by

Diskusi Terpumpun Penyusunan Dokumen Aplikasi Kota Musik Dunia

AMBON,MRNews.com,- Badan ekonomi kreatif (BeKraf) RI dan Ambon music office (AMO) bekerjasama menggelar diskusi terpumpun penyusunan dokumen aplikasi Ambon menuju kota musik dunia tahun 2019 ke UNESCO di Swiss Belhotel Ambon, Senin (3/12/18). Kegiatan tersebut menghadirkan Indonesian Creative Cities Network (ICCN) untuk memberikan penjelasan atau gambaran terkait bagaimana penyusunan dokumen aplikasi tersebut dan proses nantinya dapat dibawa ke UNESCO.

Wakil walikota Ambon, Syarif hadler saat membuka diskusi tersebut mengatakan, berbagai persiapan terus dilakukan oleh AMO dan BeKraf, di mana yang terakhir adalah ke Korea Selatan mempresentasikan proses dan progres yang telah dilakukan ke UNESCO dalam rangka penyusunan persyaratan yang dimintakan serta Adelaide. Disitu pula didapatkan berbagai masukan yang sangat berharga bagi semua upaya Ambon kota musik dunia tahun 2019.

“Kegiatan sudah banyak tetapi banyak pula syarat yang harus kita penuhi sebagaimana persyaratan sebagai kota musik dunia oleh UNESCO. Maka nantinya akan ada checking pada setiap organisasi perangkat daerah Pemerintah Kota Ambon terkait adakah kegiatan yang mendukung Ambon sebagai kota musik dunia atau tidak. Penilaian ICCN sangat penting bagi AMO-BeKraf karena akan menjadi masukan ke UNESCO untuk penetapan kelayakan Ambon sebagai kota musik dunia. Kegiatan diskusi terpumpun yang menghadirkan musisi dan komunitas seni untuk memberi sumbang saran serta masukan sebagai bagian memperkaya seluruh tahapan yang sementara dilakukan,” tandas Hadler.

Sementara itu, Plt Ketua Umum ICCN, Arief Budiman menegaskan, musik sebagai gerbong utama bagi Kota Ambon jika memang tujuannya sebagai kota musik dunia karena jika musik sukses maka semua hal pun pasti sukses. Bahwa memang ada daerah yang komunitas musik atau seni dan pemerintah daerah sulit mendapatkan titik temu tapi diharapkan kota Ambon bisa berkolaborasi antara kedua pihak demi tujuan mencapai Ambon kota musik dunia.

“Karena sudah diusulkan sejak 2012 maka tahun depan Kota Ambon harus mencapai target itu. Sehingga seluruh pihak harus berkolaborasi dengan AMO dan pemerintah kota, jika tidak maka harus menunggu hingga 2021 untuk berproses kembali lagi untuk semua tidak menginginkan,” tegasnya.

Beberapa catatan yang harus diperhatikan AMO dan pemerintah yaitu belum adanya integrasi informasi di internet yang menggambarkan Ambon identik dengan musik ketika orang di seantero dunia searching, padahal itu begitu penting sebab membuat orang tahu serta respect. Sehingga perlu kolaborasi antara Dinas Pariwisata dan AMO untuk hal itu harus masif dilakukan. Karena banyak ditemukan hanyalah kuliner, tempat wisata atau pantai tak ada ciri musik. Belum lagi website Pemkot Ambon yang usang atau kurang mengena karena hanya diisi seremoni aktivitas pemerintah, padahal harus di desain atau dimodifikasi bersifat musik secara masif sehingga ketika orang mengunjungi website, mereka tahu dan tertarik.

Selain ICCN, BeKraf dan AMO, diskusi kelompok terpumpun itu dihadiri organisasi perangkat daerah (OPD) Pemkot Ambon yang berkepentingan langsung, pelaku musik dan komunitas seni yang ada di kota Ambon. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed