AMBON,MRNews.com,- Habis manis sepah dibuang. Yah, pepatah usang itu nampaknya tepat disematkan kepada duta-duta kontingen Pesparawi Provinsi Maluku yang telah memuji dan memuliakan Tuhan di Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIII di Jogja, 19-25 Juni 2022.
Bagaimana tidak dibilang miris. Sebab para pemuja-pemuji Tuhan yang datang dari Kabupaten/Kota dan jadi satu keluarga untuk mewakili nama MALUKU ke pesta iman tiga tahunan itu, sudah berjuang sangat maksimal. Namun perjuangan itu tampak sia-sia.
Mereka merasa tidak dihargai pengurus Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) Maluku yang dikomandoi Paulus Kastanya dan Boy Kaya, Karo Pemerintahan Setda Maluku.
Bukan saja saat di Jogja, namun fakta itu sudah dirasa ketika menjalani pra Traning Center (TC) hingga tiga pekan TC di Wisma Gonzalo Velozo, Kopertis Ambon.
Mulai dari soal pengaturan makan, hingga honorarium kontingen. Ada yang tak adil, meski latihan dilakukan marathon siang-malam.
Puncaknya memang di Jogja, selepas naik pentas, 23 Juni 2022. Penuturan beberapa anggota kontingen Pesparawi Maluku kepada media ini akui, LPPD hanya pikir diri mereka, bukan kontingen.
Dimana official pendamping ikut diboyong diduga keluarga pengurus LPPD dan orang dekat, namun tidak berfungsi selama event.
“LPPD nih karja ancor paskali. Mulai dari pra TC sampai TC bahkan mau berangkat pun itu semua bikin katong kecewa. Banyak masalah. Salah satunya transparansi. Tapi karena demi Maluku saja, katong maju,” cerita salah satu peserta, Ecy, Minggu (26/6).
Bahkan saat akan kembali dari Jogja ke Ambon dengan pesawat Carter, Sabtu (25/6) pagi, para kontingen “yang bangga” sudah berikan terbaik kecewa karena hanya diantar ke bandara dengan mobil Satpol-PP.
Sedangkan kopor pakaian mereka diangkut pada mobil truck, seperti saat menuju bandara Pattimura Ambon dari lokasi TC.

Hal itu terungkap dari postingan video di Facebook pribadi oleh akun bernama Vemmy Salenussa yang adalah salah satu kontingen Paduan Suara Pria (PSP) Pesparawi Maluku.
Vemmy yang mengunggah video berdurasi 39 detik itu di Facebook miliknya kemudian berucap perlakuan tak adil dan mengecewakan dari pengurus LPPD.
“LPPD enak-enak naik sedan, sedangkan penyanyi naik oto Satpol-PP dan barang-barang di oto truck. Kasiang. Baru ini di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kontingen Maluku su model apa nih,” ucapnya.
“Ini LPPD Maluku punya perbuatan. Musisi-musisi ternama loh, masa naik oto Satpol-PP tuh. Kasiang ee. Noh LPPD dong naik bis, sedan enak-enak yang ber-AC,” sambung pria asal Kabupaten SBB itu.
Tak cukup disitu, dalam caption unggahannya, Vemmy menyoroti hal itu yang berbanding terbalik dengan dana Rp 4 Miliar yang digelontorkan Pemda Maluku ke LPPD untuk kepentingan Pesparawi Nasional.
“Maluku eeee. Kanapa dong bking bagini. Dana Pesparawi 4M tu akang dimana. LPPD duduk manis dan menikmati kebahagiaan sedangkan katong yang berjuang ditelantarkan,” sesalnya.
Ya memang, LPPD Maluku “kecipratan” dana 4M dari Pemda Maluku, diluar subsidi wajib dari Kementerian Agama (Kemenag) ke semua LPPD se-Indonesia, termasuk Maluku.
Di video lainnya, Vemmy juga menyebut, LPPD memerintahkan kostum yang dipakai kontingen saat tampil di kategori Musik Gerejawi Nusantara (MGN) harus dikembalikan ke LPPD tanpa alasan jelas.
Hal ini pun terkonfirmasi benar dari anggota kontingen Pesparawi yang ikut di kategori MGN, Ano. Namun mereka enggan mengembalikan, sebab LPPD pun belum memberi hak para kontingen yang tampil di kategori itu.
“Iya masa dong (LPPD-red) suruh kostum MGN musti kas kembali tuh pas di bandara. LPPD karja model apa nih. Tamang-tamang ngotot seng mau. Karna dong jua balom kasi honor sisa MGN tuh,” akuinya.
Bahkan anehnya lagi, setiba di bandara Pattimura Ambon, anggota kontingen Pesparawi yang asal Kabupaten SBB diarahkan langsung balik ke Bumi Saka Mese Nusa oleh LPPD, tanpa kejelasan transportasi dan akomodasi.
Meski tinggal di hotel berbintang selama di kota “Sultan” dengan dana sebesar Rp 4 Miliar yang dipegang LPPD dan target juara umum, namun kenyamanan tak dirasakan para kontingen. Semua sia-sia.
Rasa penyesalan pun pasti terngiang di benak kontingen Maluku kali ini, tak mau lagi jadi “korban” pengurus LPPD di momen selanjutnya, Pesparawi Nasional XIV di Papua Barat, tahun 2024 jika tak ada perubahan dan kesadaran. (MR-02)











Comment