AMBON,MRNews.com,- Maraknya hoax atau berita tidak benar yang menyebar cepat di masyarakat dan merembet hingga dunia maya hingga mempengaruhi publik, memberi keprihatinan tersendiri. Sebagai pilar demokrasi, pers perlu dilatih untuk memverifikasi kebenaran suatu informasi agar dalam menyampaikan ke publik merupakan fakta yang terjadi, bukan opini apalagi hoax.
Manager Internews Project Coordinator for Indonesia, Arfi Bambani Amri mengaku, alasan memilih Kota Ambon sebagai salah satu kota pelaksanaan Google News Initiative Training Networking karena Provinsi Maluku merupakan salah satu daerah yang menggelar pesta demokrasi, dimana diketahui dalam proses Pilkada sering terjadi penyebaran informasi tidak benar dan perlu dibuktikan dengan verifikasi. Sehingga melalui kegiatan ini, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia merasa penting melatih jurnalis Ambon agar bisa mengecek informasi menggunakan alat-alat yang tersedia, tidak hanya dari Google namun juga alat-alat dari luar Google yang digunakan untuk mengecek kebenaran.
“Kurikulum training jurnalis di Ambon dan Indonesia yang dijalankan merupakan model baru pelatihan dan akan dipakai di seluruh dunia dalam pelatihan-pelatihan jurnalis bersama Google dan Internews. Kurikulum disusun sejumlah kalangan, jurnalis dan pegiat media sosial, dimana Ambon kota kesembilan dari 26 kota di Indonesia yang akan dilatih hingga akhir tahun ini. Sasarannya para Bloger, mahasiswa, Citizen Jurnalis yang tertarik melakukan verifikasi informasi di internet,” kata Amri di Amaris Hotel, Minggu (13/5/2018).
Ia mengharapkan, para peserta yang sudah dilatih dapat memahami materi yang diberikan oleh trainer, dengan menggunakan alat-alat Google atau luar Google guna pengecekan informasi. Supaya, para jurnalis tidak menjadi biang hoax, penyebar kabar palsu. Sebaliknya, jurnalis harus menjadi filter atau benteng awal sebuah informasi. Karena bila jurnalis ikut memberitakan hoax maka bisa dikatakan jurnalis tersebut, buruk.
Sementara itu, trainer tersertifikasi Google, Heru saat paparan materi terakhir mengatakan,peserta juga belajar beberapa materi bersifat teknis mengenai kebersihan data digital (digital hygiene), analisa dasar atas informasi, pencarian dan penelusuran data, serta beragam tools yang bisa digunakan untuk melakukan investigasi secara online.
“Salah satunya email sebagai pintu gerbang pengamanan data digital. Dimana jejak seseorang bisa dilacak ketika email bobol dan diambil orang. Dalam transaksi data digital, jurnalis pun diingatkan tidak sering menggunakan perangkat keras seperti USB, memory card, namun memanfaatkan pasilitas google, misalnya google drive dan drobox,” tukasnya.
Sedangkan Ketua AJI Ambon, Abdul Karim Angkotasan menambahkan, training yang diikuti 22 jurnalis selama dua hari ini, rangkaian program AJI Indonesia bersama Internews, yang berpengalaman melakukan pelatihan bagi jurnalis di belahan dunia. Karenanya, jurnalis di Indonesia termasuk di Maluku penting diperkenalkan lebih dalam berbagai alat yang dimiliki Google News Initiative. Sehingga nantinya bisa memanfaatkan berbagai jenis tools bermanfaat tersebut di internet, dalam kerja jurnalistiknya.
“Tujuan kegiatan ini untuk mengasah ketrampilan peserta, jurnalis khususnya untuk memanfaatkan sejumlah tools di internet guna melakukan verifikasi online atas beragam informasi yang tidak jelas kebenarannya yang banyak beredar di dunia maya (false news, fake news, hoax) dalam kerja jurnalistik. Trainer yang dihadirkan juga handal dan sudah terverifikasi Google selain bang Heru, juga bang Embong Salampessy,” tutup Abu. (MR-05)











Comment