by

Kuti Kata; MAMA SU SENG ADA (Kej. 35:16-20)

AMBON,MRNews.com,- “Mama su seng ada” (=mama sudah tiada/meninggal). Ini suatu pernyataan yang membangkitkan kesedihan. “Mama saki barana, mama stengah mati paskali” (=mama sakit bersalin, mama sangat menderita).

“Biar bagitu, mama su piara dalang poro sampe katong jadi” (=walau demikian, mama sudah menjaga kita dalam kandungan sampai kita lahir).

“Biar ada deng badang, antua karja sagala rupa, bajalang kuliling sini sana bawa-bawa ana dalang poro” (=dalam keadaan kehamilan, mama mengerjakan segala hal, berjalan kesana-sini dengan anak dalam kandungannya).

Ungkapan-ungkapan itu melukiskan kesusahan “mama barana” (=mama kandung/mamasaat melahirkan), di antara juang hidup dan mati. Lukisan pengorbanan mama yang luhur.

Saat “mama su seng ada” (=saat mama tiada), dari semua kenangan, satu yang “tar bisa ilang” (=tidak bisa hilang) adalah “waktu mama deng badang sampe sakit barana” (=saat mama mengandung sampai sakit bersalin).

Banyak ungkapan sebagai wujud “hormat par mama” (=menghormati/mengagumi mama), tetapi ungkapan “mama su seng ada” selain simbol rasa duka, tetapi juga “putus harap” (=putus harapan), karena “seng bisa balas mama pung lalah” (=tidak bisa membalas jasa mama), karena memang “seng ada apa yang bisa balas mama pung lalah” (=tidak ada apa pun yang bisa dipakai membalas pengorbanan seorang mama).

“Jang kata pangkat ka harta” (=jangankan pangkat dan harta), “tar bisa tanding” (=tidak setara untuk dibandingkan).

Itulah “mama”. “Su sangsara deng badang, sangsara barana, kas susu biar kabaya basah suwet” (=mengandung anaknya, sakit bersalin, memberi asi walau dengan kebaya yang basah keringat). “Kabaya basa suwet” itu tanda mama sedang bekerja, tetapi selalu ingat “ana jam makang” (=jam memberi asi).

Tentang ini, ada ungkapan-ungkapan simbolik untuk memberitahu mama, misalnya “mama, ade manangis” (=mama, ade menangis ~sebagai tanda ia lapar dan harus diberi asi) atau “mama, jam tifar nih” (=ungkapan ini bermakna, jam memberi asi.

Tifar adalah cara mengambil dari buah enau/mayang untuk dijadikan sageru/saguer).

Menariknya ialah, mendengar ungkapan itu, “mama seka karingat, minong aer angat, lap susu deng kaeng panggal, la dukung kas susu ana” (=mama menyeka keringatnya, minum seteguk air hangat, mengelap buah dadanya, baru memberi asi kepada anaknya).

Jadi “ana malakat deng mama”, selain karena “mama barana” tetapi juga karena saat asi, “ana jua minong mama karingat” (=anak pun merasakan keletihan mama melalui keringatnya).

“Tagal itu, kalu mama su seng ada, putus harap paskali” (=karena itu, jika mama tiada, harapan bisa pupus).

“Mama su seng ada”, sebenarnya mengandung rasa “seng sampe hati par bilang lai” (=bahkan tidak tega untuk dikatakan), karena “mama itu mama sa” (=mama itu segalanya), “jadi mama seng ada, macang samua abis” (=jika mama tiada seperti segalanya habis).

Sungguh! “Mama tuh mama sa, biar orang mau bilang apa lai, biar deng kaeng kabaya busu lai” (=mama itu segalanya, apa pun kata orang, walau dengan kain kebayanya yang lusuh).

Mama, mama beta e (=mama, mamaku).

Nb.
Ungkapan-ungkapan paralel bermakna orang terdekat kita telah tiada:

  1. Mama su seng ada
  2. Papa su pi
  3. Ade/Kaka su ilang

Selasa, 27 Juli 2021
Pastori Ketua Sinode GPM Jln Kapitang Telukabessy-Ambon
Elifas Tomix Maspaitella (Eltom). (**)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed