by

Tak Ada Anggaran Bangun Rumah Singgah Bagi Gepeng di Ambon

AMBON,MRNews.com,- Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon tidak mengakomodir anggaran untuk pembangunan rumah singgah termasuk operasional bagi gelandangan dan pengemis (Gepeng) di Kota Ambon.

Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Kota Ambon, Nurhayati Jasin katakan, pihaknya tahun lalu telah usulkan anggaran bagi pembangunan rumah singgah senilai Rp 2 Miliar lebih termasuk operasional untuk masuk di tahun anggaran 2023, namun ditolak.

“2023 kita usul anggarannya, sekitar Rp 2,8 Miliar lah kalau tidak salah termasuk dengan operasionalnya. Tapi ditolak dengan alasan anggaran daerah tidak mencukupi,” terang Jasin di Balaikota, Selasa (31/1).

Ditolaknya anggaran pembangunan rumah singgah bagi Gepeng di tahun 2023 ini kata dia, bukan pertama kali. Namun sudah sering diusulkan sejak 2018 tapi fakta yang terjadi sama, kekurangan anggaran atau kena refocusing.

“Selama beta di Dinas Sosial dari 2018 itu anggaran pembangunan rumah singgah di usulkan tapi tetap ditolak pimpinan dengan alasan kekurangan anggaran daerah. Memang 2020- 2021 itu Covid-19 yah,” terang Jasin.

Padahal menurutnya, keberadaan rumah singgah itu penting. Agar ketika razia atau operasi dilakukan, bisa menampung sementara Gepeng disana untuk pembinaan tetapi sekaligus memberdayakan mereka sesuai keahlian agar bisa mandiri.

“Sekarang kan percuma kalau katong razia sama dengan katong buang garam di laut saja. Tidak ada solusi. Kan sekarang kalau razia, kita kembalikan kemana,” bebernya.

“Mereka kan bukan cuma masuk di rumah singgah pasca razia, tapi mereka akan dididik serta dilakukan pemberdayaan atau rehabilitasi sosial. Tapi kan sekarang dengan kondisi itu tidak bisa dilakukan,” tukasnya.

Dengan tidak adanya rumah singgah tentu kata Jasin, ketika razia tidak bisa menampung tapi hanya pembinaan sehari dan langsung dikembalikan lagi. Beda jika ada rumah singgah.

Menyoal jumlah Gepeng sejauh ini yang menjamur di Kota Ambon dan terdata di Dinsos Jasin mengaku, ada 200 lebih. Hanya saja, tiap saat mereka sulit dijangkau.

“Kalau Gepeng sekarang kayanya ada 200 lebih. Tapi kan seng setiap saat katong dapat dong. Jadi kadang banyak, kadang su seng ada, begitu. Karena paling dominan itu bukan orang sini (Ambon-red,” urainya.

“Jadi ketika katong kembalikan mereka itu, pas kapal balik lagi ke Ambon, mereka sudah ada. Paling banyak Gepeng itu dari daerah Sulawesi Tenggara (Sultra),” pungkas isteri mantan Sekda Maluku itu. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed