum melakukan pengaspalan agar menghasilkan kualitas jalan yang dapat bertahan lama.

Anehnya lagi, proses pengaspalan tersebut berbeda dengan penjelasan Pj Walikota Ambon, Bodewin Wattimena bahwa akan dilakukan perbaikan drainase terlebih dulu baru pengaspalan dilakukan.

Akan tetapi kenyataan di lapangan berbeda. Pengaspalan dilakukan terlebih dulu, bukan perbaikan drainase. Parahnya lagi, Kepala dinas perhubungan (Kadishub) Yan Suitela malah bilang keduanya dikerjakan bersamaan.

“Rencana awal memang pekerjaan drainase duluan dilakukan. Tapi alat ada di pakai di tempat lain, maka hari ini baru bisa masuk. Jadi mungkin bersamaan,” tandas Suitela via seluler, Rabu (15/11) lalu.

Suitela yang kemudian coba dikonfirmasi perihal pekerjaan pengaspalan terminal yang diduga Semrawut karena tanpa Patching namun langsung diaspal beralibi bahwa secara teknis, ada konsultan yang mengawasi pekerjaan dan pihaknya juga awasi.

“Memang secara teknis kan ada konsultan. Jadi pada prinsipnya dinas tetap melakukan pengawasan secara bersama-sama sehingga diharapkan pekerjaan sesuai dengan kontrak,” ujarnya via WhatsApp, Selasa (21/11).

Mengenai kualitas aspal yang tanpa Patching di hari pertama mulainya pekerjaan dilakukan, Suitela mengaku sampel aspal sudah diambil untuk dicek di laboratorium. Namun aspal yang baru dua hari lalu, bukan yang di hari pertama.

“Jadi dua hari kemaren sampel untuk aspal sudah diambil untuk dicek d laboratorium.Itu penjelasan dari pihak ketiga. Itu patching lap 1. Hasil Patching yang sementara diuji di laboratorium apakah sesuai ka seng,” jelasnya. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed