by

Rawat NKRI Berkeadilan & Damai Melalui Menyanyi

-Agama-1,257 views

AMBON,MRNews.com,- Dari Maluku untuk Indonesia, kita rawat NKRI yang damai dan berkeadilan melalui budaya menyanyi. Karena Maluku rumah belajar hidup basudara dalam keberagaman agama, budaya dan politik. Itu tergambar dari begitu indah dan manisnya persaudaraan sejati orang basudara dewasa ini. Buktinya, adanya dukungan serta partisipasi aktif seluruh umat beragama di Maluku dalam mensukseskan event pesta paduan suara gerejani (Pesparani) Nasional Pertama, juga pelaksanaan MTQ dan Pesparawi nasional beberapa tahun sebelumnya.

“Tema seminar nasional sangat relevan dengan upaya pemerintah provinsi untuk mengembangkan Maluku sebagai laboratorium kerukunan dan perdamaian antar suku dan agama terbaik di Indonesia, bahkan dunia. Karena kita terus belajar dari konflik sosial yang pernah terjadi Maluku tahun 1999 lalu. Dimana pengalaman pembangunan perdamaian di Maluku, dapat dikatakan jadi salah satu contoh peace building terbaik di Indonesia dan dunia,” kata Gubernur Maluku, Said Assagaff saat seminar dalam rangka Pesparani bertema Dari Maluku untuk Indonesia, kita rawat NKRI yang damai dan berkeadilan melalui budaya menyanyi di Islamic Center, Waehaong, Rabu (31/10/18).

Bertolak dari success  story proses rekonsiliasi dan pembangunan perdamaian pasca konflik di Maluku serta makin tingginya kesadaran masyarakat untuk membangun budaya damai sebagai modal sosial baru yang dimiliki masyarakat Maluku, maka point penting yang terus dimaknai bersama yakni pertama, makin berkembangnya kesadaran masyarakat untuk mengembangkan kerukunan umat beragama dan persaudaraan sejati; kedua, tumbuhnya kesadaran melakukan revitalisasi dan transformasi terhadap budaya lokal masyarakat Maluku yang memuat nilai-nilai kearifan lokal sebagai kekuatan integrasi sosial dalam kehidupan orang basudara di Maluku.

Ketiga, munculnya pelbagai gerakan kelompok civil society yang menjadi agen-agen perdamaian di pelbagai segmen masyarakat lintas agama, profesi dan isu yang turut berperan membangun persaudaraan sejati di Maluku. Dalam konteks ini, musik dan khususnya nyanyian bagi masyarakat Maluku punya peran sangat besar sebagai instrument untuk membangun dan merawat kerukunan dan persaudaraan sejati hidup orang basudara lintas suku, agama dan kelompok.

Poin keempat, mulai dikembangkannya kontekstualisasi teologi dan pengembangan misi dan dakwah damai yang dipelopori oleh kampus-kampus agama seperti IAIN, UKIM, IAKN dan STPAK. Kelima, adanya pengembangan pendidikan multicultural dan pendidikan nilai di kampus dan sekolah; keenam, berkembangnya kesadaran otokritik dan transformasi pemahaman keagamaan dari teologi eksklusif  dan konfliktual menjadi teologi hidop orang basudara yang kontekstual, inklusif, pluralis dan egaliter.

“Karena itu lewat Pesparani ini, mari kita kembangkan budaya menyanyi untuk memuji kekudusan Tuhan dan melalui budaya menyanyi juga mari kita suarakan persaudaraan dan perdamaian sejati untuk seluruh dunia. Dari sejumlah poin tersebut, kami bertekad akan mengembangkan Maluku sebagai laboratorium kerukunan umat beragama terbaik di Indonesia. Dari Maluku kita ingin tunjukan bagaimana sejatinya peradaban agama-agama itu dibangun,” tegas Assagaff.

Untuk diketahui, seminar tersebut selain menghadirkan Gubernur sebagai pembicara, tetapi juga ada dewan pengarah badan pembinaan ideology pancasila (BPIP), Prof.Dr. Mahfud MD, Uskup agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus, ahli musik dan nyanyian Christian. I Tamaela, Ph.D, Prof Dr. Perry Rumengan dan Prof Dr. Johanis Ohoitimur, MSc. Dihadiri oleh LP3KN, LP3KD se-Indonesia serta perwakilan kontingen Pesparani dari 34 provinsi. Usai seminar, akan dilanjutkan dengan musyawarah nasional (Munas) LP3KN untuk memilih tuan rumah Pesparani Katholik Nasional kedua. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed