AMBON,MRNews.com,- Menjelang tahun Pemilu 2019, banyak kalangan mengkhawatirkan maraknya hasutan kebencian sebagai alat politik untuk menjatuhkan lawan seperti yang terjadi pada Pilpres 2014 dan Pilkada Jakarta 2017. Terkait itu, Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Yayasan Paramadina dan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) melaksanakan lokakarya “melawan hasutan kebencian” di Kota Ambon, Maluku, Selasa (19/2/19), juga di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sulawesi Tengah. Kegiatan tersebut dibuka oleh Ketua Bawaslu Maluku, Abdullah Ely.
Direktur PUSAD Paramadina, Ihsan Ali-Fauzi mengaku, penyalahgunaan politik identitas melalui hasutan dan pelintiran kebencian dikhawatirkan akan mempertajam polarisasi masyarakat, memperparah intoleransi dan merusak kerukunan. Hasutan kebencian tidak hanya berbentuk ujaran kebencian atau hate speech atau provokasi satu arah kepada satu pihak untuk menyasar pihak lain tapi juga berbentuk pelintiran terhadap ujaran pihak lain sehingga mereka dianggap provokatif, menyinggung, dan akhirnya menjadi sasaran penyerangan.
PUSAD Paramadina sebutnya melihat hasutan kebencian ini berbahaya karena kerap digunakan sebagai strategi politik dengan mengeksploitasi identitas kelompok (agama, suku atau identitas lainnya) untuk memobilisasi massa pendukung dan menekan lawan politik. Ditambah lagi dengan berkembangnya platform media sosial saat ini, dimana informasi palsu, hoax dan bahkan fitnah mudah didapat dan disebarkan tanpa diimbangi sikap kritis.
“Lokakarya ini selama dua hari dengan melibatkan 20 peserta perwakilan dari kalangan pemerintah dan kelompok masyarakat yang terdiri dari Bawaslu, KPU, Polda Maluku, Forum Kerukunan Umat Beragama, penyuluh agama Kemenag, lembaga swadaya masyarakat (LSM), jurnalis, mahasiswa dan organisasi pemuda. Kami juga membuat buku panduan melawan hasutan kebencian. Lokakarya juga di daerah-daerah yang pernah memiliki riwayat kekerasan antar kelompok dan tersegregasi umumnya lebih rentan terhadap hasutan kebencian dalam Pemilu. Harapannya kegiatan ini semakin memperkuat kapasitas dan kerjasama masyarakat sipil dalam menangkal hasutan kebencian,” tandasnya di The City Hotel.
Bersama sejumlah narasumber dari peneliti PUSAD Paramadina, MAFINDO dan Facebook, peserta diajak untuk mengidentifikasi hoaks serta bagaimana menghalau peredaran ujaran kebencian. Mulai dari cara mengidentifikasi hoaks dan ujaran kebencian, teknik memeriksa fakta, strategi membangun narasi tandingan, strategi menyebarkan konten positif dan menggalang kerjasama antar kelompok di masyarakat.
Sementara pihak MAFINDO, Marvin Laurens mengaku, lewat gerakan ini ada hal-hal yang bisa dibagikan dan kesepahaman bersama untuk melawan informasi yang menyesatkan dan ujaran kebencian di Provinsi Maluku, apalagi menjelang Pemilu 2019. Karenanya, diharapkan PUSAD Paramadina dan MAFINDO terus bersinergi membangun budaya positif kepada masyarakat yang sadar untuk mengecek fakta baru bicara sebagaimanana tagline MAFINDO, guna meminimalisir ujaran menyesatkan dan hoaks untuk terus menciptakan Maluku yang aman, damai dalam bingkai orang basudara. (MR-02)





Comment