by

Diplomat Afghanistan Puji Musik Jadi Perekat Toleransi di Ambon

AMBON,MRNews.com,- Sepuluh (10) Diplomat senior asal Afghanistan mengapresiasi tingginya toleransi dan pluralisme di Provinsi Maluku khususnya Kota Ambon yang tetap terbangun dengan baik hingga kini dengan musik sebagai alat perekat. Pasalnya tidak semua kota, provinsi bahkan negara bisa lakukan seperti itu apalagi pernah dilanda konflik. Maka pantaslah pula jika Ambon dinobatkan sebagai kota musik (city of music).

Perwakilan Diplomat Afghanistan, Hamed Khurasani mengatakan, karena alasan itulah mengapa Indonesia, Maluku dan khususnya Kota Ambon dipilih sebagai daerah yang dijadikan locus penguatan kapasitas bagi para diplomat yang secara khusus ingin mempelajari bagaimana Indonesia dan penguatan perdamaian lewat promosi toleransi, pluralisme, pengalaman berdemokrasi dan pelajaran yang dipetik, terutama bagaimana dari konflik, Ambon bisa kembali menjadi satu kota yang tinggi toleransinya di Indonesia.

“Terima kasih atas sambutan dan keramahan orang Indonesia, kami senang berada di Ambon. Selama disini, kami ingin mempelajari cara dan penguatan perdamaian lewat promosi toleransi, pluralisme, pengalaman berdemokrasi, terutama bagaimana dari konflik, Kota Ambon bisa kembali menjadi satu kota yang tinggi toleransinya di Indonesia. Sebab kebebasan beragama dan toleransi, pluralisme sangat dijunjung tinggi. Kami bisa lihat sendiri malam ini, betapa musik jadi alat perekat perdamaian, membangun hidup toleransi,” ujar Hamed saat diskusi dan jamuan makan malam di rumah dinas Walikota Ambon, Karang Panjang, Minggu (21/7/19).

Pasalnya dalam pandangan pemerintah dan rakyat Afghanistan, sebut Hamed, Indonesia hidup penuh kekeluargaan dan harmoni, toleransi meski berbeda suku, agama dan ras, sehingga menjadi negara yang perkembangan ekonominya cukup pesat. Bahkan, Indonesia juga lah yang mendukung terciptanya perdamaian di Afganistan sebagai mediator dengan Taliban, sehingga mulai pulih kembali.

“Semoga dorongan ini terus terjadi dan hubungan baik terjaga selalu. Semoga juga lewat musik, perdamaian dan toleransi di Ambon bisa terpupuk terus. Itu yang kami lihat dan akan diadopsi,” papar Hamed.

Kesepuluh diplomat itu yakni Abdul Ghaffar Jamshidi selaku Official of MoFA Afghanistan, Abdul Wahab Rahimi, Abdulzaman Akbari, Asef Naderi, Faridullah Malizai, Fawzia Habib, Jamal Nasir Gharwal, Jangyalai Hakimi, dan Mohammad Amin Yaqoubi. Selain Walikota yang menerima diplomat, ada pula Wakil Walikota Syarif Hadler, Sekretaris Kota A.G.Latuheru dan pimpinan OPD Pemerintah Kota (Pemkot), disambut dengan musik totobuang dan ukulele dari anak-anak Negeri Amahusu.

Sementara Walikota Ambon Richard Louhenapessy mengaku, di Kota Ambon, anak-anak sudah diajar bertoleransi sejak dini, menghargai perbedaan, tidak boleh terpengaruh dengan konflik. Dalam berbagai hal apapun, di bidang pendidikan lewat relasi sekolah Islam-Kristen, musik sebagai alat perdamaian dan pemersatu, budaya dan lainnya.
Tentu itu bisa jadi contoh baik bagi Indonesia. Khususnya, musik menjadi kekuatan Kota Ambon saat ini selain alat pemersatu tapi juga sektor sentral untuk pengembangan ekonomi masyarakat terutama pelaku seni.

“Ambon dulunya neraka. Semua orang menilai sulit bagi satu kota bangkit dari keterpurukan akibat konflik. Tapi, dalam 20 tahun Ambon bisa cepat bangkit dan menjadi seperti saat ini. Banyak negara di dunia datang belajar perdamaian dan toleransi di Ambon. Satu kebanggan bagi pemerintah dan masyarakat. Semua karena kesadaran masyarakat yang tinggi dan kuat lewat hidup bertoleransi, saling menghargai, mencintai dan menerima antar sesama. Juga pemerintah dan semua pihak saling mendukung. Atas capaian itu, apresiasi diberi oleh Kementerian Agama RI dengan award sebagai salah satu kota dengan tingkat toleransi paling tinggi di Indonesia,” ungkapnya. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed