SBB,MRNews.com,- Sudah empat hari masyarakat Negeri Latu Kecamatan Amalatu Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) menjadikan hutan sebagai tempat pengungsian akibat Gempabumi yang terjadi pada 26 September 2019. Namun, hingga kini belum juga ada satupun bantuan dari pemerintah setempat yang berusaha disodorkan kepada warga disana.
Terhitung sejak Kamis 26 September 2019, sekitar Pukul 09.00 WIT pagi pasca bencana hingga hari ini, ribuan warga yang trauma akibat gempa, memilih hutan sebagai tempat bermukim. Dibekali tenda darurat dan peralatan seadanya, ribuan orang yang didalamnya terdapat warga lanjut usia (Lansia), penyandang Disabilitas, anak dibawah umur dan balita ini, bertahan di tengah hutan dan lereng gunung.
Berharap akan datang bantuan dari Pemerintah Kabupaten, namun hanya terkesan seperti membuang garam di laut (Sia-sia). Hingga memasuki hari ke-4, tidak nampak satupun bantuan atau kabar akan datangnya bantuan mendesak masuk di lokasi pengungsian. Kondisi miris yang dialami ribuan warga Latu itu, menjadi beban tersendiri setiap penduduk disana.
Bahkan parahnya, hingga hari ini, Minggu 29 September 2019, banyak warga yang kondisi kesehatannya mulai menurun. Sementara, obat-obatan sangat minim bahkan sulit ditemukan di tenda-tenda darurat.
“Kami seperti dianaktirikan, harapan mendapatkan bantuan obat-obatan, atau kebutuhan mendesak lainnya kepada kami, tidak ada kabarnya. Pemerintah ini dong paleng seng pung hati sama sekali e,” jelas Ahmade Patty kepada media ini via seluler dalam dialek Ambon dari lokasi pengungsian Hutan Latu, Minggu (29/9).
Dikatakannya, dengan adanya bencana ini, maka bisa dilihat Pemerintah Kabupaten SBB, sangat tidak perduli kepada masyarakat. “Kalau saja mereka itu pro rakyat, sudah pasti warga tidak akan mengeluh seperti ini. Sudah hari ke-empat warga di hutan, pemerintah hanya tinggal diam, ” ujarnya kecewa. (MR-02)







Comment