by

LIPI Ambon Belum Temukan Fitoplankton Beracun di Ikan Mati

AMBON,MRNews.com,- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ambon melalui Pusat Penelitian Laut Dalam (P2LD) menyebutkan, berdasarkan hasil kajian atau uji sementara yang dilakukan untuk biologi oseonografi belum ditemukan adanya fitoplankton beracun pada ikan-ikan yang mati masal di sejumlah pesisir pantai di kota Ambon dan Maluku Tengah, provinsi Maluku. Dengan demikian, diharapkan masyarakat tidak khawatir dan tetap mengkonsumsi ikan yang masih hidup.

“Untuk biologi oseonografi planktonnya sementara yang dapat disampaikan tidak ada fitoplankton beracun. Yang diuji atau dikaji banyak. Kita LIPI tim yang turun 10 orang, ada biologi oseonografi, kimia, fisika. Saat ini yang kita bagikan seperti itu. Jadi harapan dari hasil yang sementara ini bisa mengurangi keresahan masyarakat terhadap kematian masal ikan, karena ini ada kekhawatiran masyarakat untuk mengkonsumsi ikan,” ujar ketua tim peneliti P2DL LIPI Ambon Hanung Agus Mulyadi kepada awak media di kantor LIPI Ambon, Rabu (18/9/19).

Hasil sementara itu terjadi sebutnya, usai Selasa (17/9) tim LIPI menganalisa di laboratorium dengan masing-masing kualitas air, biologi, fisika, kimia terhadap sampel ikan yang mati, bia, kerang atau mollusca diamati dari biologi oseonagrafi. Sementara masih ada sebagian sampel terutama ikan mati yang akan dianalisa lanjut guna mengetahui apakah ada toksisitas atau pencemaran logam berat dan lainnya. Sebelumnya, ada warga datang ke lab membawa sampel ikan mati di Desa Waai. LIPI pun lakukan pengamatan lapangan terutama di Waai dan Hukurila.

Karena itu, dirinya menyarankan dan himbau kepada masyarakat agar ikan yang mati terdampar di pesisir pantai tidak mengkonsumsi, meskipun nanti untuk analisis toksisitas atau pencemaran pada ikan atau kerang masih butuh proses karena masih dalam proses pengiriman ke LIPI pusat di Jakarta. Namun alangkah baiknya, ikan mati terdampar dikubur, tetapi kalau kekhawatiran masyarakat untuk mengkonsumsi ikan sebaiknya tetap konsumsi seperti biasa dan pastikan ikan yang dikonsumsi ditangkap dari daerah lain.

“Hemat saya untuk ikan-ikan yang ditemukan mati terdampar tidak dikonsumsi tetapi masyarakat di Pulau Ambon tidak boleh resah untuk konsumsi ikan yang ditangkap dari daerah lain. Jangan sampai karena panik ketakutan lalu tidak konsumsi ikan, itu tidak baik menurut saya. Karena kita mengetahui bersama masyarakat Ambon gemar makan ikan. Jadi memang betul fenomena kematian ikan massal. Tetapi dari saya untuk kasus ikan yang mati terdampar alangkah baiknya tidak dikonsumsi, dikubur saja langsung,” paparnya.

Terkait dugaan sementara kematian ikan massal dirinya belum bisa sampaikan karena dari aspek pencemaran pihaknya masih analisa lanjut dan besok pagi (hari ini-red) LIPI akan melakukan focus group discussion (FGD) mengundang stakeholder diantaranya fakultas perikanan dan ilmu kelautan Unpatti, dinas perikanan kota Ambon, Balai Karantina Ikan, BMKG, BPBD untuk memberikan suatu arahan dan kesimpulan yang dapat disampain ke pemerintah daerah (Pemda) guna diteruskan ke masyarakat hasil kajian masing-masing lembaga ilmiah yang ada di Ambon.

“Belum bisa besok (hari ini-red) hasil keseluruhan. Sebab kita masih kumpulkan informasi dari semua pihak. Harapannya LIPI punya hasil apa dan yang lain apa, disatukan biar lebih baik hasil rekomendasinya ke Pemda Maluku dan Ambon. Nanti Pemda sampaikan ke publik karena itu kewenangan mereka agar tidak ada keresahan di masyarakat. Untuk fisika sudah, kimia sebagian sudah ada, tunggu FGD. Dari LIPI pusat sampelnya baru dikirim mungkin 2-3 minggu baru hasil keluar. Kajian terkait toksisitas logam berat. Kita bisa coba lihat ada pencemaran BB, CD dan lain atau tidak,” demikian Hanung. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed