by

Serukan Damai, Ratusan Perempuan Kei Longmarch Turun ke Jalan

-Maluku-1,267 views

AMBON,MRNews.com – Berangkat dari keprihatinan atas bentrokan antar warga yang kembali pecah antara pemuda Banda Eli dan Yarler, yang terjadi Selasa (31/1) malam, memicu perhatian sejumlah pihak.

Tak terkecuali perempuan Kei (Vatvat Evav) yang merasa turut terpanggil, atas kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) yang akhir-akhir ini terpantau massif terjadi di tanah Evav.

Dengan mengenakan kain khas perempuan Kei, ratusan peserta aksi dari semua kalangan baik Islam, Kristen, Katolik, pelajar, mahasiswa, pedagang, papalele bahu membahu longmarch meneriakkan perdamaian.

Salah satu koordinator aksi, Ririn Prasetyo kepada media ini, Kamis (2/2) via sambungan telepon mengaku, aksi yang dilakukan Perempuan Kei ini murni bentuk keprihatinan dan kepedulian bagi Kota Tual.

“Aksi ini murni bentuk keprihatinan dan kepedulian bagi masyarakat kota Tual yang tak henti-hentinya bertikai dan saling serang,” ungkapnya.

Kata dia, awal pihaknya pesimis dan takut jika tidak ada yang mau turut serta dalam longmarch yang berlangsung dari pukul 16:00 Wit dengan titik kumpul pertigaan Wearhir, UN Wartel dan finish di depan kantor DPR Kota Tual.

Namun diluar dugaan lanjutnya, seruan yang berawal dari sosial media Facebook ini sudah dipantau ratusan orang terbukti dengan antuasiasme masyarakat yang menunggu dari tadi di depan jalan, langsung bergabung tanpa di komando.

“Tujuan aksi tadi hanya ingin membuktikan bahwa masalah yang terjadi bukan masalah SARA namun murni kesalahan pahaman,” cetusnya.

Perempuan yang merupakan salah satu volunteer pendidikan kota Tual ini menambahkan, meski tadi disambut dengan amarah dan kekecewaan tapi paling tidak pihaknya bisa mendengarkan dan saling berbicara.

Bahkan mereka yang bertikai pun sadar diri bahwa ini aksi dari perempuan Kei maka diberikan jalan dan penghormatan setinggi tingginya.

“Yah paling tidak panah-panah dan parang yang digenggam langsung diturunkan saat melihat saudara perempuannya turun ke jalan. Ini membuktikan Fanganan itu masih ada, slogan mati untuk batas tanah dan saudara perempuan tetap dihargai,” ungkapnya.

Ditambahkan, aksi yang dilakukan semata-mata bukan untuk mendamaikan namun sebagai bentuk kepedulian perempuan Evav, terhadap kondisi yang masih berlangsung tanpa ujung. (MR-03)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed