AMBON,MRNews.com,- Belum juga sehari kebijakan rekayasa Lalu Lintas lintas (Lalin) untuk mengurai puncak kemacetan di jalan Tulukabessy-Ambon berjalan, protes dari para supir Angkutan Kota (Angkot) Karang Panjang, Ahuru, Kopertis dan lainnya yang kena dampak sudah dilayangkan.
Dibawah pimpinan pengurus Asosiasi Supir Angkot Kota Ambon (ASKA), mereka menyeruduk Balaikota Ambon dan ingin meminta penjelasan Dinas Perhubungan (Dishub) sebagai pihak bertanggungjawab atas 10 hari kebijakan rekayasa Lalin.
“Kebijakan rekayasa Lalin ini sangat mengganggu pemasukan kami sebagai supir. Bahkan sejak pagi hingga siang ini, target 50 persen pun belum tercapai, anjlok sama sekali,” cetus salah satu supir Angkot jalur Karpan, Senin (17/7).
Paulus Nikijuluw, Ketua ASKA Kota Ambon berharap rencana kebijakan rekayasa Lalin itu agar ditinjau ulang bahkan bila perlu dihentikan dan kembali pada pengaturan semula tanpa menyusahkan supir Angkot yang juga butuh pendapatan atau pemasukan bagi hidup mereka.
“Dampaknya ke pendapatan kami supir Angkot di 6 jalur menurun maka rekayasa Lalin 10 hari kami tolak. Biasa dapat penumpang transit dari luar kota, untung disitu tapi sekarang tidak. Tapi sudah ada titik temu, Senin dan Selasa rekayasa tetap jalan sebagai sampel data, nanti Rabu mulai kembali ke awal,” jelasnya.
Merespons aksi itu, Kadishub Kota Ambon Robby Sapulette katakan, kebijakan rekayasa Lalin dalam rangka mengkaji kapasitas jalan Tulukabessy yang volume kendaraan khususnya pada jam puncak sangat tinggi.
“Atas masukan dan aspirasi para supir Angkot, dan lewat diskusi bersama ASKA dan perwakilan jalur, maka sudah kita sepakati rekayasa Lalin ini akan tetap jalan sampai hari Selasa besok (hari ini-red) sebagai evaluasi,” jelas Sapulette di Balaikota.

Setelah dua hari itu lanjut Sapulette, akan difungsikan kembali para supir Angkot ini yang lewati jalur yang sementara direkayasa, akan dikembalikan pada jalur berdasarkan SK Walikota nomor 614.
“Kami tetap pantau. Saat jam puncak sore hari, karakteristik lalu lintas dengan kapasitas yang ada di ruas jalan Tulukabessy seperti apa. Ini akan jadi bahan pertimbangan dan usulan pemerintah kota ke pemerintah provinsi atau pusat bahwa kapasitas jalan sudah lagi tidak bisa mengantisipasi pertumbuhan lalu lintas yang rata-rata di Kota Ambon dalam setahun diatas 10 persen,” jelasnya.
Memang disadari akibat kebijakan ini tentu berdampak pada menurunnya pemasukan Angkot dan karena itu protes dilakukan. Namun sulit dihindari seiring padatnya kendaraan dengan volume jalan yang kecil, maka butuh alternatif solusi.
“Butuh peran serta dan kerjasama semua pihak termasuk asosiasi, supir Angkot, pengusaha untuk melihat Ambon lebih baik, tidak macet. Ini semua demi kepentingan bersama,” tegasnya.
Selain jalan Tulukabessy tambah Sapulette, rekayasa Lalin juga berguna untuk melihat sejauh mana data riil kepadatan lalu lintas pada ruas jalan Jenderal Sudirman dan Rijali sebagai tiga ruas utama puncak macet di Kota Ambon. (MR-02)








Comment