AMBON,MRNews.com,- Selain PT Adhi Karya (Persero) TbK, salah satu BUMN konstruksi yang memiliki kredibilitas atau rekam jejak baik dan positif di Indonesia adalah PT Waskita Karya.
Sejak berdiri pada tahun 1961 melalui proses nasionalisasi perusahaan asing
yang awalnya bernama Volker Aannemings Maatschapiij N.V., PT Waskita Karya terus dipercaya pemerintah memegang proyek besar termasuk pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan, sembari terus lakukan transformasi digital.
Sebagai mitra kerja dengan Kementerian BUMN, Anggota DPR-RI dapil Maluku Hendrik Lewerissa pun beberkan sejumlah peran Waskita Karya di dunia konstruksi Indonesia sehingga mampu bertahan dan terus bertranformasi.
Diantaranya berhasil meraih beberapa kontrak proyek baru IKN antara lain proyek Gedung Sekretariat Presiden dan Bangunan
Pendukung pada Kawasan Istana Kepresidenan IKN dengan total nilai
kontrak mencapai Rp1,35 Triliun.
Gedung Sekretariat Presiden (Setpres) dan Bangunan Pendukung pada Kawasan Istana
Kepresidenan IKN rencananya akan dibangun diatas tanah seluas 50.678 m2 dan luas bangunan 33.312 m2 yang terbagi menjadi 3 bangunan yaitu Sekretariat Presiden, Mess Paspampres dan Bangunan Pendukung.
“Pembangunan ini membutuhkan waktu pembangunan selama 720 hari kalender dengan target penyelesaian pekerjaan pada akhir tahun 2024,” urai Lewerissa saat sosialisasi tentang BUMN Karya memberi kontribusi terhadap pembangunan IKN kepada para pelaku usaha kecil menengah, mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, paguyuban perempuan di Kota Ambon belum lama ini.
Waskita berhasil meraih proyek Gedung Setpres dan Bangunan Pendukung pada Kawasan Istana Kepresidenan IKN ini menurutnya karena pengalaman Waskita dalam mengerjakan pembangunan gedung ternama dengan tepat mutu dan tepat waktu seperti Gedung Perpustakaan Nasional Jakarta, Renovasi Masjid Istiqlal, Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, Terminal 1, Terminal 2, & Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno Hatta dan banyak lagi.
Selain itu, Waskita juga berhasil menangkan 2 tender proyek jalan yaitu Proyek Jalan Tol IKN Segmen Simpang Tempadung – Jembatan Pulau Balang senilai Rp 990
miliar dan Pembangunan Jalan Kerja/Logistik IKN (KIPP) Paket Pembangunan Jalan Lingkar Sepaku Segmen 4 senilai Rp182 miliar.
“Waskita berhasil meraih proyek jalan di IKN ini dikarenakan pengalaman Waskita
Karya dalam membangun jalan tol Trans-Jawa dan jalan tol Trans Sumatra, serta
berbagai jembatan antara lain Jembatan Merah Putih Ambon, Jembatan Pasopati
Bandung, dan Jembatan Kali Kuto Semarang,” urainya.
Kemudian, Waskita juga dipercaya mengerjakan proyek pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN dengan kontrak senilai Rp639 miliar.
Pembangunan IPAL ini akan menjadi support utama dalam pengelolaan air limbah di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan – IKN, sehingga tetap menjaga kualitas
air tanah & mengurangi pencemaran lingkungan.

“Proyek ini rencananya akan dikerjakan dalam waktu 742 hari dan akan selesai akhir 2024. Sementara lingkup pekerjaan Waskita antara lain yaitu, pekerjaan persiapan, unit IPAL, pekerjaan mekanikal & elektrikal, jalan & lanskap dan
dehidrator lumpur,” ulas Ketua DPD Gerindra Maluku itu.
Munculnya pandemi yang datang di tahun 2020 menyebabkan realisasi proyek-proyek
yang sudah direncanakan tidak berjalan sesuai harapan. Kondisi ini mengharuskan manajemen Waskita membuat program penyehatan keuangan yang terdiri dari 8 stream.
Dari 8 stream itu, salah satu strateginya adalah membuat transformasi bisnis dengan digitalisasi sebagai salah satu pilar transformasi. Digitalisasi dijadikan sebagai salah satu pilar karena keyakinan Waskita bahwa digitalisasi ini akan meningkatkan produktivitas dan efisiensi.
“Dengan ditetapkannya digitalisasi sebagai salah satu pilar transformasi bisnis Waskita
Karya, jumlah aplikasi yang dimanfaatkan perusahaan pun berkembang pesat. Dari
aplikasi ERP dan dua aplikasi untuk line of business, sampai tahun 2022 ini, digitalisasi
di Waskita Karya sudah menghasilkan total 26 aplikasi.
Digitalisasi pada proses bisnis Waskita Karya yang terbagi dalam empat tahap yakni bidding/marketing; terdapat winning war room dengan memanfaatkan aplikasi “Welcome”, engineering; memanfaatkan virtual desktop infrastructure (VDI).
Kemudian procurement; Oktober 2022 lalu meluncurkan aplikasi e-procurement yang dinamai We-Proc. Aplikasi pengadaan ini mewadahi pembeli dan rekanan untuk lakukan pengadaan secara digital. Terakhir
construction;Waskita manfaatkan teknologi virtual reality sebagai media koordinasi BIM.
Tak hanya berhenti di implementasi teknologi, diuraikan HL, sapaan akrab legislator yang pernah jadi calon Wakil Gubernur Maluku itu, Waskita Karya kini sedang berupaya untuk meraih gelar National Lighthouse.
“Sebagai informasi, National Lighthouse
Industri 4.0 menjadi contoh dalam transformasi digital dan penerapan teknologi 4.0. Perusahaan-perusahaan ini dianggap layak menjadi role model bagi pelaku industri di sektornya serta dapat menjadi mitra dialog pemerintah dalam implementasi Industri 4.0 di Indonesia,” kunci Lewerissa. (MR-02)











Comment