AMBON,MRNews.com,- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Ambon terus berupaya menggalakan tiga program prioritasnya bagi seluruh masyarakat terutama dalam upaya menjaga dan menopang kesehatan ibu dan anak, remaha serta lansia. Ketiga program tersebut yang merupakan implementasi dari program nasional dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) adalah pencegahan stanting, peningkatan imunisasi dan eliminasi TBC.
Hal itu diungkapkan pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, drg Wendy Pelupessy kepada media ini di ruang kerjanya, Senin (3/9/18).
“Program kita mengacu pada program nasional, visi-misi Walikota-Wakil Walikota Ambon, yaitu berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak, remaja, lansia. Terus kita galakkan pula, pencegahan stanting, peningkatan imunisasi, dan eliminasi TBC. Tiga program tersebut selama ini sudah dilaksanakan di tiap puskesmas, yakni sosialisasi tentang stanting, karena stanting tidak bisa melihat saat sudah terjadi, harus dicegah dan pencegahannya dari remaja. Jadi remaja dipersiapkan hingga menjadi ibu saat hamil. Hal-hal ini harus dijaga agar tidak stanting atau kekerdilan saat bayi dilahirkan,” ungkapnya.
Selanjutnya, terhadap eliminasi TBC, ujar Pelupessy, tenaga kesehatan di tiap puskesmas harus turun langsung sosialisasi TBC di masyarakat dan menemukan penderita, untuk dilanjutkan dengan pengobatan. “Prinsipnya, petugas kesehatan harus mengejar bola di lapangan, sosialisasi tentang gejala dan tanda- tanda penderita TBC. Misalnya kalau ada gejala batuk lebih dari dua minggu. Setelah itu mengajak mereka berobat. Pengobatannya gratis di Puskesmas,” ujarnya.
Selain pencegahan stanting dan eliminasi TBC, diakui Kadis, juga peningkatan imunisasi lewat program imunisasi campak dan rubella yang masuk program nasional. Dimana program ini masih ada kendala di Kota Ambon. Manakala beberapa komunitas Muslim masih menolak imunisasi tersebut. Tetapi adanya surat edaran dari MUI, perlahan banyak pihak mulai menerimanya, tetapi tak sedikit pula masih bersikukuh. Tentu karena upaya pihaknya memberi pengertian pentingnya imunisasi campak dan rubella, dengan mendatangi MUI dan anggota DPRD dari partai berbasis Islam guna melihat masalah ini.
“Ada satu sekolah di Air Salobar yang kepala sekolahnya langsung menulis surat untuk siswa-siswanya tidak boleh di imunisasi. Ini yang masalah, 190 siswa kalau misalnya kita mendapat dibawah 95 persen, berarti kemungkinan kejadian luar biasa (KLB) masih bisa terjadi. Suatu daerah dapat dikatakan bebas campak dan rubella, jika imunisasinya mencapai 90-95 persen. Kami bersyukur ada orang tua yang setelah diberi penjelasan dan memahami pentingnya imunisasi campak dan rubella, langsung inisiatif untuk anaknya imunisasi. Ada sekitar 40 orang,” bebernya.
Semua anak usia 9 sampai 15 tahun tambah Pelupessy, harus diberi kekebalan dengan imunisasi. Karena bisa saja suatu saat konsidi tubuh lemah, akibat ada virus. Berkaca atas banyak kasus terjadi di Jawa dan beberapa tempat di Maluku, akses transportasi begitu mudah, orang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, maka penyakit seperti ini bisa berpindah dengan kondisi demikian. “Walau belum ada kasus itu di Ambon, tetap harus imunisasi. Masa mau tunggu ada kasus dulu. Bisa saja bayi lahir sehat, entah lima bulan, tiba-tiba buta, lalu tuli, itu sudah ada virus dari campak dan rubella,” tutupnya. (MR-02)










Comment