AMBON,MRNews.com,- Badan Pengurus Daerah (BPD) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Provinsi Maluku dan Yayasan Payung Teduh (YPT) Maluku peduli kasih dengan masyarakat korban musibah kebakaran di jalan buntu, kelurahan Honipopu, kecamatan Sirimau, Sabtu (19/1/19). Peduli kasih dijalin dalam bentuk pemberian empat dus pakaian layak pakai dan pakaian baru untuk anak-anak maupun orang dewasa.
Ketua Umum BPD HIPMI Maluku, Jaqueline Margareth Sahetapy pada kesempatan itu mengatakan, berbagi atau peduli kasih ini wujud kepedulian HIPMI Maluku sebagai tanggungjawab moral dalam bermasyarakat. Dimana HIPMI tidak konsen saja untuk hal-hal terkait berwirausaha atau bisnis, tapi juga konsen pada masalah-masalah sosial yang terjadi di sekitar, terutama di provinsi Maluku khususnya di Kota Ambon. Dan kebetulan saat ini, saudara-saudara disini lagi mengalami musibah kebakaran dan butuh uluran tangan semua orang yang punya kelebihan.
“Jadi ini panggilan kita sebagai tanggungjawab sosial HIPMI Maluku untuk ada dan turut merasakan, apa yang dirasakan saudara-saudara kita yang mengalami musibah. Harapannya, warga bisa terbantu dengan kepedulian yang kita lakukan ini meskipun kecil tetapi jangan dilihat dari bentuknya tetapi niat dan ketulusan kami untuk berbagi dengan sesama,” tukas JMS, sapaan akrab Sahetapy kepada wartawan.
Saat berinteraksi dengan korban kebakaran kata JMS, ada berbagai macam input atau masukan dari warga, bahwa memang pasca kabarakan terjadi masih kurang adanya perhatian dari pemerintah dan pihak-pihak lain untuk membantu mereka minimal dapat meringankan beban yang dialami. Karena itu, dalam waktu singkat ini diharapkan agar pemerintah lebih memperhatikan penderitaan yang dialami, membantu meringkankan beban mereka. Juga kepada pihak lain, kebetulan pelaku-pelaku usaha juga yang jadi korban, setidaknya mungkin ada Bank, BUMN atau BUMD lain yang bisa perhatian lewat pemberian bantuan usaha, kredit usaha rakyat (KUR) dan lainnya.
“Mungkin dapat memberikan modal usaha, supaya bagaimana saudara-saudara kita disini bisa eksis kembali, membangun perekonomian mereka dalam sektor usaha yang memang pekerjaan mereka riil usaha mikro,” harap politisi partai Demokrat itu.
Senada, Ketua Bidang Infrastruktur BPD HIPMI Maluku, Isra Prasetya Idris mengharapkan, setelah ini pemerintah bisa melakukan trauma healing atau memulihkan trauma. Itu penting sehingga membangkitkan kembali semangat hidup korban bencana terkhusus anak-anak. Selain itu, para korban rata-rata pelaku usaha mikro, yang jadi tulang punggung ekonomi di kota Ambon, maka pentingnya perhatian pemerintah dan stakeholder.
“Kalau bisa datanglah kesini melihat kondisi masyarakat. Mereka tiap hari membuka kios, berjualan dengan putaran uang cukup baik. Ada kos-kosan memang terbakar dan hendak dibangun nantinya maka dipastikan bisa langsung dihuni. Harapannya, semoga ada bantuan modal usaha lewat KUR, CSR dari BUMN, BUMD, perusahaan yang tidak memberatkan dan bisa cepat memulihkan ekonomi saudara-saudara kita ini. Juga 18 anak sekolah korban kebakaran butuh perlengkapan sekolah,” tukas Isra.
Sementara Ketua YPT Maluku, Pieter Katayane mengaku sedikit kecewa dengan pemerintah kota (Pemkot) yang mestinya ada langkah tanggap bencana. Karena kalau meninjau langsung situasi disini berarti tempatnya sangat tidak layak untuk dihuni. Juga, ketersediaan logistik menjadi masalah karena kurangnya perhatian pemerintah padahal mereka juga warga kota. “Memang, Pemkot lewat Dinsos atau BPBD harus segera realisasi tanggap bencana untuk minimal satu bulan kedepan. Karena ini kan situasi hujan, jadi kalau tidak ditangani, beta rasa Pemkot melakukan pengabaian terhadap warga kotanya,” sesal Katayane.
Sedangkan salah satu korban yang juga pemilik kos-kosan, La Rasyid mengharapkan adanya bantuan dari pemerintah dan berbagai pihak terutama untuk pendirian tempat tinggal darurat. Karena dengan kondisi masih berada di tenda dan beralaskan tikar, akan sangat membuat masyarakat kesusahan di tengah musim penghujan seperti ini. Selain itu, kebutuhan peralatan dapur juga menjadi kebutuhan mendesak sekarang ini. (MR-02)











Comment