by

Tradisi Cuci Negeri Soya, Budaya Tak Benda Indonesia Pemersatu Anak Negeri

AMBON,MRNews.com,- Tradisi Adat Cuci Negeri Soya, merupakan mozaik budaya Negeri dibawah kaki Gunung Sirimau Kota Ambon itu yang masih terjaga sejak dulu hingga saat ini di tahun 2023 dan diharapkan terus dilestarikan guna mempersatukan anak cucu Negeri.

Setelah beberapa hari sebelumnya anak Negeri Soya melakukan pembersihan lingkungan Negeri, sehari kemudian dilakukan upacara Adat Cuci Negeri Soya yang dipimpin Upulatu Negeri Soya, Jhon L Rehatta di Baileo Samasuru-Negeri Soya, Jum’at (8/12/2023).

Tradisi ini setiap tahunnya dilaksanakan pada minggu pertama atau kedua bulan Desember bertepatan Minggu Adventus Natal dengan serangkaian acara adat yaitu pembersihan Negeri, Naik ke Gunung Sirimau, Upacara Adat Cuci Negeri, Cuci Air (Wai Werhalouw dan Unuwei) dan Masuk Kain Gandong hingga berakhir dengan jamuan teh untuk tetamu.

Upulatu dalam petuahnya katakan, Adat Cuci Negeri merupakan Tradisi masyarakat Negeri Soya yang harus terus dilestarikan. Merupakan tradisi yang sudah berlangsung dari tempo dulu hingga kini dan kepada generasi berikutnya.

“Acara adat ini kebanggaan negeri Soya sejak turun temurun. Maka tahun 2015 silam, pemerintah Indonesia tetapkannya menjadi warisan budaya Tak Benda Nasional. Katong bangga. Tradisi adat ini harus terus diwarisi ke anak cucu, tidak boleh sampai disini. Ini adat yang mempersatukan katong,” sebutnya.

Makna upacara Cuci Negeri ini selain untuk membersihkan Negeri kata juga berarti menyucikan diri dari perasaan perseteruan, kedengkian, curiga-mencurigai (Simbolnya pada : turun mencuci tangan, kaki, dan muka di air Wai Werhalouw dan Unuwei).

Sehingga, pada Acara Cuci Negeri tersebut, Upulatu Soya juga meminta seluruh masyarakat Negeri untuk membersihkan hati dalam membangun Negeri tercinta terutama akan memasuki hari Natal.

“Bersihkan hati demi membangun Negeri ini kedepan. Laeng sayang laeng, laeng mengasihi laeng karena katong satu. Katong bersyukur, keberadaan pa Sekkot Ambon juga anak Negeri Soya di momen istimewa ini jadi kekuatan untuk terus melindungi dan mempermudah katong par bangun negeri,” ungkapnya.

Sementara, Ketua Majelis Jemaat GPM Soya, Pendeta Wem Ayal akui, tradisi adat Cuci Negeri Soya yang sudah berlangsung sejak dulu ini menunjukkan hubungan anak negeri dengan Tuhan, alam dan sesama manusia. Yang maknanya tidak saja bersih lingkungan, negeri tapi bersih hati, hidup, diri yang adalah bagian dari iman.

“Warisan budaya ini harus terus dilestarikan hingga anak cucu sebagai kebanggaan Negeri Soya di Kota Ambon. Ini budaya dan sarana mempersatukan kita sebagai anak Negeri,” jelasnya.

Dirinya pun berharap, Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon melalui Dinas Pariwisata agar dapat mempromosikan mozaik budaya ini ke luar Maluku hingga luar negeri selaku satu daya tarik budaya, sosial dan adat yang juga bisa ada nilai ekonomis ke masyarakat Soya sendiri.

Seperti sebelumnya, acara adat Cuci Negeri Soya tahun ini juga istimewa karena diikuti Sekretaris Kota (Sekkot) Ambon Agus Ririmasse yang adalah anak Negeri Soya dari Teung Saumulu.

“Saya bersyukur karena untuk kedua kalinya sejak menjadi Sekkot Ambon, bisa mengikuti adat Cuci Negeri Soya. Jadi kebanggaan tersendiri. Karena momen ini sekali dalam setahun bahkan menjadi cerita manis bagi anak-anak dan cucu saya kelak,” ujarnya.

Ririmasse lantas meminta, tradisi yang sudah berlangsung sejak dulu ini harus tetap dijaga kekhasannya, kesakralan dan tetap lestarikan untuk anak cucu, sebagai wadah yang kuat dalam mempersatukan anak cucu di Negeri Soya dari keperbedaan.

Diketahui, pada kesempatan itu, Sekretaris Negeri Soya juga menyampaikan sumbangan terkait pelaksanaan tradisi adat cuci negeri Soya tahun 2023 dari 36 orang penyumbang berupa uang tunai, sopi, anggur merah, rokok, tampa siri dan lainnya. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed