by

Mewartakan Keberagaman Dengan Jurnalisme Damai di Tahun Politik

-Politik-1,517 views

AMBON,MRNews.com,- Workshop Jurnalisme Keberagaman di Tahun Politik dilakukan oleh Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) bekerjasama dengan

Kedubes Kanada, Yayasan Tifa Damai dan

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Ambon

di Hotel Santika Premiere Ambon, Sabtu-Minggu (17-18/11/2018). Sejumlah jurnalis dari AJI Ambon, AJI Manado dan AJI Ternate serta pers mahasiswa (Persma) UKIM dan IAIN Ambon ambil bagian dalam workshop tersebut.

Direktur SEJUK, Ahmad Junaidi, mengatakan, workshop ini bertujuan

untuk menggaungkan semangat jurnalis dalam menjaga dan merawat keberagaman, serta membuat karya jurnalistik yang berperspektif keberagaman berbasiskan analisis HAM, gender, dan pluralisme atau multikulturalisme. Melalui jurnalisme keberagaman ini, pemberitaan yang disajikan tetap sesuai aturan dalam jurnalistik, tetapi dengan sudut pandang, dan pilihan kata yang menyejukan.

“Pelatihan ini memberikan ragam informasi dan edukasi bagi jurnalis di Ambon khususnya dalam meliput informasi di tahun politik. Dengan menggaungkan semangat jurnalisme yang membawa damai, tidak memprovokasi dengan berita-berita sehingga masyarakat menjadi lebih panas.

Sebaliknya dapat membuat masyarakat lebih damai, dan tidak mudah terpancing terutama disaat pemilihan legislatif dan presiden. Apalagi saat ini beragam hoaks marak di tengah masyarakat,” terangnya.

Andi Budiman, Editor Deutsche Well dalam paparannya menjelaskan, sebagai seorang jurnalis dengan bekerja merawat kebebasan harus memberi informasi positif dan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk bisa mengambil keputusan yang cukup dan berkualitas terutama hak politik. Dengan cara itu juga bagian dari melawan hoax.

Daniel Awigra, Manajer Program Advokasi HAM ASEAN Human Rights Working Group (HRWG) menjelaskan pentingnya konsep keberagaman dalam perspektif Hak Asasi Manusia (HAM) khususnya di tahun politik saat ini. Bahwa idealnya negara yang baik harus mampu memberikan kesempatan bagi individu untuk berkembang, berpikir dan berpendapat tanpa tendensi pihak manapun. Karena HAM mengatur kebebasan manusia dan bagaimana kebebasan itu tidak boleh dibatasi apalagi mengusik kebebasan orang lain.

“Seorang jurnalis harus mampu mengawasi tiap pelanggaran HAM yang terjadi. Terlebih ditahun-tahun politik, karena data statistik menunjukkan pelanggaran terhadap HAM meningkat setiap jelang pemilihan. Jurnalis harus berada digarda terdepan, lebih mengenal HAM itu sendiri, paham prinsip jurnalistik, dan tentunya harus berani. Keberagaman itu kekayaan negara yang harus dijaga dan dirawat bukan dijadikan alasan untuk bertikai,” tutur founder Sejuk ini.

Saidiman Ahmad, dari Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) mengajak jurnalis memahami kebebasan beragama setiap individu. Pasalnya kebebasan beragama sangat penting bagi kelangsungan agama. Sebab, agama bisa hidup sampai sekarang karena ada prinsip kebebasan beragama dalam sistem demokrasi. Prinsip kebebasan beragama menjadi bagian penting di Indonesia.

Sedangkan Devi Asmarani, Pimred Magdalene.co memandang media terutama jurnalis memegang peranan penting dalam mewartakan keberagaman terutama terkait isu gender yang sangat rentan dieksploitasi. Karenanya pemberitaan dalam hal ini isu seksual dan LGBT, harus memanusiakan korban. Sesi terakhir ditutup oleh Budhi Kurniawan dari Kompas TV yang berbagi pengalaman tentang apa yang harus dilakukan media dalam meliput isu keberagaman di tahun politik. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed