AMBON,MRNews.com,- Salah satu langkah konkrit yang akan dilakukan kedepannya oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon untuk mendukung kampanye Ambon #sengmaurokok dan gerakan masyarakat hidup sehat (Germas) kerjasama Dinas Kesehatan Kota Ambon dengan Vital Strategies dan University Teknologi of Sydney pada 26 Januari 2018 sebagai puncaknya, adalah nantinya mengeluarkan aturan khususnya kepada restoran-restoran di kota Ambbon supaya harus disiapkan ruangan khusus untuk merokok.
Pasalnya, langkah itu juga sebagai upaya untuk menjadi kota tujuan wisata tahun 2020 (visit Ambon 2020), sehingga paling tidak yang harus dilakukan adalah kondisi harus kota sehat, salah satunya dengan memastikan telah diberlakukannya kawasan tanpa rokok (KTR) pada areal pelayanan publik, kawasan kesehatan, pendidikan, rumah ibadah, angkutan/transportasi umum, arena bermain anak, dan lainnya termasuk restoran.
“Nanti kita akan keluarkan aturan supaya restoran-restoran harus siapkan ruangan khusus untuk perokok. Jadi seluruh ruangan terbuka itu tidak boleh. kalau mau merokok, silahkan ada ruangan khusus untuk perokok. Misalnya begitu. Tapi itu semua lewat tahapan. Tapi pedagang ini juga pintar, kadang-kadang memanfaatkan kelemahan dan kekurangan dari orang, untuk kepentingan dan keuntungan secara ekonomis. Itu yang nanti kita akan dorong,” ujar Walikota Ambon, Richard Louhenapessy kepada awak media di Ambon, Kamis (24/1/19).
Kampanye Ambon #sengmaurokok yang akan dilaksanakan dalam langkah-langkah konkrit. Selain aturan bagi restoran menyediakan tempat khusus merokok, tetapi juga kata Walikota, kebijakan untuk tidak boleh lagi ada sponsor dari perusahaan rokok pada setiap event pemerintah dan apapun di kota, tidak boleh lagi ada iklan rokok lewat baliho, spanduk maupun via media elektronik yang bersifat ajakan dan dapat dilihat anak-anak. Tentu semua nanti disosialisasi secara bertahap. Karena perokok dimana-mana, itu warga kelas dua.
Dengan kehadiran mahasiswa-mahasiwa Australia dan VS ke Ambon, diakuinya, sebagai bukti dari sebuah tata pergaulan internasional. Dimana masyarakat internasional sama sekali sudah melihat rokok sebagai sesuatu yang sangat berbahaya. Oleh karena itu, kalau mereka datang dan memberi perhatian kepada Kota Ambon ini, maka harusnya masyarakat dan pemerintah merespons dengan langkah-langkah konkrit.
“Dimana-mana warga kelas dua, itu perokok. Kalau kita pergi ke negara-negara maju, perokok tempatnya hanya mungkin berukuran 1×1. Bahkan di seluruh bandara internasional, perokok punya tempat cuma 1×2 dan tiap perokok menyumbang penyakit bagi sesama perokok. Selebihnya itu clean, bersih. Kegiatan kampanye Ambon #sengmaurokok dan Germas menandakan kita mulai mengeliminir hasrat untuk merokok. Tetapi juga karena ada perhatian dari luar, sebetulnya ini warning dari masyarakat internasional buat kita untuk menjemput tahun kunjungan wisata kota Ambon (visit Ambon 2020),” bebernya.
Dirinya lantas memberi apresiasi kepada UTS dan Vital Strategies yang memilih Ambon untuk kampanye tanpa rokok atau #sengmaurokok. Pasca itu, memang perjuangannya butuh waktu, tidak bisa langsung jadi, tetapi harus pelan, bertahap terus sampai pada waktunya seluruh kawasan clean dan Ambon bisa bebas asap rokok. “Kalau misalnya ada sikap begitu kuat dari masyarakat internasional dan beberapa lembaga, lalu kita sendiri cuek atau tidak peduli, maka itu tidak benar. Ini sama dengan buang garam ke dalam laut. Pasca acara puncak kampanye hidup sehat itu nanti kita follow up,” tutupnya. (MR-02)











Comment