AMBON,MRNews.com,- Satu per satu tindakan Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Mardika (APMA), Alham Valeo yang merugikan para Pedagang Kaki Lima (PKL) di Pasar Rakyat Tradisional Ambon itu terungkap.
Selain persoalan jual-beli lapak seharga belasan hingga puluhan juta rupiah kepada pedagang tanpa ada jaminan hukum, Alham Valeo juga diketahui mengatur pemasangan listrik didalam Pasar Mardika.
Bagaikan seorang “Mafia”, para pedagang yang ingin menempati Pasar Apung di Mardika, tidak diijinkan untuk memasang listrik sendiri pada kios atau lapak-lapak mereka, melainkan harus melalui Alham Valeo.
Para pedagang yang ada di Pasar Apung, notabenenya adalah mereka yang terdampak revitalisasi Gedung Putih Mardika. Saat direlokasi ke Pasar Apung, mereka ingin memasang meteran listrik sendiri, namun tidak dibolehkan oleh Alham Valeo selaku Ketua APMA.
Alham Valeo diketahui memasang listrik dengan meteran sebesar 53.000 VA, dan dikendalikan dalam satu Gardu PLN, yang diketahui dibuat Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Mardika itu.
Mirisnya, ratusan pedagang yang masuk didalam Pasar Apung, harus membayar biaya awal untuk listrik yang dikendalikan Alham Valeo sebesar Rp 650 ribu per lapak/kios, ditambah iuran listrik bulanan sebesar Rp 50 ribu hingga Rp 300 ribu.
Para pedagang mulai merasa resah dan terbebani dengan biaya tersebut, pasalnya selain biaya beli lapak yang mencapai puluhan juta, mereka juga dibebani dengan harga listrik yang tidak sesuai pemakaian.
Salah satu pedagang mengeluhkan hal tersebut. Dia mengaku ada 263 pedagang yang setiap bulan harus membayar iuran listrik ke Alham Valeo tiap bulan.
Pedagang yang enggan namanya dipublikasikan itu katakan, awal masuk di Pasar Apung pasca direlokasi karena revitalisasi Gedung Putih Mardika, mereka harus membayar biaya listrik Rp 650 ribu.
“Uang muka untuk bayar listrik di Pasar Apung ini, kita bayar dua kali. Yang pertama Rp.600 ribu kedua disuruh tambah lagi Rp 50 ribu jadi totalnya Rp 650 ribu,” ungkap pedagang itu, Senin (27/3).
Awalnya, lanjut dia, Alham Valeo membuat aturan untuk iuran listrik di Pasar Apung yang ia kendalikan dibayar setiap hari dengan nominal Rp 10 ribu per pedagang, hanya saja tidak berlangsung lama.
“Rp 10 ribu setiap hari untuk iuran listrik itu besar, dan kami komplen, makanya langsung dirubah menjadi perbulan, dan awalnya ditentukan Rp.50 ribu saja, namun hanya berlangsung dua bulan tarifnya naik menjadi Rp 100 ribu, Rp 150, Rp 200 hingga Rp 300 ribu,” ungkapnya.
Iuran listrik Rp 300 ribu itu, ungkap dia, sempat diprotes para pedagang. Pasalnya, baik yang hanya memasang satu mata lampu, atau lebih dikenakan tarif yang sama. Tentu hal ini tidak rasional.
“Masa satu bulan kita harus bayar Rp 300 ribu hanya untuk satu atau dua mata lampu di kios kita. Sementara kalau di rumah saja, pemakaian Tv, Kulkas, kipas angin dan lain-lain, sebulan itu hanya memakan pulsa listrik paling tinggu Rp 100 ribu,”kesalnya.
Jika dikalkulasi, 650 ribu biaya pemasangan listrik dengan jumlah 263 pedagang/lapak maka mencapai Rp 170.950 juta yang diterima Alham Valeo sekali pasang.
Kemudian ditambah angka tertinggi tarif listrik 300 ribu/lapak maka Rp 78.900 juta diraup Alham setiap bulannya dari pedagang.
Alham kata dia, sebagai pengembang Pasar Apung dan Ketua APMA pun tidak segan-segan mengambil tindakan pemutusan listrik pada kios atau lapak yang tidak mau bayar iuran per bulan.
“Sudah ada beberapa diputus listriknya. Soalnya dia (Alham) yang kendalikan,” ujarnya.
Pedagang ini mengaku, hampir semua dari mereka menginginkan untuk memasang meteran sendiri, namun tidak dibolehkan Alham. “Kita tidak bisa berkutik. Tapi kalau terus seperti ini, mau untung bagaimana,” imbuhnya.
“Pada prinsipnya, kami pedagang sangat merasa kesulitan dan terbebani dengan berbagai aturan yang dibuat oleh Alham Valeo, salah satunya soal listrik. Makanya harapan kami, kalau bisa kita diijinkan membuat meteran sendiri agar biaya perbulan tidak terlalu besar,” tutupnya.
Terkait kasus itu, Ketua APMA Alham Valeo yang dikonfirmasi via pesan WhatsApp maupun telepon WhatsApp, Senin (27/3) siang perihal dirinya sebagai aktor utama yang mengatur pemasangan listrik di dalam Pasar Mardika (Pasar Apung) dengan beban biaya besar ke pedagang, tidak merespons.
Padahal ketika sambungan telepon WhatsApp dilakukan, bunyi panggilan ke Alham “berdering”. Artinya, WhatsApp yang bersangkutan sedang aktif.
Terpisah, Penjabat Walikota Ambon Bodewin Wattimena yang coba dikonfirmasi terkait tindak tanduk Alham Valeo yang tak hanya atur soal pembangunan lapak, tapi juga sudah merembet dengan mengatur pemasangan listrik di Pasar Apung Mardika dan meresahkan pedagang, enggan menjawab.
Wattimena mengarahkan untuk tanyakan hal tersebut ke Kadis Perindag Kota Ambon Sirjhon Slarmananat yang lebih tahu teknis di lapangan. Sebab kasus Mardika mencuat, sebelum dirinya ditugasi sebagai Penjabat Walikota.
“Soal listrik di Mardika, tanya Kadis Perindag. Beta belum mengerti, karena ini kejadian sebelum beta ada. Jadi apa-apa kejadian sebelum beta, tanya ke Kadis. Sebab beta seng paham proses dari awal dong bagaimana,” kuncinya. (MR-02)











Comment