AMBON,MRNews.com,- Pasca penetapan pemenangan Presiden dan Wakil Presiden oleh KPU RI akhir bulan lalu, wacana mengenai kaum milenial atau anak muda mengisi bursa jajaran kabinet Jokowi jilid II, seperti yang dilakukan sejumlah negara begitu mempengaruhi opini publik.
Kriteria anak muda yang diinginkan Jokowi adalah eksekutor handal yang memiliki manajerial yang kompeten, dinamis, fleksibel, serta mampu mengikuti perubahan zaman dengan cepat. “Itu ada di anak-anak muda,” kata Jokowi dalam sebuah wawancara dengan salah satu televisi terkemuka, seperti dikutip mimbarrakyatnews.com, Minggu (7/7/19).
Presiden Indonesian Youth Updates (IYU), Ruben Frangky Oratmangun menyambut baik jika Presiden Joko Widodo (Jokowi) menempatkan anak muda termasuk generasi milenial dalam jajaran kabinet Indonesia Kerja jilid II.
Menurut pria berusia milenial ini, wacana anak muda menjadi menteri langkah tepat, mengingat era saat ini didominasi oleh 80 persen kalangan milenial. Hal ini menunjukkan bahwa peran dan partisipasi anak muda dalam dunia politik maupun era revolusi 4.0 tak perlu diragukan, karena dari basis real dan kualifikasi pun sangat diharapkan keagresifitasnya dalam mengeksekusi program-program pemerintah baik level pusat maupun daerah.
“Tapi milenialnya harus yang qualified, baik Hardskill maupun Softskill, kalau tidak miliki kapasitas, kapabilitas, dan integritas yang mumpuni maka repot juga karena akan menghasilkan milenial yang tidak qualified dan kredible,” kata Oratmangun yang juga menjabat sebagai Wakil Sekjend Dewan Pimpinan Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP-KNPI), via pesan WhatsApp, Minggu (7/7/19).
Ia mengemukakan hal lain yang menjadi nilai positif dari kalangan milenial adalah agresifitas, kemandirian, kreatifitas, dan fleksibilitas dalam mengikuti perkembangan jaman adalah credit point bagi generasi milenial saat ini. Mengenai perbedaan idealisme ataupun golongan, Ruben mengaku tak mempermasalahkan hal tersebut.
Baginya, selama anak muda tersebut menjunjung tinggi idealisme dan menjadikan perbedaan sebagai suatu kekuatan yang mesti diwariskan, tidak perlu dipersoalkan asalkan nilai moril dan eksistensi dirinya harus dijaga agar tidak diklaim sebagai kaum pragmatism atau perjudaism, tandas Ruben. (MR-02)







Comment