by

Ron Pisang, Pesona Negeri Rutong yang Masih Terawat

AMBON,MRNews.com,- Rutong merupakan salah satu Negeri adat di Kecamatan Leitimur Selatan (Leitisel) Kota Ambon yang berkomitmen menjaga nilai budaya, ekowisata dan adat istiadatnya sedari dulu hingga kini.

Salah satunya wisata budaya “Roon Pisang”, selain dansa tali, katreji dan cakalele. Di keempat wisata budaya dan adat ini, keterlibatan orang dewasa sudah biasa karena mereka pelaku dan penutur sejarah.

Sementara yang luar biasa tentu ikutnya anak-anak sebagai penerus wisata budaya dan adat itu. Agar mereka tetap mengingat, menjaga serta melestarikan sehingga tidak punah dimakan perkembangan informasi teknologi yang “mewabah”.

Soal budaya Ron pisang, sebelum prosesi berjalan, di satu lokasi dibuat daun kelapa muda atau janur kuning melingkar sebagai tanda pintu masuk pada jalur tali yang dibalut dengan daun kelapa dan dedaunan sebagai rute.

Hal itu guna memudahkan tamu undangan dan pengunjung berjalan sambil bergandeng tangan diiringi lagu hingga berakhir ditengah. Tepat di tengah lokasi itu, sudah ada beberapa gantungan pisang yang akan dipotong undangan khusus.

Namun, tidak gratis. Sekali potong tentu ada nilainya, bervariasi. Yah, orang yang berhasil potong pisang, harus memberi donasi sesuai jumlah yang ditentukan.

Istilahnya, sebagai bentuk sumbangan. Yang bersangkutan bayar dan akan mendapat pisang itu. Usai momen itu, barulah para penikmat Ron Pisang keluar.

Menariknya, atraksi wisata budaya Ron Pisang Rutong ini turut dinikmati Walikota Vlissingen Bas Van den Tilaar, Wakil Walikota Vlissingen Albert Vader dan Ketua Sister City Ambon-Vlissingen (SSVA) Bob Latuheru bersama para isteri, serta wisatawan mancanegara lainnya.

Saking menikmati, mereka nekat basah-basahan ditengah hujan yang turun dan memotong pisang.

“Ini wisata budaya yang luar biasa. Harus terus dijaga, dirawat. Tidak boleh hilang. Juga ada cakalele, dansa tali dan orlapei. Semua budaya ini membuat Ambon dikenal. Kami pun sangat senang bisa datang kesini menikmatinya,” harap Walikota Vlissingen, Minggu (19/2).

Upulatu Negeri Rutong, Reza Valdo Maspaitella katakan, Ron pisang ini bagian dari cara pihaknya memadukan tari seni budaya dan hiburan, dengan bagaimana menarik sumbangan atau donasi secara artistik, kultural.

“Donasi yang termahal adalah pisangnya. Jadi dalam prosesi sesungguhnya, biasa satu orang katakan bahwa satu Ron pisang ini, saya bayar 5 juta misalnya, atau ada yang juga minta 10 juta. Sampai akhirnya siapa yang memutuskan, dialah yang akan membayar sumbangan dan membawa pulang pisang,” tandas Reza.

Untuk terus melestarikan wisata budaya ini, sebut Reza, di Negeri Rutong telah ada lembaga budaya Lopurisa. Lembaga itu akan melatih anak-anak kecil tentang adat dan budaya Negeri Rutong.

Sehingga atraksi budaya tak saja Ron Pisang, tapi juga dansa tali, cakalele, katreji, anak-anak hingga Lansia terlibat. Ini cara merawat budaya di Negeri Rutong.

“Acara-acara semacam inilah yang kita giatkan (pesona negeri Rutong-red), agar mereka bisa tampil. Bahkan sering sekali di acara tertentu Pemerintah Kota (Pemkot) dan Provinsi mengundang lembaga budaya Lopurisa,” tandasnya lagi.

Selain beberapa wisata budaya dan adat yang disebutkan itu, Negeri Rutong juga menyajikan sagu tradisional, mie berbahan dasar sagu hingga minuman jenis “Wine” berbahan dasar buah pala, sirsak, tomy-tomy dan lainnya. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed