by

Fenomena Ikan Mati, Masyarakat Dihimbau Tak Percaya Isu Tsunami

AMBON,MRNews.com,- Fenomena ikan-ikan mati yang terjadi beberapa hari terakhir di pesisir pantai pada sejumlah negeri di kecamatan Leitimur Selatan (Leitisel) bahkan juga terdapat di Desa Latuhalat dan Serri kecamatan Nusaniwe, Desa Passo, Desa Tulehu bahkan Desa Waai Kabupaten Maluku Tengah yang diduga akibat ledakan atau getaran bawah laut sesuai hasil penelitian sementara Balai Karantina terhadap bangkai ikan, merembet pada adanya isu tsunami yang cepat menyebar di media sosial.

Pemerintah pun menghimbau masyarakat tak percaya isu tsunami. Sebab sumber adanya bencana alam bahkan tsunami tidak terjadi begitu saja, tetapi lewat penelitian dan pendalaman akurat yang hanya disampaikan oleh BMKG atau BPBD sebagai pihak berkepentingan. Hal itu disampaikan Walikota Ambon Richard Louhenapessy saat press confrence, Senin (16/9/19).

“Saya mau menghimbau kepada masyarakat agar tidak terpancing terutama mereka yang menggunakan media sosial lebih hati-hati, jangan sampai hal ini dikembangkan lebih luas seakan-akan ini gejala tsunami. Untuk antisipasi, semua stakeholder sudah turun ke lapangan, rapat, serta sudah perintahkan BPBD segera koordinasi dengan BMKG apakah memang ada gejala-gejala awal ledakan akibatkan magma naik ke permukaan laut atau tidak. Memang kita antisipasi semua. Karena ini fenomena baru yang terjadi,” ujar walikota di ruang kerjanya.

Hanya memang soal antisipasi tanda-tanda potensi bencana alam lainnya termasuk tsunami dikatakan, BPBD sudah follouw up dengan BMKG, serta mengirim laporan kepada BNPB RI tentang peristiwa yang terjadi dan memang diantisipasi semua. Meski sebenarnya tidak bisa berkesimpulan soal fenomena itu dan dikaitkan dengan tsunami.

“Ada memang orang bilang jangan sampai gempa didalam laut, kita tidak tahu. Balai Konservasi juga akan diving hari ini untuk lihat apakah terumbu karang hancur atau tidak dan diteliti semua juga. Kita prepare saja untuk itu dan agar bahasa kita satu sehingga masyarakat juga tenang, tidak terpancing dengan informasi apapun termasuk isu tsunami,” tukas walikota yang didampingi wakil walikota, sekretaris kota dan sejumlah pimpinan OPD.

Sikap pemerintah lanjutnya tentu semua stakeholder turun ke lapangan langsung agar memberikan keyakinan kepada masyarakat bahwa pemerintah tidak main-main, acuh tak acuh tapi serius untuk masalah ini. Bahkan dinas kelautan dan perikanan (DKP) kota Ambon juga melakukan koordinasi dengan LIPI, fakultas perikanan dan kelautan Unpatti, Balai Karantina, Balai Konservasi, balai pengawasan perikanan dan kelautan agar semua tertangani.

“Nanti yang akan resmi memberikan keterangan soal bencana alam itu BMKG atau BPBD. Kita kalau yang tidak paham, lebih baik jangan berkesimpulan salah. Mungkin dalam waktu dekat juga BMKG akan memberikan keterangan soal ini,” paparnya.

Saat dinas perikanan dan kelautan (DKP) bersama sejumlah pihak turun ke lapangan mengecek dan mengambil sampel untuk diteliti Minggu (15/9) menurutnya, masyarakat akui mendengar bunyi ledakan dari laut. Namun masyarakat anggap itu cuma bom ikan biasa tapi ternyata dampaknya memang besar sekali. Sebab kalaupun orang bom ikan, radiusnya terbatas dan ikan hanya mabuk untuk diambil pembom. Tetapi yang ini ikan mati seluruhnya.

“Kalau dilihat, di punggung ikan semua berdarah cuma ada pula yang menarik dari hasil temuan Balai Karantina yaitu di pantai terdapat kristal biru dan mereka sementara diteliti lebih lanjut kenapa sampai ada kristal biru di pantai. Itu semua telah diambil untuk diteliti.
Padahal mulanya memang warga makan ikan itu dan tidak ada masalah apapun. Hanya karena ikan mati banyak jadi warga takut,” demikian Walikota. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed