AMBON,MRNews.com,- Kematian hingga pada kebangkitan Tuhan Yesus dari maut demi menebus dosa manusia atau disebut Paskah, dimaknai umat termasuk di Sektor Hikmat Jemaat Syaloom dengan berbagai cara, selain kebaktian syukur.
Ada puji-pujian, tradisi cari telur paskah tapi juga tak kalah penting ialah pawai obor anak-anak SMTPI Sektor bersama orang tua dan pengasuh, diiringi paduan Trompet “Syaloom Brass” untuk membangunkan warga Sektor sambut Paskah.
Rangkaian menuju kebaktian Paskah di pelataran Gedung Gereja Syaloom pukul 03.00 dini hari, Minggu (17/4), ditutup dengan prosesi Jalan Salib Via Dolorosa yang dilakonkan oleh civitas Angkatan Muda GPM Ranting Hikmat, SMTPI dan Orang Muda Katolik (OMK) di Batu Meja.
Prosesi Jalan Salib yang baru pertama kali ditampilkan ditingkat Sektor ini pun menghanyutkan umat dalam sedu, hingga tak sedikit yang meneteskan airmata, mengenang betapa sakit dan menderitanya Tuhan Yesus yang relakan diriNya untuk tebus dosa manusia.

Dalam Kebaktian Paskah, Pdt Ice Saloy dalam refleksinya sesuai bacaan Alkitab Lukas 23:56b, 24:1-12 menegaskan, Tuhan Yesus yang mati dan bangkit itu tidak minta umat untuk tangisi diriNya bahkan teriak puji namaNya. Akan tetapi bagaimana umat harus menjadi saksi-saksi kebangkitan.
“Memaknai kenapa Tuhan Yesus mati dan bangkit dalam kehidupan. Kita hidup karena kebangkitan Tuhan. Maka kita harus jadi saksi kebangkitan, lewat hidup sehari-hari baik sikap, tutur kata dan perbuatan,” ingatnya.
TubuhNya yang ditikam, disiksa hingga berdarah di Kalvari, sebut Pendeta Ice, adalah wujud kasih dan keteladanan tentang pengampunan.

“Kadang katong nyanyi, sorak sorai di Paskah. Padahal, hati masi saki deng orang lain, laeng seng suka laeng, suka bicara orang laeng pung tarbae. Cara-cara ini yang masih terjadi diera sekarang, sulit maknai arti Paskah,” imbuhnya.
Sesuai tema Paskah GPM tahun 2022 yakni Ada Kuasa Dibalik Batu yang Terguling, Pendeta Ice mengajak umat untuk memaknainya bahwa Tuhan Yesus bukan tempatnya ditengah orang mati, sebab dia hidup dan bangkit. Itu bukti kemahakuasaan Allah dan menunjukkan ada Pengharapan, Kasih, Hikmat dan Anugerah.
“Wartakan terus tentang kebangkitan Tuhan dan pemaknaannya ditengah hidup. Meski tidak terima, terus wartakan saja hingga ke ujung bumi. Sebab kita percaya, penderitaan apapun yang kita alami tidak akan pisahkan kita dari Tuhan,” harapnya.

Pendeta Ice lantas membandingkan figur negarawan dunia yang terkenal asal India, Mahatma Gandhi, yang sangat kuat sikap toleransi dan percaya tentang kasih Tuhan bagi kehidupannya, termasuk menjadi panutannya sebagai seorang Hindu.
“Belajar dari kisah Mahatma Gandhi, maka pesannya adalah di hadapan salib Yesus kita hanya pendosa, orang yang ditebus. Sebab itu harta, kekayaan dan kedudukan tidak ada arti, hanya sementara. Belajar dan terus sombayang itu bagian dari komitmen sukses selaku orang percaya,” pungkasnya. (MR-02)






Comment