AMBON,MRNews.com,- Ujicoba rekayasa lalu lintas (Lalin) di kota Ambon, yang dilakukan mulai Kamis, 24 Mei 2018 oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Ambon dan Satlantas Polres Ambon, dinilai masyarat cukup berhasil untuk mengurai tingkat kemacetan. Apresiasi pun datang dari berbagai pihak, dengan mengharapkan ujicoba tidak hanya sesaat, tapi dapat diimplementasi terus.
“Perubahan arus Lalin yang dilakukan percobaan pada kawasan Batu Merah, Mardika, Belakang Soya, pertigaan Skip dan pertigaan PHB yang sering terjadi kemacetan, dikatakan dapat mengurai kemacetan. Semoga kemacetan yang menjadi keresahan masyarakat dapat terurai secara baik. Salut buat kebijakan Dishub Kota Ambon dan Satlantas Polres,” ujar salah satu elemen masyarakat yang juga akademisi Fakultas Hukum Unpatti, Dr Jemmy Pietersz dalam laman facebooknya, Jumat (25/5/2018)
Terhadap hal ini memang kata Pietersz, ada pengguna jalan raya di beberapa ruas jalan akan alami kerugian dengan jarak tempuh yang bertambah apabila dibandingkan jalur sebelumnya. Namun, adanya kebijakan ini maka kepentingan umum telah difasilitasi Dishub. Dimana perwujudan fungsi utama pemerintah dalam pengendalian Lalin merupakan upaya penerapan fungsi pengendalian pemerintahan (bestuur) terhadap masyarakat pengguna jalan raya. Karenanya harus ditunjang peran serta (inspraak) dari pengguna jalan raya untuk mematuhi perubahan arus Lalin ini.
Demikian pula, Ketua DPC GAMKI Kota Ambon, Barce Titioka yang mengaku, saat melintasi jalur-jalur itu, mengapresiasi kinerja Pemkot karena sangat terasa pengaturan Lalin cukup baik dan sepanjang sore tidak terlihat penumpukan kendaraan. Sehingga hal ini harus bisa dipertahankan dan dievalusi, karena benar-benar terasa perubahan signifikan. Intinya, yang baik harus didukung dan tetap ditingkatkan lagi.
“Ini sesungguhnya yang masyarakat harapkan. Batu Merah lancar aman. Salute!,” sambung Ketua Klasis GPM Kota Ambon, Pendeta Nick Rutumalessy dalam komentarnya pada laman facebook milik Pietersz.
Senada, aktivis Perempuan Maluku, Daniela Loupatty menyatakan, harus diakui, ada perubahan. Tetapi mesti dipertahankan, jangan hanya ujicoba. Sama halnya dengan Wilhelm Polway, yang mengatakan, sebenarnya masih kurang lagi. Karena sumber kemacetan terparah waktu sore hari ada di terminal Mardika, yaitu para PKL yang berjualan di dalam terminal dan gerobak-gerobak yang berjualan di atas trotoar harus dipindahkan, itu baru jelas.
Menanggapi respons positif publik, Kepala Bidang Angkutan Darat Dishub Kota Ambon, Corneles Pattiwaelapia berterima kasih dan mengharapkan terus dukungan masyarakat, terutama dapat mematuhi arus Lalin yang telah diatur dan tidak parkir kendaraan di sembarang tempat. Menyangkut sejumlah sopir angkot jurusan STAIN, Kebun Cengkeh yang demo di pos Satlantas Mutiara, dirinya mengaku tidak terkait ujicoba rekayasa Lalin, tapi karena ditilang polisi pada sepanjang jalan depan masjid An-Nur Batu Merah akibat mengambil/menurunkan penumpang, karena area terlarang.
“Daerah itu memang berbahaya. Tapi setelah negosiasi dengan petugas, uang tilang dikembalikan, dengan catatan tidak terulang dan harus ada sosialisasi, baru ditindak. Jadi bukan soal rekayasa Lalin. Menyangkut jalur, trayek Halong,Passo-Laha lewat Belso,Tanah Tinggi, Pegadaian baru ke terminal, sedangkan Tantui-STAIN, lewat Belso, diarahkan ke jalan Cendrawasih dan ke jalan Tulukabessy, kalau lengang. Penilaian petugas, supaya tak ada penumpukan kendaraan di jalan Tulukabessy maka diarahkan ke pegadaian, baru terminal. Rutenya jauh, tapi demi kebaikan bersama,” tutup Neles kepada media di ruang kerjanya, Jumat (25/5/2018). (MR-05).











Comment