AMBON,MRNews.Com.-Sudah saatnya Stadion Mandala Remaja Karang Panjang, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon,Maluku,diserahkan pengelolaannya ke pihak swasta untuk membangkitkan atmosfer persepakbolaan daerah ini menuju kasta tertinggi persepakbolaan Indonesia di kemudian hari. Untuk mendukung keinginan masyarakat sepakbola ini perlu diterbitkan Peraturan Daerah sebagai payung hukum bagi pemerintah daerah Maluku agar menghindari keberatan-keberatan pihak-pihak tertentu yang tak menginginkan kemajuan sepakbola lokal. ’’Semua terserah komitmen Pemerintah Provinsi Maluku,dalam hal ini gubernur dan pihak DPRD Maluku,sebab mereka merupakan para pemangku kepentingan terkait pengelolaan Stadion Mandala Remaja di Karpan.Pada prinsipnya masyarakat setelah laga Persipura Jayapura menghadapi Pelauw Putra di Piala Indonesia pada Selasa lalu sangat menginginkan secepatnya Stadion Mandala Remaja diswastanisasi,’’ sahut jurnalis olahraga senior,Rony Samloy, saat dia tampil sebagai narasumber utama Dialog Olahraga RRI Ambon, Jumat pagi, 21 Desember 2018.Menjawab pertanyaan presenter RRI Ambon Niar Abdul Litiloly soal perlunya Stadion Mandala Remaja Ambon dikelola pihak swasta, Samloy berujar itu merupakan keniscayaan jika kita semua mengharapkan kelak ada tim asal Ambon berlaga di Liga 1 nasional atau kasta tertinggi sepakbola nasional. “Dari infrastruktur yang ada, Stadion Mandala Remaja Karpan memang memiliki banyak kekurangan, misalnya rumput yang sudah tidak layak, drainase yang tidak baik, tembok pembatas lapangan dengan penonton yang terlalu rendah, dan lampu stadion yang rusak, sehingga belum layak digelar pertandingan-pertandingan resmi seperti Liga 1, Liga 2 atau Piala Indonesia. Karena pengelolaannya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah melalui Biro Perlengkapan dan Aset Daerah praktis perbaikannya diserahkan ke pemda, tapi coba lihat saat ini, apa yang terjadi. Nah, kalau diserahkan ke swasta, pasti perbaikan Stadion dilakukan secara bertahap dan keuntungan dari digelarnya pertandingan-pertandingan atau partai usiran disepakati,misalnya 70:30 untuk pihak swasta, tetapi apakah pemda bersedia menerima kenyataan ini,’’ terangnya. Samloy mengakui pada era 1980an Stadion Mandala Remaja Karpan termasuk salah satu stadion terbaik di Maluku,terutama di Indonesia, namun akibat pengelolaan dan pemeliharaan yang asal-asalan dari pemda menyebabkan kondisi stadion kebanggaan orang Ambon ini kian hari kian memprihatinkan. ’’Pengalaman saya meliput event-event olahraga di daerah-daerah lain di mana saya sudah masuk meliput di Stadion Mattoanging di Makassar, Stadion Gelora Kie Raha di Ternate, Stadion Gelora Ambang di Bolaang Mongondow, Stadion Klabat di Manado, dan stadion-stadion lain di Jawa, Kalimantan dan Sumatera, di satu sisi saya bangga jika membandingkannya dengan Stadion Mandala Remaja Karpan, akan tetapi di sisi lain, dalam hati saya menangis jika melihat pengelolaan Stadion Mandala Remaja Karpan yang di luar harapan masyarakat.Untung saja masih ada tembok pembatas, kalau tidak di dalam Stadion Mandala Remaja Karpan itu dijadikan tempat beternak sapi dan kambing oleh masyarakat,’’ ujarnya prihatin. Sesuai UU Sistem Keolahragaan Nasional Nomor 3 Tahun 2005, terang Samloy, pembinaan olahraga adalah tanggung jawab tiga tungku, masyarakat, pemerintah dan pihak swasta. ’’Kalau secara normative, tidak salah kok kalau Stadion Mandala Remaja Karpan diserahkan saja ke pihak swasta untuk dikelola. Kalau pengelolaannya berlangsung profesional, akan ada banyak partai pertandingan bergengsi digelar di Ambon dan keinginan tim-tim Liga Indonesia,seperti Perseru Serui menjadikan Stadion Mandala Remaja Karpan sebagai homebase mereka dapat terwujud melalui kesepakatan-kesepakatan yang dibuat nanti antara pemda dan swasta. Selain itu tentunya kondisi ini akan memacu nadi pembinaan sepakbola di berbagai kelompok usia,terutama untuk kelompok usia muda.Sebab, untuk saat ini masih sangat sulit karena biaya pemakaian stadion sangat tinggi,’’ bebernya. Sebagai pengurus KONI Maluku masa tugas 2013-2017, diakui Samloy, pengelolaan Stadion Mandala Remaja Karpan ke pihak swasta pernah diputuskan dalam Rapat Anggota KONI tahun 2014, akan tetapi ketika proyeknya ingin dilakukan Kementerian Pemuda dan Olahraga tiba-tiba dibatalkan dan proyeknya dialihkan ke Papua. ’’Jadi boleh dibilang bukan pemda tidak mampu, tetapi mereka tidak mau. Kita ini ibarat negeri antah berantah. Ada pemimpinnya, akan tetapi seakan-akan tidak ada pemimpin rakyat di daerah ini. Tipikal pemimpin kita memang habis makan lalu tidur sono atau tidur nyenyak, kurang inovatif dan malas berimprovisasi. Harapan saya semoga pada pemerintahan berikutnya, pak Murad Ismael dan pak Abas Orno,mereka mau dan mampu menjawab kerinduan masyarakat sepakbola untuk menyerahkan pengelolaan Stadion Mandala Remaja Karpan ke pihak swasta,’’ serunya. Samloy menjelaskan pengelolaan sepakbola akan berefek domino ke sektor pemberdayaan ekonomi masyarakat dan sektor-sektor lain.’’Bayangkan selain harga tiket, penonton yang datang ke stadion juga bisa membeli merchandise klub-klub lokal maupun klub-klub kontestan Liga Indonesia, oleh-oleh khas Ambon, dan mengisi waktu jeda mereka bisa bertamasya ke tempat-tempat wisata menikmati alam dan kuliner Ambon. Apakah pejabat-pejabat kita punya mata hati melihat hal ini. Pejabat-pejabat kita itu mereka bukan buta mata, tapi buta hati.Ini bukti kalau politik lah leading sektor pembangunan Maluku. Padahal, kalau mau bersaing dengan daerah lain, olahraga dan musik juga harus jadi leading sector pembangunan.Di pentas-pentas olahraga, ketika atlet meraih medali maka bendera Indonesia dan bendera daerah yang dinaikan, bukan bendera partai politik,’’ cibirnya. Tampil sebagai narasumber di ujung telepon, Ketua Asosiasi Provinsi PSSI Maluku Sofyan Chang Lestaluhu juga sependapat jika Stadion Mandala Remaja Karpan dikelola pihak swasta. ’’Ada dua opsi sebenarnya yang ditawarkan Asprov PSSI Maluku ke pemda, yakni rehabilitasi Stadion Mandala Remaja tetap dilakukan pihak pemda, dan opsi kedua diserahkan ke pihak swasta dengan pembagian hasil yang proporsional. Ini dua opsi yang sudah kita tawarkan, akan tetapi sampai saat ini belum ada respons positif pemda,’’ ulasnya. Lestaluhu menyetujui jika pengelolaan Stadion Mandala Remaja Karpan dilakukan pihak swasta akan memudahkan tim-tim elite lainnya berlaga di Ambon,baik sebagai homebase maupun untuk partai-partai usiran. ’’Harapan kita semoga wacana ini menjadi kenyataan,’’ tutupnya.(MR-03).
Saatnya Stadion Mandala Remaja Ambon Dikelola Swasta










Comment