JAKARTA,MRNews.com,- Sebagai kota yang pernah mengalami konflik sosial 20 tahun lalu dan sempat terpuruk bahkan tak dipandang bakal maju dalam waktu singkat, namun kota Ambon membuktikan telah bangkit dan berkembang menata kehidupan sosial masyarakat yang berbeda suku, agama, ras dan golongan menjadi kekuatan kesatuan. Bahkan bulan Januari 2019 lalu, kota bertajuk manise ini telah dinobatkan menjadi salah satu kota dengan tingkat toleransi paling tinggi di Indonesia oleh Kementerian Agama RI bertepatan dengan peringatan hari amal bakti Kemenag.
Untuk menegasikan posisi dan komitmen Ambon sebagai kota paling tinggi toleran di Indonesia, salah satu stasiun TV swasta ternama di Indonesia, Metro TV mengundang Walikota Ambon, Richard Louhenapessy untuk bercerita dan berbagi tentang toleransi dalam keberagaman di program acara Q&A, dengan tema “Tidak Bhineka, Tidak Indonesia”, di Grand Studio Metro TV, Jakarta, Rabu (24/4/19), yang program acaranya bakal tayang beberapa waktu kedepan.
Selain Walikota Ambon, terdapat juga narasumber Meiske Demitria Wahyu, Co-Founder SabangMerauke dan Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid. Dengan panelis yaitu penulis dan mantan jurnalis Maman Suherman, jurnalis senior Abdul Kohar, Kalis Mardiasih (GusDurian), Syukron ma’mun (tokoh agama), Danny (komika) dan youtubers, Martin Anugrah.
“Indonesia itu bhineka, terbentuk dari golongan, suku, dan agama, dan bersatu dibawah merah-putih dan Indonesia. Namun ditengah masyarakat, ada saja yang mengganggu kedamaian, ketentraman masyarakat, ia bernama “intoleran”. Masyarakat dibenturkan, diadu domba oleh berbagai cara. Namun masyarakat lain ada yang berdiri tegak, menyuarakan pentingnya demokrasi, pentingnya persatuan dan perdamaian. Atas dasar itu, Q&A bergerak terus menyebarkan nilai-nilai positif pentingnya rasa toleransi pada semuanya. Tanpa pandang, suku, agama, ras, dan golongan. Karena cukup melihat, bahwa kami sesama manusia, kami sesama masyarakat Indonesia,” ujar host Q & A, Andhini Effendi.
Walikota pada kesempatan itu menekankan bagaimana Ambon dari masa ke masa, dari kota konflik bisa bergerak positif, bangkit menjadi salah satu kota terbaik paling toleran di Indonesia saat ini, puncaknya dengan apresiasi pemerintah pusat lewat Kemenag RI, Januari lalu. Juga bagaimana cara menyatukan masyarakat yang berbeda suku, agama, ras, dan golongan (SARA), bersama menjaga kedamaian masyarakat dan agama yang dikaitakan dengan isu politik.
“Kekuatan sehingga semua itu bisa terjadi, tatkala 20 tahun lalu konflik namun kota ini sudah bangkit, maju, hanya karena kesadaran warga kota yang cinta damai, serta local wisdom dikedepankan dengan cara dialog dan ikatan pela gandong yang membuat masyarakatnya selalu harmonis meski ditengah perbedaan. Sebab perbedaan itu anugerah dan nilai perekat, bukan masalah. Kota Ambon sudah membuktikan itu dan harapannya terus terjaga hingga akhir khayat,” tandasnya.
Sementara Yenny Wahid lebih melihat bagaimana teladan seorang Gusdur yang diwariskan kepada para penerusnya, konflik intoleran yang sering terjadi, kota/daerah paling toleran dan intoleran dan menyikapi masyarakat yang mudah terpapar intoleran. Bersama Walikota Ambon pun, Yeni menitikberatkan tentang daerah dan peta perpolitikan. Apakah isu SARA berpengaruh dalam dunia perpolitikan, serta bagaimana membangun dan menumbuhkan sikap toleransi bagi masyarakat. Terutama cara meyakinkan masyarakat yang berbeda keyakinan, menjaga agar konflik tak terjadi lagi di daerah-daerah dan apakah SARA menjadi pembahasan laris di politik.
Sedangkan Co-Founder SabangMerauke, Meiske Demitria plus orang tua dan adik SabangMerauke menyoroti toleransi sebaiknya diajarkan sejak dini, dimana anak-anak bukan hanya diajarkan agar menghormati yang seagama, sesuku, tapi juga berbeda latar belakang dengannya. Alasan ini untuk menjadikan anak-anak pribadi yang bertoleran dan menyayangi siapapun yang berbeda dengannya. Juga latar beakang dan tujuan moral membangun movement ini, interaksi adik Sabang-Merauke dan orang tua, kendala yang ditemui dan hal paling berharga yang didapati dari perjalanan movement ini. (MR-02)










Comment