AMBON,MRNews.com,- Dinas Perhubungan (Dishub) membuat inovasi baru untuk mendukung Ambon sebagai kota musik dunia tahun 2019. Seluruh traffic light di Kota Ambon “disulap” dengan lantunan lagu-lagu bervariasi khas Maluku, Indonesia maupun mancanegara sesuai moment-nya, tak hanya berisi himbauan agar selalu membawa surat-surat dan kelengkapan berkendara saja.
Langkah itu sudah dimulai sejak Desember 2018, bertepatan dengan perayaan Natal. Pasca rapat bersama pimpinan daerah kota Ambon dan adanya dorongan Bekraf RI untuk mewajibkan setiap OPD Pemkot melakukan inovasi dan kreasi guna menopang perjuangan Ambon menuju kota musik dunia tahun 2019.
“Salah satu ciri kota musik dunia, ada sejumlah pembenahan. Pertama, traffic light, daripada diributkan dengan suara ajakan penuhi kelengkapan, persyaratan kendaraan berlalu lintas, lebih baik kita menghibur warga kota. Mumpung kota ini juga sedang getol berjuang menuju kota musik dunia. Misalnya Natal, lagu Natal seperti Jingle Bells, Santa Claus Is Coming to Town, itu awal. Lalu saat hari raya Imlek, diisi lagu-lagu mandarin. Sekarang ini sudah diganti lagi lagu terkait Valentine Day,” kata Kepala Dishub Kota Ambon, Robby Sapulette kepada media di ruang kerjanya, Senin (11/2/19).
Kemudian, sambunganya, khusus valentine day, karena ada kurang lebih 16 traffic light, kalau bisa setiap traffic punya lagu berbeda-beda. Dan setelah diamati, pada beberapa traffic dengan lagu my valentine ada di tiga titik, yang nantinya diganti lagi. Juga ada beberapa lagu-lagu Ambon yang sifatnya energik mau dipasang, tapi tunggu moment. Namun, untuk spesial valentine day, ada 8 lagu bernuansa cinta dipasang. Berarti di setiap traffic light ada penggandaan, satu lagu untuk beberapa traffic light.
“Tidak ada pemilihan lagu khusus hasil request pimpinan atau siapapun, karena teknisnya di Dishub. Pemilihan lagu sesuai moment dan acak, bahkan staf pilih sendiri, nanti baru diajukan ke saya. Sehingga tiap lagu pastinya disesuaikan dengan moment, baik hari besar nasional maupun keagamaan. Lama waktu diputar tergantung durasinya. Misalnya Imlek seminggu, valentine day sudah dimulai hingga seminggu lagi baru diganti lagi lagu baru sesuai moment,” ujarnya.
Beberapa hari kedepan pasca valentine day, momentnya kata Sapulette, ada Millenial Safety Road Festival (MSRF) dengan puncaknya pada 2 Maret, maka nanti dipasang lagu lagi sesuai permintaan kepolisian, untuk mengajak kaum milenial partisipasi di ajang itu dan durasinya satu-dua minggu. Demikian pula setelahnya, ketika hari-hari besar seperti Paskah, hari Pattimura, diputar juga lagu benuansa patriotisme Pattimura, lalu perayaan Maulid Nabi SAW, lagu bernuansa muslim dan seterusnya begitu kontinyu.
Memang diakuinya ini menyemarakan saja. Tapi lebih dari itu tujuannya mengajak orang tertib berlalu lintas, tidak buat pelanggaran dan menikmati perjalanan guna hindari kecelakaan. Bahkan nantinya jika angkutan umum ingin memasang lagu diharapkan yang beradab. Maksudnya, pengeras suara jangan dipasang toa lalu diletakan dibawah tempat duduk, jelas salah mengganggu pengguna angkutan. Tetapi jika mobil speaker bagus, lagunya santun maka ketika orang naik mobil, bisa rasakan Ambon kota musik dan dimana-mana ada musik tapi yang santun.
“Saya beberapa kali amati di traffic light, untuk berbelok ke kiri diijinkan saja, pengendara berhenti sebentar guna mendengar lagu yang diputar. Jadi ada indikasi baik, sekaligus meminimalisir pelanggaran lalu lintas. Nanti lagunya lebih greget. Namun ini sesuai moment, anak muda valentine day dan memang lagi dicari lagu lebih energik, apakah itu lagu dari Asia, Afrika, Eropa maupun Amerika, dicoba. Tidak hanya lagu khas Maluku atau Ambon, semua jenis musik bisa dipasang karena ini wujud kota musik dunia. Bisa juga sehari dua-tiga lagu yang berbeda dan energik,” papar mantan Sekdis PU itu.
Terhadap kebijakan tersebut, tambah Sapulette, sistemnya akan dibenahi dan jika dimungkinkan, komandonya dari Dishub langsung ke traffic light itu. Sehingga juga ketika orang luar masuk ke Ambon, secara tidak langsung mereka tahu ini Ambon, kota musik dunia. “Ini yang didorong berbeda sekaligus tujuan positif, merubah perilaku masyarakat tetapi juga mengajak untuk sama-sama partisipasi membangun kota. Apa yang bisa dilakukan Dishub, sebatas itu,” tutupnya. (MR-02)











Comment