AMBON,MRNews.com,- Film “Kapal Goyang Kapten“ yang disutradarai Raymond Handaya dan diproduseri Handaya-Roni Parini bakal tayang 5 September 2019 secara serentak di seluruh bioskop di Indonesia. Film ini sebagai salah satu bentuk promosi pariwisata Maluku. Sebab proses produksi film “Kapal Goyang Kapten” ini menghabiskan 22-23 hari berlokasi di provinsi Maluku, tepatnya di pulau Ambon dan kepulauan Tual, Maluku Tenggara.
“Alasan lokasi ini dipilih menjadi lokasi syuting karena memiliki banyak lokasi pulau dan pantai yang indah, sehingga cocok dengan kebutuhan lokasi yang ada dalam skenario film ini. Bentuk promosi pariwisata Maluku ke Indonesia dan dunia dari kita sebagai anak bangsa. Ini memang niat saya membuat film di Maluku dan tercapai,” tandas Raymond kepada awak media dalam press confrence gala premiere film “Kapal Goyang Kapten” di Ambon City Center, kota Ambon, Sabtu (31/8/19) malam.
Raymond katakan film ini juga mengangkat semi petualangan, horor dan misteri yang mengeksplor keindahan Maluku dari aspek wisata. Memiliki keunikan yaitu merupakan film komedi tentang pembajakan kapal yang biasanya akan sangat kental nuansa dramanya, tapi kali ini dibungkus ramuan komedi. Film ini juga memotret hal yang terjadi di masyarakat bahwa biasanya anak yang terlahir dari keluarga kaya, rata-rata terbiasa hidup enak dari lahir sehingga cenderung tidak bisa mandiri dan bekerja.
“Permasalahannya bisa dari orang tua yang terlalu memanjakan anaknya dan takut untuk memberikan kepercayaan atau dari sisi anak yang memang sudah terbiasa hidup enak. Dalam Film ini karakter Daniel yang diperankan Ge Pamungkas diceritakan sebagai anak tunggal yang manja dari orang tuanya yang diperankan oleh Roy Marten. Selain itu dalam film ini juga akan terlihat adegan-adegan yang memperlihatkan kembali budaya gotong royong,” ujar Mukhadly Acho, penulis skenario sekaligus berperan sebagai Cakka di film ini.
Lengkapnya, lanjut Raymond film ini bercerita tentang tiga orang pembajak amatir yang mencoba membajak kapal wisata yang sedang berlayar di laut Maluku saat itu berisikan beberapa turis lokal dan seorang nahkoda. Namun karena kebodohan para pembajak, mereka malah menenggelamkan kapal yang berisikan barang rampasan dari turis-turis, sehingga mereka pun terjebak bersama dan akhirnya harus terdampar dan terjebak di sebuah pulau kosong.
“Pembajakkan kapal ini dilatarbelakangi keadaan tiga tokohnya, Daniel yang diperankan (Ge Pamungkas) ingin membuktikan kepada orang tuanya bahwa seorang anak orang kaya pun bisa bekerja, Cakka terpaksa mengambil langkah ini karena kondisi ibunya sakit dan butuh biaya, dan Bertus yang diperankan (Mamat Alkatiri) adalah seorang pengangguran dan butuh uang. Karena alasan itulah, timbul ide dari Bertus dan Cakka membajak kapal. Daniel awalnya menolak, tapi karena dibujuk akhirnya ia pun ikut dalam pembajakan kapal tersebut,” papar Raymond.
Akibat sebuah kebodohan, tambahnya, mereka justru kehilangan hasil rampokan dan terjebak di sebuah pulau kosong bersama sang nahkoda Kapten Gomgom yang diperankan Babe Cabita beserta 9 penumpang yang mereka rampok.
“Perlawanan dari kubu sandera yang dimotori Tiara yang diperankan (Yuki Kato) dan tekanan psikologis dari para penumpang lain seperti keluarga Burhan terdiri dari Ayah (Arief Didu), Ibu (Asri Welas) dan anak mereka (Romaria Simbolon), sepasang suami istri yang sedang bulan madu Darto (Yusril) dan Salma (Naomi Papilaya) dan tiga orang mahasiswa yang sedang travelling bersama Noni (Andi Anissa), Cika (Ryma Gembala) dan Agung (Ananta Rispo) membuat situasi semakin rumit,” tukas Raymond.
Dirinya lantas memuji antusias penonton di kota Ambon yang membludak dibanding 10 kota lainnya di Indonesia, terbukti dari tiga studio yang disediakan full. Padahal biasanya hanya hitungan jari. Selain mungkin karena lokasi syutingnya di Maluku tetapi memang film ini bentuk hadirnya film daerah dan nasional yang targetnya bisa dinikmati dan membuat masyarakat terhibur.
“Target kita saat tayang perdana penonton bisa mencapai 1 juta dan itu bisa jadi acuan menuju film kedua dan ketiga tentang Maluku lainnya. Pesan dari film ini, dalam keadaan apapun tetap berpikir waras dan memaafkan itu hal sulit tapi harus dilakukan. Satu kata untuk Ambon dan Maluku; manis, keras, cantik dan cakadidi,” tutup Raymond yang turut diamini Yuki Kato, Mukhadly Acho, Mamat Alkatiri, Ge Pamungkas. (MR-02)










Comment