AMBON,MRNews.com,- Ego Sektoral antar dinas di Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon khususnya Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DPPKB) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) ternyata masih menjadi salah satu penghambat upaya penurunan stunting di Ambon yang masih di angka 21 persen.
“Ini hal yang biasa terjadi di lingkungan pemerintahan, ego-ego seperti begini yang buat lain tidak tolong lain, lain tidak bantu lain, tidak boleh. Saya minta DPPKB dan Dinkes bisa bekerjasama, kalau tidak saya gabung keduanya supaya tidak pusing,” tandas Penjabat Walikota Ambon Bodewin Wattimena.
Penegasan itu disampaikannya saat pelaksanaan rapat koordinasi percepatan penurunan stunting di Kota Ambon, Kamis (16/3).
Catatan keras ini karena dari kerja bersama untuk upaya menurunkan stunting, selalu saja berbeda pendapat antara DPPKB dan Dinkes. Padahal keduanya harus bersatu, bersepakat untuk bagaimana sama-sama merumuskan kebijakan intervensi untuk menyelesaikan persoalan stunting di kota ini.
“Percaya saya, selama masih tetap dengan ego-ego seperti begini, satu bilang turun, satu bilang masih naik, tidak satu. Tidak boleh kerja sendiri, harus bersatu. Di zaman ini adalah kerja kolaborasi, harus bersinergi. Mari bersatu bangun kota ini,” tegasnya.
“Masih ada pa Sekkot selaku ketua tim percepatan penurunan Stunting, ada ibu ketua tim penggerak PKK, ada Dasawisma, ada Puskesmas, Posyandu, ini semua unsur-unsur yang akan menentukan baik buruknya upaya kita menekan stunting di kota Ambon,” ingat Wattimena.
Menjawab kegelisahan itu, Sekretaris Kota (Sekkot) Ambon Agus Ririmasse tegaskan, sebagai Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Kota Ambon dirinya akan mengambil langkah-langkah untuk mengatasi masih adanya ego sektoral di DPPKB dan Dinkes soal penanganan stunting.
“Saya akan ambil langkah-langkah untuk bertemu Dinkes dan DPPKB untuk bagaimana kita satu persepsi, kita berkolaborasi untuk sama-sama. Sebab ini untuk Kota Ambon, bukan sektoral dinas tertentu,” tegasnya, Jum’at (17/3).
Menurutnya, selaku ketua tim akan intervensi itu langsung agar tidak boleh ada hal-hal itu selanjutnya, tapi harus punya satu pemahaman bekerjasama dalam menurunkan stunting.
“Kita malu dong, Kabupaten/Kota lain yang jaraknya ditempuh dengan kapal sehari, dua hari dan bukan berada dekat dengan pusat pemerintahan, memiliki geografis lebih sulit, tapi angka penurunan stunting dibawah rata-rata 2 persen,” ujarnya.
“Sementara kita di Kota Ambon yang gizi terjangkau, dan turun ke Desa/Kelurahan, RT/RW tak sampai satu jam, tapi hanya bisa turun stunting 0,7 persen,” tambah mantan Kadis Dukcapil Kota Kupang itu.
Karena itu dengan berbagai langkah konvergensi dan kebijakan yang ditempuh baik pemerintah kota maupun tim, ditargetkan kedepan stunting di Ambon harus turun dibawah rata-rata nasional.
“Pokoknya intinya target kita kedepan stunting di Ambon harus turun dibawah rata-rata semua. Sebab kalau kita lihat itu anak-anak kita tidak stunting sebenarnya, tapi karena ada indikator dan kriterianya, maka yah begitu,” pungkasnya. (MR-02)











Comment